
.
.
.
ke esokan harinya,
"kalian mau sekolah dimana sayang?" tanya Xabara duduk didepan sikembar yang sedang menggambar karna hari ini mereka belum menemukan sekolah baru.
"Mommy? Ana boleh tidak belajar tentang racun? sekolah yang ada racunnya bisa Mommy?" tanya Ana.
"Rakitan Bom Mommy..?" sahut An juga.
Xabara memejamkan matanya, "apa kalian tidak bisa membahas itu kalau sudah besar hmm? sekarang umur kalian belum cukup 8 tahun tapi kenapa membahas hal yang dipelajari orang dewasa hmm?" omel Xabara.
An dan Ana menggaruk kepala yang tidak gatal, mereka kembali menggambar karna tidak mau dimarahi lagi oleh Xabara.
Xabara menghela nafas melihat tingkah anaknya, "kalau begitu kalian belajar dengan guru privat pilihan Papa kalian bagaimana? masalah hobi kalian itu Mommy tidak mau mengajari apapun, kalian harus belajar dulu lalu bahas dengan Mommy kalau sudah lulus sekolah."
An dan Ana berbinar seketika, "benar Momm? kami boleh belajar sama Mommy kalau sudah lulus?"
"hmmm!" jawab Xabara yang sudah tidak tau cara membuat anaknya mau belajar lebih giat.
"Mommy tidak boleh ingkar janji ya?" kata An mengulurkan jari kelingkingnya.
Xabara menyambut jari kelingking Putranya dan berjanji akan mengajari mereka dengan cara yang lebih ekstrim tapi mereka harus belajar walaupun lulus di umur 10 tahun sekalipun.
"yeyyeeeeee!!" Ana berdiri lalu melompat-lompat kegirangan.
An menyeringai senang sementara Xabara hanya memperhatikan saja tingkah anaknya,
"mereka harus lulus sekolah baru bisa mengasah kemampuan yang sudah aku ajarkan." batin Xabara yang tidak mengekang anaknya yang tetap teguh dengan pendiriannya yaitu mempelajari hobi ektrimnya itu.
sejak saat itu Sikembar hanya belajar di Rumah dibimbing oleh Guru Privat yang Rovert janjikan, hanya butuh waktu sekitar 2 tahunan saja sikembar sudah bisa mempelajari pelajaran anak SMA dan lulus dengan nilai terbaik, masalah Kuliah? mereka masih terlalu muda dan akan mempelajari hobi ektrim mereka terlebih dahulu.
kini usia Sikembar sudah genap 10 tahun dan Alena 6 tahun, Guru yang diutus Rovert ternyata berasal dari dosen kampus terlatih serta mengajarkan sikembar bahasa asing yang otaknya sangat encer dan mudah menangkap pengajaran dari dosen.
"Mommy?" Ana berlari ke Xabara yang tengah memasak di dapur dan memeluk Xabara dari belakang.
__ADS_1
Ratu disamping Xabara hanya terkekeh karna tau Ana pasti menginginkan sesuatu, Ana telah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik di usia yang masih terlalu muda itu.
Ratu sudah tau identitas Xabara yang seorang Ketua Higanbana 1 tahun yang lalu, awalnya Ratu terkejut dan syok berat sampai demam tinggi selama beberapa hari tapi lama-kelamaan Ratu bangga serta merasa beruntung memiliki menantu seperti Xabara, Ratu sudah lama memang mengagumi sosok Ratu Higanbana itu tapi tidak pernah menebak kalau sosok itu ada dalam diri Xabara yang bisa menyembunyikan identitasnya selama ini.
"Mommy janji akan mengizinkan kami belajar racun kan?" tanya Ana dengan semangat.
Xabara memutar tubuhnya menghadap Ana yang sudah tumbuh tinggi dari 2 tahun yang lalu, "Mommy tidak lupa dengan janji Mommy sayang, tapi An akan belajar di luar negeri dan kamu akan Mommy ajarkan dengan tangan Mommy sendiri bagaimana?"
"kalau An biarkan saja Mom, kami bisa berpisah kok..!" balas Ana dengan serius.
Xabara mengangguk, "kami belum memberitau An kalau pelatihnya ada di Luar Negeri, mungkin nanti akan dibahas oleh Papa kalian."
Ana memekik memeluk Xabara dengan erat dan berkata sudah tidak sabar akan berlatih racun di tahap teratas sementara yang Ana kuasai masih tahap inti saja belum ditahap paling utama.
.
Rovert, Xabara, Ana dan An berkumpul di Ruang Kerja Rovert.
"kamu yakin mau mempelajari tentang rakitan bom son?" tanya Rovert ke An memastikan lagi.
"tentu saja Pa..!" jawab An dengan serius pula.
"Papa sudah menemukan perakit Bom terbaik tapi hanya ada di Rusia, kamu harus tinggal sendiri disana tanpa pengawasan kami. yakin??" tanya Rovert serius.
An tersenyum tipis, "An sudah besar Papa..!"
Rovert berdecak, "apa yang bisa dilakukan anak umur 10 tahun hmm?"
An mengangkat bahunya acuh, "aku bisa belajar beradaptasi sendiri."
Xabara berpindah tempat dan duduk disamping An lalu memegang tangan An dengan lembut, "sayang? Mommy tidak bisa memasak untukmu, kamu yakin akan kesana? dia perakit bom dan penjinak bom terbaik tapi kamu akan berlatih disana selama 2 tahun sampai kamu benar-benar menguasai semuanya sayang."
An malah tersenyum lebar, "Mommy?"
"hmm?" sahut Xabara mengelus rahang An yang sangat tampan di usia nya kini.
Rovert diam saja melihat Xabara berbicara dengan An, Ia tidak cemburu hanya berharap Xabara bisa membujuk An supaya tidak pergi ke Luar Negeri di usia yang masih kecil itu tapi karna Janji mereka sebagai Orangtua harus basa-basi juga dengan menepatinya.
baik Rovert maupun Xabara selalu mengajarkan anak-anaknya untuk selalu menepati janji dan memegang teguh janji yang diucapkan supaya tidak menjadi sebuah kata-kata saja tapi harus dilaksanakan dengan tindakan tidak peduli sesulit apapun itu.
__ADS_1
"aku sangat menyukai apapun berbaur Bom Mommy, aku janji akan sering menghubungi Mommy ya? aku tidak akan macam-macam selain belajar saja." kata An dengan serius.
Xabara menatap bola mata An yang begitu haus akan ilmu yang akan didalaminya itu, Xabara mengerti tentang ilmu bom tapi tidak di tahap sempurna sementara An ingin mempelajari di tahap sempurna, kalau masalah racun Xabara memang yang terpuncaknya jadi bisa menurunkan ilmunya pada Ana berbeda dengan keinginan An bukan bidangnya Xabara.
"Sayang..? dia sudah bersikeras." kata Rovert.
Xabara menghela nafas pasrah, "tapi kalau Nenek kalian tidak memberi izin bagaimana?"
"An bisa mengatasinya Mommy." jawab An dengan senyuman.
Xabara tidak bisa berbuat apa-apa jika An sendiri sudah bersikeras, Rovert membuatkan passport An untuk belajar di Luar Negeri sedangkan kemampuan beladiri An sudah berada di tahap sempurna hanya perlu di asah dan dipertajam lagi saja.
.
Xabara sampai terkejut ternyata Ratu memberi izin pada An yang ingin belajar di Luar Negeri, Xabara sebenarnya tidak rela melepas An yang masih berumur 10 tahun tapi keras kepala An tidak bisa dilawan walau Xabara yang menasehatinya.
kini Keluarga Rovert mengantarkan An ke Bandara, Alena memeluk An sepanjang perjalanan seolah tidak mau melepaskan Abangnya demi mengantar Abangnya itu Alena sampai minta cuti sekolah.
"Abang harus baik-baik ya?" rengek Alena.
An mengelus kepala Alena, "abang akan baik-baik saja."
An berpamitan pada Rovert, Xabara, Ana dan Ratu. An tidak sedih sama sekali malah Keluarganya yang berat melepaskan An yang masih muda itu tapi masih saja keras kepala ingin belajar dan belajar saja.
Alena memeluk Ana sambil menahan tangis melihat An membawa koper memasuki tempat terbatas dimasuki pihak luar, An memperlihatkan passportnya ke pihak penjaga Bandara lalu An menoleh ke Keluarganya serta melambai dengan senyuman lebarnya yang jarang sekali diperlihatkan oleh An.
Xabara terkekeh, "kita semua sedih tapi dia malah tersenyum sebahagia itu, dasar tidak punya hati..!" umpat Xabara dengan berkaca-kaca.
Rovert merangkul Xabara dan mencium kening Xabara begitu juga Ratu yang menghapus air matanya saja melepas si sulung Maldev yang bertekat ingin belajar itu.
"dia senang sekali meninggalkan keluarganya kan?" tanya Rovert ke Xabara dibalas pukulan kesal oleh Xabara.
Rovert tersenyum, "dia akan baik-baik saja sayang, aku kenal pelatihnya dan aku sudah beritau dia untuk menjaga Putra kita dengan baik."
.
.
.
__ADS_1