Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
Bonus Chapter 4


__ADS_3

.


.


.


Xabara memeluk Alena dan menciumi wajah Alena yang tertawa kegelian lalu lari dari Xabara sambil mengelilingi sofa.


"adek nanti jatuh..!" teriak An.


Ana meloncat dari Kuda Robotnya tentu berlari menyusul adiknya yang berlarian, Xabara bangkit dan berteriak meminta Alena berhati-hati.


Ratu menyerahkan semua belanjaannya ke Pelayan Mansion lalu ikutan mengejar Alena yaitu si Putri Bungsu yang sangat dimanja di Mansion Maldev.


"dimana Rovert?" tanya Xabara ke Irish yang setia menunggu anak-anak bermain.


"di dapur Nyonya..!?" jawab Irish.


Xabara mengangguk lalu meminta Irish untuk menyingkirkan Kuda Robotnya An yang bisa saja menjadi batu sandungan anak-anaknya bermain sementara Xabara pergi ke dapur.


"Rovert?" panggil Xabara.


"ehh? iya sayang." jawab Rovert menoleh ke Xabara.


"buat apa?" tanya Xabara sambil duduk di westafel memperhatikan Rovert yang sedang mengaduk adonan kue.


"aku buat Kue ini tapi tidak pakai kacang sayang." jawab Rovert menunjuk layar ponsel Ana.


Xabara melihat itu pun akhirnya mengerti, "apa kita tidak bisa piknik?"


Rovert menghentikan gerakannya, "piknik? kamu tidak sibuk sayang?"


Xabara tersenyum, "aku mendengar permintaan Ana padamu yang ingin kita liburan, bagaimana sore ini kita berangkat?"


Rovert mengulum senyumnya, "tentu saja sayang..! mereka pasti bahagia."


sore itu juga Keluarga Rovert pergi piknik di pinggir pantai terdekat, mereka membuat perkemahan dengan riang terutama Alena yang masih mungil pun ikut membantu Papanya membuat tenda.


"yeeee!!" Alena yang paling kegirangan Perkemahannya telah selesai.


"ayo makan sayang..!?" teriak Ratu jadi koki yang memasak untuk Keluarganya.


"Lapaaarrrr!!" Ana berlari sambil menggandeng Alena ke arah Ratu sedangkan An berjalan santai padahal perutnya juga berdemo meminta jatah makan sebab energinya sudah kehabisan akibat terlalu banyak bermain dan membantu Rovert membangun Tenda untuknya.


Xabara menoleh ke Rovert yang sibuk memasang lampu dari batre untuk tenda mereka semua, "Rovert mau aku ambilkan?" tanya Xabara.


"boleh sayang..?" jawab Rovert dengan senang hati.

__ADS_1


Xabara pun berdiri dan berjalan ke arah Ratu mengambilkan makanan untuk Rovert, mereka makan berdua sementara Ratu makan bersama Cucu-cucunya yang tidak mengganggu kedua Orangtua nya yang sedang sibuk membuat lampu untuk tenda mereka.


"Rovert aku dengar kamu mau bangun sekolah ya? apa benar?" tanya Xabara dengan raut wajah penasaran.


"iya sayang..! aku bangun SMA, Kampus dalam 1 tempat yang akan aku pisahkan dengan pagar saja." jawab Rovert.


"Kampus juga?" tanya Xabara.


Rovert mengangguk, "sebenarnya lahan yang aku beli itu untuk membangun Rumah Sakit tapi karna Istriku sudah membuatnya maka aku buat sekolah dan Kampus yang megah kelak untuk anak-anak yang kurang mampu supaya tidak ada sistem kasta antara sikaya dan simiskin dalam lingkungan Kampus yang akan aku buat ini."


Xabara tertawa pelan, "kalau kamu bangun Rumah Sakit ya bangun saja kenapa aku jadi alasannya? lagian tempatnya juga berbeda kan?"


Rovert tersenyum lebar, "apa yang kamu bangun itu sama dengan apa yang aku pikirkan, kenapa aku harus membangun hal yang sama hmm? lebih baik aku bangun yang lain kan?"


"terserahmu saja." Xabara memasang wajah datarnya saja.


"aku buat nama sekolah yang akan aku bangun ini A3 Wolf" ujar Rovert serius.


"A3 Wolf?" beo Xabara.


"An, Ana dan Alena yang memiliki darah serigala dari Kanada." jawab Rovert yang akhirnya membuat Xabara tersenyum.


mereka menghabiskan waktu di tepi pantai melihat bulan, bintang, Tenda anak-anak diberi kelambu anti nyamuk bersama Ratu sementara Tenda Rovert dan Xabara hanya diberi obat nyamuk bukan kelambu.


.


Alena berlarian di tepi pantai diawasi oleh An dan Ana bersama Ratu juga.


"jangan dibawa jauh-jauh Alena main nak..?" teriak Ratu serius.


"Iya nek." jawab An dan Ana yang memang tidak akan sebodoh itu membawa adek kecil mereka bermain ke laut.


siang harinya,


Alena duduk dibawah pohon rindang jauh dari bibir pantai.


"adek mau susu?" tanya Ana memberikan minuman yang dibuatkan Xabara untuk mereka.


Alena menerima segelas susu coklat itu, "Papa?? Abang?" Alena menunjuk Rovert dan An yang bermain jetsky.


"kita tidak boleh adek..! Abang kan udah besarr.!" Ana memberi nasehat.


Alena mengerucutkan bibir mungilnya, "adek uga akan becall." kata Alena dengan bangga.


Ana terkekeh lalu mengelus kepala Alena dan duduk disamping Alena yang menonton keseruan An dan Rovert, lama-lama Alena tidak tahan ingin naik JetSky yang sama dengan Papanya.


Xabara dan Ratu sampai pusing sendiri melihat drama Putri kecil Maldev itu yang mulai mengeluarkan tangis buaya nya sehingga Rovert tidak berkutik tentu membawa Alena yang tadi nangis histeris malah paling kegirangan dengan wajah sembabnya ketika terkena angin pantai.

__ADS_1


.


Xabara menyewa kapal dan mereka semua menaiki kapal beramai-ramai termasuk Rovert bersama An. keseruan mereka bermain dipantai bukan Keluar Negeri melainkan jalan-jalan dalam negeri saja sudah sangat membahagiakan, Xabara memang memanjakan anak-anaknya tapi tidak memberi kemewahan ke anak-anak seperti cara Rovert dan Ratu.


setelah puas bermain Rovert membawa anak-anak ke pemandangan dalam laut, Alena begitu ceria melihat ikan-ikan besar bukannya takut.


malam hari di dalam Mobil,


"sudah kan?" tanya Xabara menoleh ke Rovert yang tertawa melihat kaca Mobil melihat Alena terlelap di pangkuan Ana sementara Ana tidur di bahu kanan Ratu sedangkan An tidur dengan bangku Mobil di miringkan 90°.


"sayang aku tidak menyangka hidupku akan lebih berwarna saat mereka datang dalam kehidupan kita." kata Rovert dengan serius.


Xabara tersenyum, "apa kamu diam-diam melatih An dan Ana, Rovert?" tanya Xabara berubah serius.


Rovert terdiam seketika melihat Xabara sesekali lalu Ia dengan kikuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"sampai ditahap mana?" tanya Xabara serius.


"hmm?? memanah..!" jawab Rovert.


"bagaimana kamu bisa tau sayang?" tanya Rovert penasaran.


Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "aku melihat baju mereka kotor dibuang ke tong sampah depan dan aku bisa mencium bau darah binatangnya."


Rovert menggaruk keningnya, "kamu tenang saja sayang..! mereka sama sekali tidak terluka, aku senang mengajari mereka yang mudah menangkap ilmu yang aku berikan."


Xabara diam beberapa saat, "aku ikut mengajari mereka..!"


Rovert tersentak, "kamu tidak marah mereka belajar diam-diam darimu?"


Xabara menoleh ke Rovert, "kamu sendiri yang mengatakan sekali Ibu memiliki darah mafia maka anaknya juga, aku tidak terkejut lagi mereka punya kemampuan itu."


Rovert senyam-senyum, "mereka pasti sangat senang kalau tau kamu mengajari mereka beladiri."


Xabara diam lalu Rovert mengatakan bahwa Sikembar ingin menjadi seperti Xabara yang dicintai banyak Orang sebagai Ratu Higanbana.


Xabara tersenyum mendengar cerita Rovert, "benarkah?"


"tentu saja sayang..! aku jamin dengan hidupku kalau anak-anak kita pasti akan mengikuti jejakmu sebagai penolong banyak orang." Rovert.


Xabara menggeleng kepalanya pelan, "aku tidak mau identitas mereka terbongkar sampai waktunya tiba mer.. ...?"


"sampai waktunya mereka tidak terkalahkan iya kan?" sambung Rovert.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2