Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
diam-diam suka


__ADS_3

.


.


.


Rovert yang baru saja tiba terkekeh pelan tanpa mengeluarkan suara sambil menutupi mulutnya.


"kamu menyalahkanku sayang?." batin Rovert dengan gemas.


Barrest melihat Xabara terus saja menangis memberi tisu dengan ukuran lebih besar, Xabara mengambil dari tangan Barrest yang kotak tisu sebelumnya sudah hampir habis akibat drama Xabara yang sangat dramatis.


"sayang?" Rovert datang mengikuti drama Xabara.


Xabara berdiri dari duduknya sambil sesegukan, mata Xabara yang memerah begitu juga hidungnya sangat memprihatinkan.


Rovert memarahi Barrest mengapa membiarkan Xabara mengatasi masalah itu tapi Barrest hanya menunduk mengatakan bahwa Xabara memaksa karna tidak mau merepotkan Rovert yang baru saja pulang dari luar Kota.


"sudah Rovert !? kenapa menyalahkannya? salahkan aku saja." Xabara membela Barrest.


"kenapa malah salahmu sayang? ini salahku yang main memutus akses bisnis siapa saja yang menyinggung Mommy ataupun dirimu." Rovert juga menyalahkan diri sendiri lalu memeluk Xabara.


Barrest menatap ke arah Lantai dengan pandangan yang sungguh datar, "mereka sedang drama scene apa ini? sungguh pasangan aneh. lagian ini kenapa Tuan Rovert malah ikutan akting juga?" batin Barrest.


Barrest perlahan melihat para wartawan yang berbisik-bisik mengasihani pasangan itu, dalam hal bisnis kekejaman itu biasa karna persaingan memaksa mereka harus seperti itu menutup akses siapapun yang berani menghalangi jalan mereka, jadi cara Rovert tidaklah salah.


"sudah-sudah !! kenapa kamu malah menjelaskan pada mereka? lebih baik kita pulang." ajak Rovert menggendong Xabara yang melingkarkan tangannya di leher Rovert.


Xabara masih sesegukan di sisi Rovert, "bagaimana aktingku?" tanya Xabara berbisik.


Rovert mengangguk, "sangat menakutkan !"


"apakah itu pujian?" bisik Xabara.


"semua yang membahas tentangmu sudah jelas adalah pujian." jawaban Rovert membuat Xabara diam saja sambil menghapus air mata buayanya.


diam-diam Xabara melihat Rovert, "kenapa tidak dari dulu kita bertemu Rovert? huuhh !! aku ingin membalas nyawa yang kau korbankan dulu demiku." batin Xabara.


Xabara memang sudah lama mencari sosok Pria yang menyelamatkannya saat masih kecil, hanya itulah alasan kuat Xabara mau menetap di Negara ini namun realita tidak sebanding dengan impian Xabara, Ia malah kesulitan menemukan Pria yang menolongnya karna berdasarkan bukti Xabara tidak bisa menemukan penolongnya bahkan wajahnya saja Xabara tidak ingat sebab malam itu Xabara sudah banyak menghirup asap hingga pandangannya tidak jelas.


.


di Apartemen,


"aku ke Apartemenku ya?" pinta Xabara.


Rovert tidak melarang hanya mengelus kepala Xabara lalu masuk ke Apartemennya, Xabara pun memasuki Apartemennya dan mencari Aya.


"Nona? besok pagi saya harus Operasi dan saya tidak boleh makan bagaimana ini Nona?." tanya Aya memelas.

__ADS_1


Xabara tersenyum tipis lalu mengusap pipi Aya, "tenang saja semua akan baik-baik saja."


"kenapa tidak Nona saja yang mengoperasi saya?." tanya Aya penasaran.


Xabara menggeleng kepalanya, "aku tidak punya sertifikat Legal untuk mengoperasimu."


Aya menghela nafas padahal Xabara pernah menyamar menjadi dokter residen pertama di Rumah Sakit terbesar di Kota demi menemukan sosok yang Xabara cari selama ini.


Xabara memegang tangan Aya, "aku menemukan Pria itu."


Aya membelalak, "ha? benarkah Nona? siapa Pria itu?" cecar Aya semangat.


"Rovert!!" jawab Xabara seketika senyuman Aya luntur.


"A-Apa?" Aya terlihat datar seperti baru saja di kerjai oleh Nonanya.


Xabara menceritakan intinya sampai Ia melihat luka itu dan bertanya pada Rovert, Luka terkena pukulan benda tajam saja cukup lama sembuhnya terkadang bisa membekas, apalagi luka bakar yang pasti sangat permanen jika tidak diOperasi plastik maka tidak akan sembuh.


.


ke esokan paginya,


Xabara mengantar Aya ke Rumah Sakit dan disambut langsung oleh Dr. Shen.


"Xabara?" senyum manis Dr. Shen.


Aya langsung ditangani karna Pasien khusus Dr. Shen, sementara Xabara menunggu Aya sampai berjam-jam lalu melihat Jam tangannya.


"apa Operasinya lancar?" gumam Xabara merasa khawatir.


Ceklek !!


Xabara berlari ke arah Dr. Shen, "Shen? bagaimana Aya-ku?"


Shen tersenyum manis, "Operasi berjalan lancar Xabara."


Xabara menarik nafas lega, sungguh Ia merasa senang Operasi Plastik di tubuh Aya sudah berhasil tinggal menunggu pemulihan saja.


"aku rasa Aya terlalu menahan rasa sakitnya selama ini tapi entah kenapa dia tidak mau diatasi langsung, apa dia berencana untuk memelihara rasa sakit itu selamanya?" Kata Shen penasaran.


Xabara mengangguk, "aku sering memergokinya ketika sakit tapi dia bersikeras tidak mau meninggalkanku."


Shen tersenyum saja tanpa berani menyentuh Xabara yang memang sangat sulit untuk ditakhlukkan, Shen menautkan kedua alisnya mendengar suara getar Ponsel.


"Ehh?" Xabara meraba saku bajunya dan Shen terkejut melihat Kontak di Layar Ponsel Xabara adalah Rovert.


"laki-laki?." batin Shen yakin kalau Rovert itu nama Pria bukan Perempuan.


"iya?" sahut Xabara.

__ADS_1


"apa kamu pulang Xabara? aku ingin mengajakmu makan malam diluar malam ini, aku harus ikuti Reunian Kampus di hotel !" Rovert.


"bukannya kamu Kuliah di Luar Negeri? kenapa bisa di Indonesia?" tanya Xabara.


Rovert menjelaskan lalu Xabara pun langsung setuju dan akan kembali setelah memastikan Aya sadar serta baik-baik saja.


"semoga saja anak itu cepat sembuh ya? aku yakin Ketua mereka nanti yang paling rugi kalau Anak itu tidak juga sembuh."


Xabara tersenyum saja, "sudah? jangan ganggu aku!"


Xabara menggeleng kepalanya sambil menyimpan Ponselnya, "kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Xabara tak sengaja melihat Shen.


Shen menggeleng kepalanya lalu mengajak Xabara ke meja kasir, Shen mendengar bisik-bisik Suster dan pengunjung RS kalau Xabara adalah Istrinya Rovert Maldev.


"Xabara sudah menikah?" batin Shen merasa jantungnya dihantam sesuatu sangat terluka tapi tidak berdarah.


"Nona? apa anda Istrinya Tuan Maldev?." tanya salah satu Suster.


Xabara terdiam, "bagaimana kamu bisa tau?"


"waahhh!! anda dilihat secara langsung jauh lebih baik Nona." puji Suster lainnya.


Xabara menundukkan kepalanya dengan anggun dan meminta mereka tidak menyebarkan Rumor yang membuatnya dalam masalah.


beberapa saat kemudian,


"Xabara kau sudah menikah?" tanya Shen.


"hmm? dengan Pria yang pernah menyelamatkan nyawaku dulu sewaktu kecil." jawab Xabara santai sambil meminum segelas jus yang dibuatkan khusus untuknya.


"jadi gosip itu benar?" Shen bergumam lirih.


Xabara menaikkan kedua alisnya, "kau sama sekali tidak menarik ya? apa kau tidak tau kalau aku sangat populer."


Shen tersenyum perih saja tapi Xabara tidak menyadarinya, selama ini Shen tidak mengungkapkan Perasaannya karna Xabara selalu saja sibuk mencari sosok Pria yang pernah menyelamatkannya sampai rela berpindah-pindah Rumah Sakit. Shen berharap Xabara tidak bertemu dengan Pria itu tapi kenyataannya Xabara menemukan sosok Hero dalam diri Xabara waktu kecil.


"ba-bagaimana pertemuan pertama kalian?" tanya Shen.


"hmm? tidak ada yang menarik seiring berjalannya waktu aku menyadarinya ketika melihat punggungnya terluka." jawab Xabara tenang.


"dia tau dirimu?" tanya Shen dan Xabara menggeleng.


"kenapa aku harus memberitaunya? biarkan saja dia menyadarinya sendiri." jawab Xabara lagi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2