
.
.
.
Randy pergi ke dapur lalu menarik lengan Xabara dengan kasar keluar dari dapur menuju tempat jemuran kain.
"apa yang kau lakukan ha?." bentak Randy dengan nada sarkas.
Xabara menepis tangan Randy, "aku tidak melakukan apapun."
"dasar itik jelek berani kau menepis tanganku." desis Randy dengan geram.
"yah..! aku tidak mau disentuh oleh tangan Pria yang sudah diberi bunga Higanbana oleh Ratu Kematian." jawab Xabara.
DEG!!
"apa katamu?." Randy mencengkram tangan Xabara lalu Xabara menendang tulang kering Randy yang meronta kesakitan.
"si*l sejak kapan tendangannya bisa sesakit ini?." batin Randy.
"aku tidak tau menau tentang kekasihmu itu, sekarang cepat ceraikan aku!." titah Xabara.
"kau fikir mudah minta perceraian dariku ha?" Randy menatap nyalang dan benci ke Xabara ditengah rasa sakit di kakinya.
Xabara tersenyum sinis, "kalau begitu aku akan beritau padanya aku ini Istrimu, menurutmu bagaimana pendapatnya saat kau mengenalkan padanya aku ini Pembantumu tiba-tiba aku mengaku bahwa aku istrimu? dia pasti jijik padamu."
"bed*bah jal*ng..! apa kau yakin bisa mengancamku?." Randy berusaha menggapai Xabara.
Xabara berpindah lalu mengeluarkan sebuah surat dari balik bajunya, "cepat tanda tangan!"
"dasar perempuan licik ! selain jelek kau juga licik." maki Randy.
"aku tidak minta bayaran apapun atas perpisahan kita, aku hanya ingin bebas dan tidak lagi mencari uang untuk Kedua orangtuamu yang suka menghamburkan uang padahal hutang sana-sini." kata-kata pedas Xabara.
"aku tidak akan menceraikanmu ! aku akan jual kau ke Algoj*." desis Randy dengan penuh dendam.
memang Randy sejak dulu sangat membenci gadis berkulit hitam ini yang dipaksa menjadi Istrinya, jika bukan karna wasiat Kakeknya sudah lama ditendang Xabara sejak dulu.
Xabara tersenyum sinis, "kalau begitu akan aku kadukan betapa buruknya kau jadi Pria pada kekasihmu itu."
Randy melototkan matanya saat Xabara berlari memasuki Rumah, "si*l !! seharusnya aku bunuh dia dari dulu."
Randy mengumpat geram sambil mengikuti Xabara yang sudah memainkan perannya.
"APA??" Rani berdiri seketika mendengar kabar Xabara dengan raut wajah syok.
__ADS_1
"anda mencintainya kan? dia ingin menikahi anda tapi tidak mau menceraikan saya yang jelek ini." ujar Xabara.
"si*l wanita buruk rupa ini." Nandini dan Bando mengepal geram.
"jangan percaya padanya nak..! dia hanya pembantu tidak tau malu." kata Nandini dengan menahan amarah ke Xabara.
"ini buktinya..!" Xabara menunjukkan surat perceraiannya ke Rani.
Bando ingin merebutnya tapi Rani sudah mengambilnya dan terbelalak tak percaya lalu melihat Xabara dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"benarkah itu Tante? kenapa Randy mau menikahi perempuan sepertinya? seharusnya dia diceraikan saja." kata Rani berubah kesal.
Randy baru saja datang ingin sekali mencekik leher Xabara jika bukan karna ada Rani disini. namun, wajah baiknya harus tetap dipertahankan.
"sayang?" Randy mendekati Rani dan tangan Rani mengudara sehingga Randy tidak berani mendekati Rani.
"kau pilih aku atau dia..? aku tidak mau menjadi yang kedua." Rani menunjuk Xabara dengan sinis seperti membenci Xabara.
diam-diam Xabara tersenyum sangat tipis, "bagus..! wanita ini sangat pandai diandalkan." batin Xabara.
"sayang? tentu saja aku memilihmu, dia hanya pembantu gratis di Rumah kita." bujuk Randy.
"aku memang jelek tapi aku tidak mau jadi perempuan bodoh..! aku terima apapun yang kau lakukan tapi tidak untuk menikah lagi, kakek Eno sudah berjanji padaku jika kau melanggar janji itu maka kau wajib menceraikanku."
"ceraikan saja dia Randy..! kenapa kau mempertahankannya?." Bando bersuara.
Randy berusaha menjelaskan kalau Xabara adalah penangkal keburukannya ke Rani, Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas memang inilah alasan Randy tidak mau menceraikannya, maka dari itu Xabara menggunakan trik ini.
"ceraikan dia..!" teriak Rani.
"iya sayang iya." jawab Randy mengalah langsung menandatangani surat perceraian itu.
Xabara tersenyum puas menerimanya sementara Nandini dan Bando menarik Xabara untuk diberi pelajaran sambil merobek kertas itu nanti, mana mungkin mereka mau melepas Xabara yang bisa membayar hutang-hutang mereka berdua.
"sudah kan sayang?." bujuk Randy lalu Rani mengangguk memeluk Randy seperti tidak marah lagi saja.
"saatnya membantumu!." batin Xabara lalu menepis kedua tangan Nandini dan Bando yang tersungkur seketika.
"asal kau tau setiap wanita mendekatinya pasti diberi Bunga Higanbana!" ujar Xabara tersenyum tipis.
Randy terbelalak begitu juga Nandini dan Bando yang berusaha bangkit dengan lengan berdarah juga kepala terluka.
"a.. apa maksudmu?" tanya Rani melepaskan diri dari Randy.
"jangan percaya dia sayang, dia hanya berusaha memisahkan kita." bujuk Randy mendekat tapi Rani menggeleng kepalanya.
"kalau kau tidak percaya cari tau saja di tempat dia bekerja..! 5 Perempuan yang meninggal karna Bunga yang sama, dia adalah target Ratu Kematian dan aku jamin kau bisa saja menjadi korban selanjutnya." kata Xabara langsung melenggang pergi dari sana sambil tersenyum puas.
__ADS_1
"Xabaraaaaa!!" teriak Nandini dengan muka merah padam.
"si*l ." umpat Bando yang tidak menyangka Xabara akan berbuat sejauh ini.
Rani seketika menjauh dari Randy.
"jangan percaya perkataannya sayang, dia berbohong." bujuk Randy dengan memelas.
"aku akan cari buktinya sendiri, aku tidak mau menjadi korban selanjutnya dari pengirim Bunga Higanbana." kata Rani berlari meninggalkan Randy dengan wajah pucat.
hening seketika,
"nak?" panggil Nandini.
"Ibu lihatt?? aku baru saja bahagia sekarang itik jelek itu menghancurkan kebahagiaanku." desis Randy lalu berteriak seperti orang gila.
.
Xabara mengangkut motornya dari Rumah Keluarga tidak tau diri itu dan bertemu dengan Rani di tepi jalan, "terimakasih!" ucap Xabara.
Xabara memang lembut pada perempuan yang mau membantunya tapi sangat berbeda saat Xabara menghadapi Makhluk berjenis kelamin laki-laki.
"sama-sama Nona..! Terimakasih juga bayarannya dan sisanya biar saya yang urus." jawab Rani tersenyum puas melihat nominal yang ditransfer oleh Xabara.
mereka pun langsung berpencar dan Xabara kembali ke Apartemennya, Ia melihat berkas yang sudah ditandatangan oleh Randy.
"akhirnya aku terbebas dari penjara kecil itu, aku yakin Pria itu sedang mengamuk sekarang." seringai Xabara lalu memejamkan matanya sambil menarik nafas lega berkali-kali.
sebenarnya Xabara bisa saja menghabisi 1 Keluarga itu tapi setelah semua yang mereka lakukan pada Xabara yang berpura-pura lemah demi identitasnya membuat Xabara harus di betah-betahin disana dan akan balas dengan yang lebih buruk dari kematian.
"kehidupan Xabara si kulit hitam akan dimulai dari esok hari, semoga sukses untuk dirimu sendiri Xabara." oceh Xabara pada dirinya sendiri.
Xabara memang kejam tapi sebenarnya Ia adalah gadis yang imut jika mengenalnya lebih dalam lagi.
drrrttt....!
Xabara mengangkat panggilan Aya yang mengucapkan selamat padanya serta mengajaknya berpesta di Bar.
"sebenarnya ada sesuatu yang harus kami awasi juga Nona, apa Nona mau bergabung?." tanya Aya.
Xabara tersenyum tipis, "baiklah..! sudah lama sekali Nona XeniaXabara tidak keluar dari kandangnya."
Aya terdengar tertawa senang di ujung telfon lalu Xabara menutup ponselnya dan langsung muncul notif searlock tujuannya nanti malam.
.
.
__ADS_1
.