
.
.
.
puluhan Pria bayaran Noven menyerang Rovert yang dengan cepat menyerang balik. Xabara diam menonton setelah tersadar dari ucapan Rovert yang benar-benar mengguncang hatinya yang keras seketika melembut mendengar ucapan itu.
"aku akan melindungimu nak!" ucapan itu terngiang-ngiang kembali dalam ingatan Xabara.
Xabara melihat Rovert yang dikepung segera bergabung melawan para bawahan yang dibayar oleh Noven, Xabara menendang Punggung salah satu diantara mereka dengan heelsnya sampai lawannya tersungkur.
"Si*lan." umpat Pria itu segera bangkit.
Xabara pun berputar di udara lalu menendang yang lain hingga terpelanting ke samping, Noven tercengang melihat aksi Xabara yang sangat seksi.
"Xabara kau?" Rovert sempat lengah lalu segera menangkis tangan yang hendak melayang ke dirinya tapi perutnya ditendang.
Xabara melihat itu pun menyerang Pria itu lalu tiba-tiba lehernya Xabara dipeluk oleh Pembun*h bayaran dibelakangnya.
"cantik! kenapa kau harus ikut campur?" bisik lelaki itu.
Xabara mengangkat kakinya menendang Pria didepannya dengan kencang hingga mengenai kawanannya yang lain, lalu Xabara meremas tangan yang merangkul lehernya dan membantingnya.
"ahh?"
Xabara menginjak tangan itu dengan dingin, jeritan pilu keluar dari bibir Pria itu yang lainnya hendak membantu tapi ditinju oleh Rovert yang menolong Xabara.
Rovert mengangkat pinggang Xabara dan memindahkannya dibelakangnya, "Xabara tetap dibelakangku!" pinta Rovert.
Xabara mendelik kesal, "aku belum mematahkan tangannya."
"tangannya sudah patah." jawab Rovert Pria itu dibantu oleh Pria lain dan terlihat olehnya tangan lelaki itu gemetar.
hap!!
pinggang Xabara di peluk dari belakang oleh Noven, Rovert hendak membantu Xabara tapi pemb*nuh Bayaran Noven pun tersisa kembali menyerangnya.
"kau ternyata sangat hebat kakak cantik." kata Noven.
Xabara menginjak kaki Noven tapi dengan Cepat Noven memindahkan kakinya lalu saat Noven lengah Xabara memukulkan sikutnya ke perut Noven yang meringis hingga pelukannya melonggar, Xabara memutar tubuhnya dan berpindah dibelakang Noven dengan gerakan cepat Xabara mematahkan leher Noven yang entah masih hidup atau mati detik itu juga.
"akibat berani menyentuhku!" kata Xabara dengan santai lalu menoleh ke arah Rovert.
Xabara membantu Rovert hingga mereka berdua berhasil menjatuhkan puluhan Pemb*nuh bayaran itu, tidak ada luka sama sekali ditubuh keduanya selain kelelahan saja.
"kenapa hari ini aku sial sekali?" gerutu Rovert mengusap bajunya dengan kasar.
__ADS_1
Xabara berjalan ke arah lain tapi kakinya ditahan oleh salah satu Pemb*nuh bayaran yang masih sadar segera Xabara menendangnya dengan kuat hingga Pria itu mengeluarkan darah dan kehilangan kesadarannya.
"Xabara?" Rovert melompati banyak tubuh Pria yang bergelimpangan dijalanan, Ia memegang bahu Xabara.
Xabara menatap Rovert dengan datar, "aku baik-baik saja! kau?"
Rovert mengangguk lalu membenahi rambut Xabara yang sungguh seksi dengan anak rambut yang basah itu.
"ayo kita kembali !" ajak Rovert segera menggendong Xabara yang sontak saja memegang bahu Rovert.
"aku baik-baik saja." Protes Xabara.
Rovert diam sambil melangkahi pemb*nuh bayaran yang telah dikalahkan oleh Xabara dan Rovert.
Xabara meminta diturunkan tapi Rovert tidak berbicara sepatah katapun terus saja menggendong Xabara walau lelah tapi Rovert tidak mau menurunkan Xabara.
"ada apa ini? kenapa ada yang berbeda?" batin Xabara.
"Rovert aku bisa jalan sendiri, apa kau tidak lelah menggendongku sejauh ini?" tanya Xabara akhirnya menyerah dari kebungkamannya sejak sepanjang jalan tadi.
Rovert diam saja hingga Xabara kesal, "apa kau mendiamiku? kau tuli ya?"
" ... ??"
Xabara sangat kesal pada Pria sempurna yang tengah menggendongnya itu, "begini rasanya saat didiamkan? berani sekali dia mendiami Ketua Mafia Higanbana sepertiku." batin Xabara.
"aah? Rovert turunkan aku!" pekik Xabara dengan kesal sejak tadi didiamkan oleh Pria bermuka dingin dan datar ini.
sekali Rovert mengangkat tubuh Xabara lagi sampai bibir Xabara mengenai leher Rovert, "diamlah!" kata Rovert meletakkan bibirnya di kening Xabara.
Xabara terdiam di leher Rovert, aroma tubuh Rovert sangat menggelitik dibenaknya bukan jijik tapi malah suka.
Rovert terus saja berjalan sampai benar-benar telah tiba di Apartemennya, Rovert tetap tidak mau menurunkan Xabara ketika hendak memasuki Lift.
"sudah sampai kan? turunkan Aku !?" pinta Xabara.
"tekan Liftnya !?" pinta Rovert yang masih belum mau menurunkan Xabara.
Xabara melototkan matanya, "kau?"
"cepatlah!" pinta Rovert melembut.
"Kau mencoba mencari kesempatan ya?" tanya Xabara dengan tajam.
"Kakimu bisa terluka kalau berjalan dengan heels ini, aku menggendongmu supaya kakimu tidak terluka." jawab Rovert dengan wajah datarnya itu.
"aku bisa menentengnya." jawab Xabara ketus.
__ADS_1
"telapak kakimu yang seperti kapas itu bisa tergores." jawab Rovert lagi.
"aku tidak mau melepaskan sepatuku untuk melindungi kakimu, jangan harap aku mau memberikan sepatuku ke kakimu atau kau yang ingin aku bersikap seperti itu?" cecar Rovert menuduh Xabara mengincar perhatiannya.
Xabara melebarkan matanya, "percaya diri sekali kau?"
Rovert tersenyum tipis, "cepat tekan Liftnya.!"
Xabara pun menekan tombol Liftnya sambil menatap sengit Rovert yang bisa-bisanya berpikir Xabara tengah mencari perhatiannya hanya karna Xabara mengatakan Rovert mencari kesempatan.
"dia bisa memutar balikkan Fakta! Pria Licik!!?" batin Xabara.
tindakan Rovert dan Xabara itu sangat manis dilihat oleh beberapa orang yang lalu lalang disekitar mereka tanpa ada yang tau Xabara tengah dendam membiarkan tangan Rovert patah menggendongnya yang tidak mau juga menurunkannya, Rovert sangat ahli menutupi perasaannya pada Xabara.
"aku sangat mengenal Seseorang yang Punya harga diri yang tinggi sepertimu sayang." batin Rovert tersenyum sangat tipis melihat Xabara menekan sandi Apartemen mereka tapi tangan lainnya masih melingkar di leher Rovert.
.
Rovert menurunkan Xabara di Ranjangnya lalu Ia bangkit dan berdiri gagah didepan Xabara yang mendongak tajam ke Rovert.
"aku akan tidur dikamar lain, istirahatlah !" kata Rovert lalu langsung balik badan meninggalkan Xabara tak lupa Ia menutup pintu Kamar Xabara.
Xabara mendengus, "kalau bukan karna dia penyelamatku dulu sudah aku cekik dia sedari tadi." geram Xabara.
Xabara melepaskan heelsnya yang memang ada luka di sudut jari kelingking kakinya karna luka dari Heelsnya. Xabara tidak tau apakah harus senang dengan perhatian Rovert yang melindungi kakinya supaya tidak terluka terlalu parah.
"dia sangat menyebalkan." gerutu Xabara sambil meregangkan jari-jari kakinya yang terasa kaku sejak tadi.
tanpa sepengetahuan Xabara kalau Rovert hanya ingin melindungi Xabara tapi tidak melukai harga diri Xabara dengan membiarkan Xabara kesal pada Rovert yang menganggap Xabara mencari perhatiannya.
di kamar lain,
Rovert yang tengah berpakaian mengulum senyumnya, "besok saja aku minta janji Xabara yang mau memberitau alasan kenapa dia berubah padaku, dia jadi lebih nurut dari sebelumnya ya walaupun tidak 100%."
"hmm?? mungkin masih 30%." sambung Rovert lalu terkekeh mengingat tingkah bar-bar Xabara.
"Ratu Higanbana memang sangat bar-bar seperti yang dikatakan kebanyakan orang." gumam Rovert lalu tiba-tiba punggungnya terasa nyeri.
"ahh? ini pasti karna aku terlalu memaksakan diri tadi." gumam Rovert melakukan peregangan tubuh untuk menghilangkan rasa sakit di punggungnya.
Lengan Rovert memang lelah menggendong Xabara sepanjang jalan tapi rasa bahagianya itu dapat menggendong Xabara mengalahkan rasa sakit dilengannya.
.
.
.
__ADS_1