
.
.
.
Rovert memeluk Xabara dengan lembut langsung membuat Xabara terpaku, Xabara mengerjab-ngerjabkan matanya padahal ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan.
"aku hampir saja berhenti bernafas melihatmu berkelahi dengan Mafia itu, aku tau kamu kuat sayang tapi kamu tetap perempuan yang harus aku lindungi apalagi kamu sedang mengandung anakku terlepas dari apapun statusmu." ujar Rovert dengan lirih.
Xabara membeku ditempat tidak ada hal yang manis tapi mengapa kata-kata Rovert seperti menembus relung hatinya yang sebeku es.
"lain kali jangan bertindak seperti itu sayang !!?" pinta Rovert.
"kamu boleh melawan manusia manapun tapi jangan Ketua Mafia, aku bisa mengalahkannya walaupun mereka berkomplot menargetkanku." sambung Rovert lagi.
Xabara diam, "walaupun kau babak belur?"
"hmm !!? aku lebih baik patah tulang rusuk daripada anakku keguguran dari rahimmu." ucap Rovert dengan tulus.
Xabara tersenyum lalu membalas pelukan Rovert, "kau sangat menyayangi anak ini ya?"
"iya!? sangat, dia adalah pewarisku." balas Rovert.
Xabara terkekeh, "jika anak ini lahir kau akan jatuh miskin."
Rovert tersenyum, "aku tidak sabar menunggu hari itu dan pada saat itu aku akan membawamu tidur dipinggir pantai."
Xabara memukul punggung Rovert, "siapa yang mau tidur dipinggir pantai denganmu heh?"
"bukankah anak Kita yang kaya? kamu juga akan jatuh miskin sayang." Rovert seakan membalas kata-kata Xabara.
Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "kau pintar sekali memutar balikkan kata-kata."
"itulah keahlianku." balas Rovert tersenyum tampan dibahu Xabara.
Xabara melepas pelukannya dari Rovert, "ayo kita kembali ke Acara!"
Rovert pun mengangguk sambil merangkul bahu Xabara mereka berjalan kembali ke Acara yang ternyata dicari oleh Ratu, Taylor dan Lienda.
"kami baik-baik saja Mom, Tante." ucap Xabara.
Acara pun berjalan lancar walau sempat terkendala karna kehilangan Xabara dan Rovert beruntung saja semua sudah di kendalikan Ratu bersama Taylor, Xabara maupun Rovert tidak memikirkan hal sebelumnya.
Xabara menoleh ke Rovert, "Rovert di juluki Serigala Hitam apa sebelum menghabisi 6 Pria WNA itu pernah menghabisi orang?"
__ADS_1
tiba-tiba saja Xabara merasa ingin tau masa lalu Rovert yang sebagian ada tidak diketahuinya tapi Ia enggan bertanya.
Rovert menoleh ke Xabara yang terkejut segera melihat arah lain hal itu membuat Rovert gemas dan merangkul pinggang Xabara mencium pelipis Xabara tanpa malu.
Ratu dan yang lainnya tertawa sedangkan Xabara tidak marah namun wajahnya memerah diperlakukan seperti itu oleh Rovert.
"tanyakan apapun itu nanti di Kamar kita sayang." bisik Rovert.
Xabara diam saja pura-pura acuh padahal hatinya menghangat Rovert tau apa yang Ia pikirkan tanpa berbicara. Rovert tau kalau Xabara itu hanya mempertahankan harga dirinya oleh sebab itu biarlah Rovert yang menurunkan harga dirinya demi bersama dengan Xabara.
Ratu menuntun Xabara ke tempat makan, "kamu mau apa sayang?"
"tidak usah mom!!? aku tidak selera makan." jawab Xabara.
"tidak bisa sayang kamu harus makan, coba katakan sama Mom mau makan apa? biar Mom buatkan." tanya Ratu dengan lembut merapikan anak rambut Xabara.
Xabara tampak berpikir, "Pasta pedas!"
"baiklah sayang, Mom buatkan langsung ke Dapur gedung ini tapi kamu jangan kemana-mana ya?" pinta Ratu yang dibalas senyuman manis oleh Xabara.
Ratu memang sangat memanjakan Xabara begitu juga sebaliknya, lalu Ratu segera pergi berbisik ke Lienda bersama Taylor yang mengikuti Ratu.
Xabara diam di tempat duduknya sambil melihat arah lain dan tiba-tiba Ia melihat seorang Wanita yang memandang seseorang, awalnya Xabara tidak peduli lama-lama Ia juga penasaran siapa yang ditatap oleh Wanita itu sampai tidak berkedip.
betapa terkejutnya Xabara yang ditatap wanita itu adalah Rovert, "Ehhh? apa itu jal*ng yang dimaksud Rovert?" gumam Xabara menebak.
Xabara teringat Rovert pernah bilang dipeluk jal*ng sehingga Rovert mandi menggosok badannya tidak sadar terluka, Rovert jijik di sentuh wanita jal*ng begitu juga Xabara.
"kenapa aku jadi kesal?" gumam Xabara menekuk kedua alisnya lalu Ia melihat perutnya.
"pasti kamu yang kesal kan anakku? kamu tenang saja Mom akan menjaga Papamu itu hanya untukmu seorang." Xabara berbicara sendiri sambil mengelus perutnya.
Ketika Xabara hendak bangkit Ia didekati oleh Madam Key seorang Desaigner yang pernah menolak Xabara hanya demi Model Ariel Terre yang telah lama meninggal.
"No-Nona?" gagap Madam Key.
Xabara melipat kedua tangannya, "ada apa?"
"No-Nona sa-saya ingin meminta maaf, saya tau kalau semua sudah terlambat ta-tapi saya tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Nona." ucap Madam Key dengan tergugu-gagap.
"iya, aku tidak dendam padamu tapi sepertinya pelayan yang kau pecat itu dendam padamu, apa kau sudah meminta maaf padanya?" sambar Xabara.
"su-sudah No-Nona, di-dia menjadi Orang Kepercayaan Toko Berlian milik Desaigner Taylor." balas Madam Key.
Xabara menyunggingkan senyumnya, "anak itu berkembang sangat pesat."
__ADS_1
Madam Key diam menundukkan pandangannya sambil ragu-ragu meminta bantuan Xabara.
"aku tidak akan membantumu cari saja Model lain dan aku punya rekomdasi Model, apa kau mau menggunakannya?" tanya Xabara.
Madam Key segera melihat Xabara tampak serius mendengarkan, awalnya memang sempat kaget Xabara seperti tau maksudnya.
"Enderita !!" jawab Xabara.
"Enderita?" gumam Madam Key.
tanpa meragukan Xabara segera Madam Key mengangguk mengerti, "Terimakasih Nona!!? saya akan menggunakan Model yang anda rekomendasikan."
Xabara mengangguk kecil lalu Madam Key pun pergi setelah berpamitan pada Xabara.
Xabara tersenyum tipis mengingat tentang Enderita yang pernah Ia temui di Toko Perhiasannya.
Flasback On,
"Ender? kenapa kau harus ke Toko ini? kau fikir mampu membeli perhiasan disini ha?" ejek teman sekolah Enderita yang ternyata mereka sama-sama seorang Model.
"aku bisa menyicilnya." jawab Ender dengan tenang tanpa terganggu oleh ejekan temannya itu.
"apa kalian akan melayani rakyat jelata ini?" tanya wanita sombong itu dengan penuh ancaman ke Pelayan Toko perhiasan Tiffany.
"iya Nona..! kami harus melayani semua yang mau menyisihkan waktu mereka untuk mampir ke Toko Kami."
"walaupun dia tidak membeli?" sinis Wanita sombong itu merendahkan Enderita.
"iya Nona." jawab Pelayan toko dengan ramah.
Xabara mendengar percakapan mereka dan Ia juga tau Enderita ternyata membeli kalung Liontin sebagai hadiah untuk Ibunya yang sedang sakit, Enderita bukan seorang Model terkenal karna kurang koneksi dan menurut Xabara dia cocok menjadi Model papan atas dengan kepribadian sederhananya itu terlebih lagi Ia berjuang demi Ibunya yang sakit.
Flasback Off,
"sisanya kau yang berjuang Ender, balas pembulimu dengan kerja kerasmu." ucap Xabara pelan lalu melihat ke arah wanita yang tadi masih memandang Rovert.
"haissh..? moodku langsung buruk." gerutu Xabara sambil mengelus perutnya.
Xabara yakin pasti anaknya yang cemburu Papanya dilihat oleh wanita lain bisa saja punya saudara tiri, padahal Xabara sendiri yang meminta Rovert berjanji padanya Rovert akan memberikan semua warisannya pada Anaknya walau punya anak lain. Xabara menyelamatkan harga dirinya dengan menyalahkan efek calon anaknya yang cemburu sejujurnya hati Xabara yang panas.
.
.
.
__ADS_1