
.
.
.
Xabara membawa Aya memasuki panti itu dengan alasan ingin melihat Keluarga lama, mereka diberi izin masuk setelah melewati berbagai pemeriksaan.
"saya berjaga di luar Nona!" ujar Aya lalu Xabara mengangguk tenang.
Xabara memasuki Ruangan tempat pengobatan Nandini yang sangat buruk, "bedeb*h itu brengs*k sejati, sesuai dengan prediksiku dia memang membuang ibunya." batin Xabara menyunggingkan senyum tipisnya.
"Ibu?" panggil Xabara menyeringai.
Nandini memutar kursi rodanya dengan sebelah tangannya yang berfungsi, Ia kaget melihat Xabara yang hitam ada dihadapannya.
"K--Kauu?? se--sedang apa di--disini?" tanya Nandini dengan tergagap melihat sekeliling.
Nandini sangat takut mantan menantunya balas dendam sementara Ia tidak cukup kuat untuk membela diri karna separuh badannya tidak berfungsi bahkan saat berbicara saja butuh perjuangan.
"kenapa Bu?? apa kau takut aku kembali menemuimu untuk balas dendam?" Xabara melangkahkan kakinya mendekati Nandini yang mendorong kursi rodanya kebelakang.
"Ja--Jangan macam-macam ya? a--aku akan melaporkanmu pada dokterku." bela Nandini.
Xabara tertawa kecil, "Bu sepertinya kau salah faham akan sesuatu, aku tidak pernah melukaimu sedangkan melihatmu seperti saja sudah membuatku senang."
Nandini berkeringat dingin, "Ja--Jadi apa yang kau lakukan disini?"
"aku ingin memastikan kehidupanmu disini sebaik apa? jika baik maka akan aku rubah menjadi buruk kalau buruk pasti aku akan menambah lebih buruk lagi." kata Xabara.
Nandini seketika berteriak tapi Xabara sudah menyumpal mulut Nandini yang menangis ketakutan, Xabara suka sekali melihat ketidakberdayaan wanita ini.
"ya ampun Ibu!! jangan membuatku terlihat jahat oleh mereka jika kau melakukannya lagi aku yakin kau akan hancur oleh anakmu sendiri, bagaimana rasanya punya anak yang dibanggakan dan ternyata dialah yang sudah mencampakkanmu ke Panti Jompo ini, asal kau tau disini hanya orangtua yang tidak punya kerabat keluarga serta anakmu sendiri."
Nandini membeku ditempat, "T--Tidak anakku tidak mungkin membuangku, dia hanya bilang tempat ini akan merawatku dengan baik lalu aku akan pulang kembali padanya." batinnya.
Xabara tertawa seperti tau perkataan hati Nandini. "dia bahkan baru saja dipecat oleh atasannya." kata Xabara membuat Nandini melototkan matanya dengan sebelah anggota tubuhnya yang masih berfungsi.
Nandini tidak percaya perkataan Xabara yang pasti berbohong saja supaya keadaan Nandini semakin memburuk.
"terserah kau saja !!? jika Ibu tidak percaya bisa dirasakan seminggu ini, kalau dia memang tidak datang maka ucapanku benar." kata Xabara enteng lalu meletakkan sebuah ponsel di dekat Nandini.
__ADS_1
"disini sudah ada nomor Randy!! hubungi dia dan minta dia datang." sambung Xabara.
Xabara langsung pergi setelah membuat pikiran Nandini terguncang.
di luar Aya langsung mendekati Xabara, "Nona??"
"aku hanya mengguncang kewarasannya !!" balas Xabara yang mengerti rasa penasaran Aya.
mereka berdua pun pergi dari sana, dalam perjalanan Xabara dan Aya melihat banyaknya Mobil yang sedang terkena kemacetan lalu lintas.
"apa Nona mau saya melihatnya?" tanya Aya.
Xabara melihat sekitar, "kita tunggu beberapa saat lagi." balas Xabara memilih diam saja didalam Mobil.
"baik Nona." jawab Aya tak lagi bersuara.
hampir 2 Jam kemacetan itu terjadi dan belum ada tanda-tanda Mobil akan bergerak walau hanya sedikit.
"Nona sepertinya ada hal yang serius didepan sana." ujar Aya.
Xabara mengangguk lalu kembali melihat sekitar ternyata banyak Mobil kosong dan sebagian ada yang bersembunyi ketakutan di dalam Mobil.
"saya keluar sebentar Nona, ada orang yang baru saja kembali dari arah sana." izin Aya dan Xabara mengangguk.
"didepan ada 2 Mafia sedang bertarung hebat Nona !! bagaimana ini Nona? pengemudi dari arah sana juga terjebak macet kalau tidak ada orang yang mau bertindak melerai perkelahian keduanya geng besar Mafia itu maka semua Mobil juga tidak akan jalan berjam-jam."
"Mafia besar?" beo Xabara.
"iya Nona !! Lios dan Ray." jawab Aya.
"Ray? kenapa dia tiba-tiba mau turun tangan bertarung? apa kau tau masalah mereka? apa ada desas-desus perkelahian mereka didengar oleh bapak tadi?" tanya Xabara.
"saya tidak tau Nona !! polisi tidak ada yang berani turun tangan, bahkan para Mobil untuk putar balik pun tidak bisa." jawab Aya.
Xabara merasa heran mengapa 2 ketua Mafia besar itu berkelahi di tengah jalan besar? apa yang mereka rencanakan? atau masalah besar apa yang menimpa keduanya.
"kita lihat !" ajak Xabara dan Aya menganggukkan kepalanya.
Xabara dan Aya ternyata sudah ditengah-tengah kemacetan tapi jarak mereka ke tempat perkelahian itu cukup jauh ternyata sudah lama juga macet ini berlangsung, sebagian dari mereka ada yang kembali namun tidak bawa mobil, tidur, dan ada juga yang berani menonton perkelahian itu tapi bersembunyi supaya tidak terkena masalah.
"Nona?" Aya menahan lengan Xabara.
__ADS_1
Xabara menoleh ke Aya yang menggeleng kepalanya pun mengangguk lalu mencari tempat persembunyian seperti sebagian orang lakukan karna penasaran penyebab perkelahian itu.
"apa mereka gila?? sudah banyak yang meninggal diantara mereka masih saja tidak mau berhenti." batin Xabara.
Aya menggenggam tangan Xabara dan tentu saja Xabara diam saja.
.
"aku sudah bilang berhenti Lios !!" teriak Ray.
"aku seharusnya yang bilang seperti itu, kau tidak berhak mengaturku." balas Lios dengan sinis.
"apa kau tidak takut jika aku memanggil Ratu Higanbana? semua orang tau kalau aku dekat dengannya." kata Ray dengan ancaman yang serius.
"kalau begitu tunjukkan padaku perempuan yang kau sebut Ratu Higanbana itu, aku sudah melihatnya dan aku bisa pastikan wanita itu penipu." kata Lios.
Xabara mendengar percakapan mereka pun menautkan kedua alisnya, ternyata para Kedua Pria kuat itu berkelahi karna dirinya.
Aya mengepalkan tangannya, "dasar pria tidak waras!! berani-beraninya dia mengaku dekat dengan Ketua Higanbana." desis Aya terlihat geram.
Aya hendak bangkit tapi ditahan oleh Xabara, "Nona?"
"kita tonton saja! aku ingin tau siapa Ketua Higanbana yang dekat dengan Ray." jawab Xabara.
Aya mendelik sebal tapi juga tidak bisa bertindak apa-apa karna Xabara sendiri penasaran dengan perkataan Ray.
"Nona Pria itu hanya berbohong." kesal Aya menatap tajam Ray yang sedang bertarung dengan Lios.
"aku mengenal watak Ray yang tidak akan berani berbicara seperti itu kalau tidak ada bukti, semua rekannya dalam bahaya mana mungkin dia tidak jujur." bisik Xabara.
Aya terdiam lalu bertanya pada Xabara tentang apa yang sebenarnya Xabara pikirkan.
"Ketua Higanbana palsu." jawab Xabara berbisik dengan sangat pelan.
Aya melototkan matanya, "jal*ng mana yang berani mengaku-ngaku?" batin Aya tidak terima.
Aya hendak lari tapi ditahan oleh banyak orang dan Xabara menarik Aya semakin menjauh dari mereka yang memperingati Aya untuk tidak ikut campur masalah perkelahian mafia besar itu kecuali Aya mau mati.
.
.
__ADS_1
.