
Di tengah hamparan rumput, Shou terbaring dengan beberapa luka ringan di sekujur badannya. Bagaimana pun dia adalah ahli bela diri, terpental belasan meter saja tidak akan membahayakan dirinya kecuali ada benda-benda tajam di tempat pendaratannya.
Saat Shou masih ingin mengistirahatkan tubuhnya sambil menatapi langit cerah, bu guru Elizabeth datang dan melayang beberapa meter di atasnya. Ketika bu guru Elizabeth itu tiba, hembusan angin yang lumayan kencang menerpa tubuh Shou. Dan dari sana lah, dia menyadari bahwa guru itu yang membuatnya terombang-ambing oleh angin.
Bu guru Elizabeth mulai turun perlahan, “Fisikmu memang lebih dari rata-rata, sepertinya tulangmu tidak ada yang patah. Kalau begitu, aku tidak perlu menggunakan sihir penyembuh untukmu.”
“Sihir penyembuh!?” Shou benar-benar penasaran, dia meminta bu guru Elizabeth untuk mempraktikkannya.
“Ogah, kau masih belum berharga di mataku. Jika kau ingin mendapatkan perlakuan istimewa dariku, kau harus menguasai elemen sihirmu terlebih dahulu.”
__ADS_1
Sambil menahan pusing, Shou bangkit dan duduk selonjoran. Akan tetapi, gurunya itu menggunakan sihir angin untuk menerbangkan Shou secara paksa ke akademi. Kini, Shou benar-benar merasa kesakitan karena jatuh ke jalanan yang terbuat dari beton.
Shou ingin sekali memukul gurunya yang begitu kasar itu, tapi dia sadar bahwa hal itu takkan dapat terealisasikan saat ini. Perbedaan kekuatan antara penyihir dan orang yang hanya mengandalkan fisik sangatlah jauh. Meskipun Shou berusaha habis-habisan hingga dirinya sekarat sekali pun, pukulannya tak mungkin bisa mengenai bu guru Elizabeth yang bisa menyerang dari jarak jauh dan terbang di langit dengan sesuka hati.
“Apakah kau sudah paham betapa tidak berharganya dirimu? Semua orang yang masuk ke akademi sihir ini setidaknya memiliki bakat sihir dan mampu menggunakannya, dan kau yang tak mampu menggunakannya adalah sampah diantara mereka. Jangan pernah berpikir bahwa kau diterima di akademi ini karena dirimu spesial, ini hanya karena permintaan gila dari ketua guild petualang yang memiliki prestise cukup tinggi.”
“Sial!” Shou menggigit bibirnya, “Aku benar-benar tak berdaya di hadapannya. Sekarang tulang siku dan lututku patah, beberapa menit lagi rasa sakit ini pasti akan bertambah. Sakit sekali ya ampun!”
Shou merengek meminta tolong, akan tetapi halaman depan akademi sihir saat itu kebetulan sedang sepi. Sedangkan bu guru Elizabeth entah pergi ke mana, tak habis pikir juga kenapa dia malah meninggalkan Shou di saat dirinya benar-benar membutuhkan bantuan. Apalagi yang membuat Shou cedera itu dirinya sendiri, seakan-akan dia tak memiliki masalah tentang itu dan tak peduli sama sekali.
__ADS_1
Seperempat jam berlalu, akhirnya ada 2 orang siswi yang berniat pergi ke kota untuk mencari hiburan. Mereka secara tak sengaja melihat Shou yang sedang terbaring tak berdaya di depan gerbang, bahkan kesulitan untuk bernafas.
Keduanya bergegas untuk menghampiri Shou dan melihat kondisinya, mereka terkejut karena luka yang dialami oleh Shou ini cukup parah.
“Siapa yang tega melakukan hal sekejam ini?” Siswi berambut hitam dengan jepit rambut berpola bunga itu merasa kasihan. Parasnya sangat cantik, matanya pun berwarna merah seperti permata.
“Heal!” Siswi lainnya yang memiliki rambut berwarna perak dan bola mata emas merapalkan sihir penyembuh untuk menolong Shou.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Shou merasa mendingan. Dia bisa memejamkan matanya dengan tenang sambil menunggu dirinya disembuhkan sepenuhnya.
__ADS_1