
Satu minggu berlalu, akhirnya Shou bisa mengikuti kelas seperti murid lainnya. Dia awalnya sangat senang dan begitu antusias saat guru mengajar, tapi akhirnya segera bosan karena para guru itu memiliki pengetahuan dan tingkat pemahaman terhadap materi yang mereka ajar lebih rendah darinya.
Dia mulai merasa sekolah itu membosankan, apalagi dia saat ini tidak berusaha mencari teman baru. Bahkan saat teman sekelasnya mengajak berbicara, dia hanya fokus membaca buku.
Bu guru Elizabeth sebagai penanggung jawab Shou tentu saja akan mengetahui hal itu, dia pun menegurnya dan menanyakan alasan Shou mengabaikan teman sekelasnya.
“Mereka semua bangsawan kelas menengah dan tinggi, tidak sejajar denganku yang tak jelas asalnya.” Jawab Shou singkat, padahal alasannya lebih dari itu.
Bu guru Elizabeth tidak bodoh, dia mengulangi pertanyaan yang sama.
“Pindahkan aku ke kelas yang lebih bagus, dengan guru yang lebih baik di sana.” Jelas Shou, dia berharap bu guru Elizabeth segera memahaminya.
Bu guru Elizabeth pun tersenyum, tapi senyumannya itu cukup menakutkan.
“Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu.” jawabnya tanpa banyak berbasa-basi, dia langsung pergi dari ruangan dan membiarkan Shou di sana sendirian.
Keesokan harinya.
__ADS_1
“Ada apa ya, kenapa kita dipindahkan ke kelas lain?” Ririn keheranan.
“Kita tidak melakukan kesalahan apa-apa ‘kan?” tanya Violet gelisah.
Ririn mencubit kedua pipi Violet, “Memangnya kesalahan seperti apa yang bisa dilakukan gadis imut sepertimu ini?”
Violet berusaha melepaskan tangan Ririn dari pipinya, dia mengaduh kesakitan. Keduanya jadi saling mencubit, hingga pipi mereka menjadi begitu merah saat sampai di kelas baru.
Di sana terdapat cukup banyak murid, dan sepertinya semua murid itu juga dipindahkan ke kelas ini.
Walau pun sebelumnya tidak sekelas, Ririn dan Violet mengenal semua murid yang ada di sana.
Ririn tertawa lepas, “Ternyata selama ini aku juga seorang jenius.”
Violet memalingkan wajahnya, dia tak mau ekspresinya membuat Ririn tidak nyaman.
“Hai, kalian juga di sini ternyata.” sapa Shou dari belakang sambil menepuk bahu mereka berdua.
__ADS_1
Violet dan Ririn cukup terkejut dengan Shou yang tiba-tiba seperti itu, Ririn pun menembakkan fire ball berulang kali ke arahnya.
Violet tidak ikut campur, dia perlahan menjauh dari keduanya.
Shou dan Ririn menjadi sumber perhatian selama beberapa waktu, hingga akhirnya bu guru Elizabeth tiba sambil mengeluarkan fluktuasi sihir yang sangat dahsyat.
Ternyata dia memiliki kekuatan sebesar ini, jadi waktu itu dia masih menahan diri walau pun sudah babak belur.
Satu jentikan jari dari bu guru Elizabeth membuat pintu kelas terbuka, “Semuanya masuk ke kelas.” jelasnya.
Di saat semuanya hendak masuk ke kelas, ada dua orang lagi yang baru sampai.
“Maaf bu guru, saya bangun kesiangan.” ucap seorang gadis berambut pirang yang rambutnya masih acak-acakan, pria di sampingnya pun memberikan sisir.
“Bukankah itu ....” ucap Ririn tak percaya, dia sampai tak sanggup melanjutkannya.
Shou yang tak kenal dengan mereka berdua menanyakan pada Violet.
__ADS_1
“Luis Victoria dan Raizen, murid paling jenius di akademi. Keduanya berasal dari bangsawan kelas atas, namun Raizen menghapus nama keluarganya karena konflik internal.
“Mereka berdua sepertinya memang berbakat.” Ucap Shou sambil menerawang jumlah mana yang dimiliki oleh keduanya. Dia kemudian membandingkan kapasitas mana mereka dengan Ririn dan Violet, perbedaannya benar-benar jauh.