
Sebelum Rosse dan Lorrie sempat berdamai, ujian pertama telah dimulai. Semua orang disuruh masuk ke hutan sesegera mungkin, jika tidak maka akan didiskualifikasi saat itu juga. Shou menggusur mereka berdua agar tidak terdiskualifikasi.
Entah karena terkejut atau apa, Rosse dan Lorrie terdiam saat digusur hingga ke tengah hutan.
Shou semakin terheran dengan tingkah laku mereka yang menjadi pendiam, tapi setelah ditilik-tilik sepertinya mereka berdua tak sadarkan diri.
Shou berusaha mengingat apa yang terjadi, memastikan penyebab keduanya tak sadarkan diri.
“Ah, sepertinya mereka tercekik kerah mereka sendiri. Aku menarik kerah bagian belakang mereka, jadi wajar saja Rosse dan Lorrie kesulitan bernafas hingga pingsan.”
Setelah memastikan kondisi keduanya tidak dalam bahaya, Shou mulai menebangi pohon untuk dijadikan markas. Dia meminjam pedang milik Lorrie sebagai perkakas utama, mengubah bentuknya menjadi perkakas lain yang sedang diperlukan seperti kapak, gergaji, dan lain-lain.
“Umm, kepalaku sakit sekali. Di mana ini? Seharusnya aku sedang menjalani ujian petualang dan ....” Rosse menatap Shou yang hampir menyelesaikan pagar rumoh tak percaya, dia mulai mengingat kejadian sebelumnya dan memperkirakan waktu yang telah berlalu.
“Apakah dia ini gila?” mulut Rosse terbuka lebar, tangan dan kakinya pun gemetaran.
__ADS_1
Lorrie juga akhirnya sadarkan diri, ekspresinya pun tak jauh berbeda dengan Rosse. Kecepatan pergerakan dan manuver yang dilakukan oleh Shou tidaklah masuk akal bagi seorang pemula, ditambah desain rumah kayu tersebut sangat indah dan rapi.
“Dia ini benar-benar gila.” ucap Lorrie pelan.
Suara raungan beruang terdengar jelas dari beberapa arah. Mereka muncul dalam satu waktu, mengepung Lorrie dan Rosse yang masih terkesima.
“Rosse, kita juga tidak boleh ketinggalan.” tatap Lorrie penuh percaya diri.
Rosse mengangguk, “Mari kita basmi monster-monster ini!”
“Di mana pedangku!?” ucapnya kaget setengah mati, dia sudah berhadap-hadapan dengan beberapa beruang raksasa.
“Sial, dasar bodoh!” Rosse menciptakan dinding api di depan Lorrie, membuat pembatas antara pria itu dan para beruang yang hampir mencakarnya.
Sebuah pedang melesat dengan sangat cepat, menusuk tanah di hadapan Lorrie.
__ADS_1
“Pedangku!” ucapnya gembira.
“Maaf Lorrie, seharusnya aku meminta izin terlebih dahulu sebelum meminjam pedangmu. Rumahnya sudah selesai, jadi kau tidak perlu khawatir.” teriak Shou cukup keras.
Apakah dia ini menggunakan pedangku untuk membuat rumah kayu itu? Ah sudahlah, bukan saatnya aku terkejut dan kagum lagi dengan kegilaan yang ia ciptakan.
Shou benar-benar gila, aku tak paham mengapa orang mengerikan seperti dia mengikuti ujian petualang. Tapi ini ada bagusnya juga, aku akan buktikan pada mereka bahwa aku memiliki rekan yang sejuta kali lebih hebat daripada mereka.
“Rosse, awas di sampingmu!” Lorrie mengingatkan.
Rosse terkejut dan langsung berkeringat dingin saat menyadari keberadaan seekor beruang raksasa di sampingnya. Namun itu tak berlangsung lama, Shou tiba-tiba datang menghantam beruang raksasa tersebut dengan satu tangan.
Beruang raksasa tersebut langsung tumbang, mengagetkan Lorrie dan Rosse untuk ke sekian kalinya.
Rosse menghela nafas lega, hampir saja nyawanya melayang terkena cakaran beruang yang sekali tebas dapat memotong pohon besar dengan mudah. Apa lagi jika membelah tubuh, tanpa memiliki skill atau kemampuan bertahan maka sudah dipastikan hasilnya.
__ADS_1
Lorrie menghajar beruang lain yang tersisa bersama Shou, Rosse pun sesekali membantu mereka dengan sihir jarak menengahnya.