
Diruang makan, Shou dan rekan-rekan baru nya disuguhi makanan yang begitu banyak.
Ranzie menelan saliva, dia sangat tergiur oleh makanan-makanan tersebut.
“Silakan dinikmati, jangan sungkan-sungkan!” Ujar Kaisar.
Shou beserta rekan-rekannya itu pun langsung melahap makanannya, karena sejak pergi dari desa Dark Elf mereka belum makan sama sekali dan juga sangat kelelahan karena menghadapi berbagai rintangan.
Selesai makan, Shou langsung mengutarakan maksudnya untuk membantu menyelesaikan masalah di dimensi lain.
“Jadi intinya aku ingin membuat senjata yang bisa digunakan tanpa sihir tetapi kekuatannya tak jauh beda dengan persenjataan yang kekaisaran miliki saat ini.” Shou meneguk air putihnya.
“Sepertinya permasalahan di dimensi lain yang kamu maksud memang sangat merepotkan, tapi kita juga masih membutuhkan sumber daya lebih untuk pembangunan. Aku tak bisa menjanjikan itu Shou.”
__ADS_1
“Jadi masalahnya di bahan baku nya, walau memang senjata yang ingin ku buat ini memerlukan bahan-bahan yang lebih banyak dan dalam pemakaiannya kita akan membutuhkan persediaan yang lebih.”
Jika aku mengubah bahannya menjadi bahan yang mudah dicari, itu mustahil. Aku membutuhkan logam dan baja untuk membuatnya. Jika aku menggali pertambangan, itu membutuhkan waktu yang cukup lama dan juga lokasi pertambangannya belum tentu mudah untuk dicari.
Shou terus berpikir, tak lama kemudian Erisa memberikan sedikit pencerahan.
“Anu... permisi, apakah saya boleh mengajukan saran?” Tanya Erisa.
“Erisa,” Shou terlihat agak terkejut, sepertinya dia salah perspektif terhadap Erisa yang menganggapnya seorang gadis kecil biasa. “Apa saranmu Erisa?”
Mendengar itu, semuanya terkejut selain Hikari. Sejak Erisa mengeluarkan sihir spesialnya, dia sudah tahu bahwa Erisa adalah seorang putri.
“Oleh karena itu, karena senjata yang ingin dibuat oleh kakak Shou itu demi kepentingan dunia kami juga. Bagaimana kalau kami yang akan menyediakan bahan-bahannya. Bahkan kami akan memberikan tempat pribadi untuk kakak Shou.”
__ADS_1
Mendengar itu, Ranzie merasa tak terima. Dia bahkan menjadi sangat benci pada Erisa.
“Apa-apaan ini, manusia memang sangat egois. Bukannya kita datang kesini itu untuk menyelamatkan klan kami, bukan untuk membantu manusia busuk seperti kalian yang terus-terusan memojokkan kami.”
Ranzie berdiri, emosinya meluap-luap. Dia hendak melancarkan sihir api terhadap Erisa, namun saat ia melakukannya, sihirnya tak dapat dikeluarkan sama sekali.
“Eh, kenapa ini? Sihir ku tidak keluar.” Ranzie melihat kedua telapak tangannya dan merasa bingung, karena sihir nya tak berfungsi disini.
“Dimensi ini dan dimensi mu itu berbeda, cara menggunakan sihirnya juga berbeda. Oleh karena itu, aku tak bisa menggunakan berbagai sihir ku di dimensi sebelumnya.” Jelas Shou.
“Apa maksudmu Shou?” Tanya Ranzie.
“Sepertinya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjelaskannya. Tetapi intinya, kau takkan bisa menggunakan sihirmu di dimensi ini, begitu pula dengan diriku, takkan bisa mengeluarkan sihir yang biasa ku gunakan disini. Kita dapat menggunakan sihir di dimensi ini karena mempelajarinya dan begitu pula sebaliknya.”
__ADS_1
“Sebaiknya kamu jangan membuat Shou marah, karena dia adalah orang terkuat di dimensi ini.” Ujar Balx.
Hikari yang gemas, memeluk Shou dengan begitu erat. Tetapi kali ini, Shou tidak merasa tercekik lagi karena menggunakan sihir pelindung.