
Shou menghabiskan waktu nya lagi di ruangan rahasia, dia sudah selesai membaca belasan buku di hari itu.
Dia kembali ke istana tepat tengah malam dan berpapasan dengan Hikari.
“Tuan, kenapa menghilang lagi?” Hikari memeluk Shou cukup erat hingga merasa sesak.
“Lepas-kan!” Shou terbata-bata.
Hikari pun melepaskan pelukannya, “aku tidak akan meninggalkan tuan lagi, karena ditinggalkan sebentar saja sudah langsung menghilang.” Hikari tampak cemberut.
Sepertinya dia serius
“Aku tadi sedang mempelajari beberapa sihir di dunia ini, meskipun begitu tetap saja aku tidak bisa menggunakannya.”
“Tuan, apakah aku tidak cukup bagimu? Aku ini sangat kuat lho!” Hikari memegang lengan Shou.
“Lawan kita saat ini sangat kuat, seperti waktu itu. Kamu tidak berani melawannya bahkan sebelum mencoba.”
__ADS_1
Mendengar itu, Hikari tampak murung.
“Maaf tuan, malaikat hitam itu sangat kuat. Kekuatan jauh diatas ke-7 raja naga, waktu itu dia masih belum serius. Jika dia serius, kerajaan ini pun bisa musnah dalam hitungan menit.”
Shou terkejut mendengar itu, situasinya lebih buruk daripada yang ia pikir. Jika raja iblis memiliki bidak sekuat itu, semua rencana yang dibuat oleh Shou akan sia-sia.
Shou menghela nafas, awalnya dia mengira rencananya bisa berjalan dengan baik. Akan tetapi, ternyata masih ada kekuatan di luar nalar yang sangat mengerikan.
“Terimakasih telah memberitahu ku tentang itu, dengan begitu aku bisa mempersiapkan rencana yang lebih baik.” Tangan Shou gemetar. Hikari yang mengetahui hal itu, memeluk Shou pelan.
“Menangislah sepuasnya tuan, aku akan selalu disini mendampingimu!”
Kali ini bukan Hikari yang bersikap manja. Dia memeluk Shou dengan hangat, membiarkan Shou mengeluarkan semua rasa frustasinya selama ini.
“Kenapa selalu ada masalah? Apakah aku bisa lepas dari tanggung jawab ini? Dunia ini bukanlah milikku, seharusnya ini bukan tanggung jawabku kan?”
“Itu benar tuan, tuan tidak perlu bertanggung jawab atas semua ini. Tuan hanya perlu melakukan apa yang tuan bisa, jangan terlalu memaksakan diri.”
__ADS_1
Shou menangis lebih deras, “lalu kenapa, aku merasa harus menolong mereka?”
Hikari tersenyum, “begitulah sifat makhluk hidup, jika ada yang jahat maka akan ada yang baik. Jika ada yang tak peduli, pasti akan ada orang yang peduli. Tuan pasti termasuk orang yang peduli, maka itu wajar saja.”
“Lalu, apa yang harus ku lakukan?”
Hikari melepaskan pelukannya, “untuk itu, dengarkanlah suara hati mu tuan! Hati takkan bisa berbohong. Apa yang ingin tuan lakukan? Kenapa tuan melakukannya? Hati tuan pasti akan bisa menjawabnya. Meskipun tuan bertanya pada orang terpintar sekalipun, yang paling memahami hati tuan ialah tuan sendiri.”
Shou berhenti menangis, dia sudah merasa jauh lebih lega dari sebelumnya. Hikari menngusap air mata yang tersisa, pandangan mereka bertemu satu sama lain.
Hikari tiba-tiba merasa malu karena bertatapan terlalu lama.
“Terimakasih, Hikari!” Shou tersenyum.
Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang? Gumam Hikari dalam hati.
“Sama-sama tuan!” Hikari memalingkan wajahnya. Entah kenapa sejak tadi dia merasa tidak bisa menatap mata Shou terlalu lama.
__ADS_1