
Shou melihat sekelilingnya telah rata dengan tanah, dia mempertanyakan mengapa dirinya melakukan semua itu.
Kehidupan masa lalunya mulai suram setelah ia membunuh seorang penculik yang menyanderanya, membuat Shou hanya memiliki seorang teman semasa kecil.
Sejak kecil Shou memang sangat agresif terhadap orang yang menghina dan mengganggunya, bahkan sekelas preman SMA pun takut kepada Shou yang masih duduk di bangku SD. Selain keberaniannya yang lebih daripada orang lain, kemampuan bertarung Shou tak dapat diragukan. Meski tak ikut klub seni bela diri sama-sekali, dia pernah mengalahkan beberapa orang pemilik sabuk hitam taekwondo yang berniat membullynya.
Suatu hari teman Shou satu-satunya harus menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit karena penyakit kronis yang diidapnya selama bertahun-tahun, membuat Shou tak pernah memiliki teman lagi hingga SMA.
Walau pun Shou tak suka mencari masalah, banyak sekali orang yang ingin bermasalahan dengannya. Setiap orang yang mencari gara-gara dengannya tak pernah berakhir baik, bahkan orang yang telah meminta bantuan sipil sekali pun.
Shou pernah dilaporkan ke persidangan dengan berbagai macam tuduhan, tapi dia selalu selamat karena pengetahuan hukum yang dimiliki olehnya bahkan lebih baik dibanding semua pengacara yang diutus untuk melawannya.
Di kehidupan kali ini pun sepertinya masa depan Shou sudah terlihat akan suram, melihat masalah yang ia ciptakan hari ini. Walaupun hari ini tidak ada korban jiwa, pasti banyak orang yang trauma dan menyebarkan ketakutan ini pada orang lain. Dia hanya bisa menghela nafas, memasrahkan semuanya pada masa depan.
__ADS_1
Shou menatapi pedangnya yang diselimuti oleh sambaran petir kecil, mengembalikannya kembali ke dalam ruang penyimpanan sihir. Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, membuat Shou benar-benar terkejut.
“Akhirnya kita bertemu lagi!”
Suara ini ... kulit putih ini ...
“Violet, apakah itu kamu?”
“Kenapa kamu di sini? Apakah kamu tidak takut denganku? Aku sudah menghancurkan sebuah arena hanya dalam sekejap, bahkan melukai banyak guru dari akademi sihir.”
Violet malah tersenyum, “Justru aku malah terkejut bahwa kamu mengetahui orang-orang itu adalah para guru di akademi.”
“Kamu jangan bercanda, setiap guru di akademi sihir kalian memiliki seragam yang sama. Mana mungkin aku tidak bisa membedakannya.” jelas Shou.
__ADS_1
“Hei, hei, sampai kapan kalian akan bermesraan terus seperti itu?” tegur Ririn yang tiba-tiba datang, membuat Violet spontan melepaskan pelukannya.
“Violet, kamu bisa menggunakan sihir penyembuh untuk memulihkan para guru. Sebaiknya kamu segera pergi sana, biar aku yang menghadapi monster ini!”
Monster ..., yah wajar saja karena aku menggunakan serangan area tanpa memedulikan orang di sekitar.
“Ririn, kenapa kamu berkata seperti itu!?” Violet yang merasa tak terima langsung membantah, bahkan menatap Ririn dengan penuh kesal.
Tak kusangka Violet bahkan akan memilih untuk membelanya, tapi bagaimana pun dia yang memilih untuk meninggalkan kami dan membuat kekacauan di sini.
Ririn pergi dengan perasaan kecewa, disusul oleh Violet yang juga merasa bersalah. Tak lama berlalu giliran bu guru Elizabeth yang mendekat, dia juga sedikit kecewa dengan Shou yang tidak mampu mengendalikan amarahnya.
Shou sama sekali tak bisa mengelak, dia memilih untuk menghilang sementara waktu ke sebuah tempat yang sepi.
__ADS_1