
" Balx, apakah kau tidak apa-apa?" Tanya Thev bergegas ke arah nya.
" Iya, aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong siapa gadis cantik itu?"
" Aku juga tidak tahu, tetapi sepertinya dia bukanlah musuh kita. Bahkan dia telah membantu kita untuk mengalahkan para musuh."
" Dia sangat cantik, kau juga setuju kan?" Tanya nya sambil terus memperhatikan gadis tersebut.
" Yah…, sepertinya memang begitu." Jawab Thev.
" Hei kalian, pertempuran masih berlanjut malah asyik mengobrol, cepat bantu yang lain!" Ujar Chentya agak kesal.
Balx dan Thev pun agak tersentak
" Maaf!" Ujar Thev menyesal.
" Aku juga." Ujar Balx tersadar. Meskipun dia sangat terpesona dengan gadis tersebut, dia tidak boleh melupakan pertempuran yang tengah terjadi karena musuh bisa saja menyerangnya kapan saja.
__ADS_1
Lalu Balx pun pergi ke tempat lain dan membantu para pasukan kekaisaran yang sedang terpukul mundur.
" Hyaaahhh.." Ucapnya sambil memutar-mutar kapak nya dan menebas tubuh musuh.
Perang terus berlanjut, kini kekaisaran dapat bertahan lebih lama lagi karena bantuan dari gadis berparas cantik tersebut.
" Hmmm, ternyata dia datang lebih cepat dari yang kukira. Tapi bukan masalah karena aku tinggal menyuruh armada ke-5 dan ke-6 untuk datang ke sana, sementara itu aku akan melihat dulu pertunjukkan mereka berdua." Ucapnya sambil mengubah layar monitornya.
"Wow mereka sangat hebat, aku tidak menyangka pasukan elite bisa dikalahkan dengan mudah oleh mereka. Ini sangat menarik, ini sangat menarik!"
Lalu dia pun meneguk anggurnya dan melihat kembali ke arah monitornya.
Dia pun berdiri dari kursinya dan kemudian pergi dari ruangan tersebut.
" Hyaaahhh!" Teriak shou sambil mengayunkan pedang nya yang telah di selimuti sihir petir. Dia bergerak sangat cepat dan menebas para musuh, musuh nya pun tak bisa melihat gerakannya yang secepat kilat, mereka hanya bisa melihat sekejap pancaran petirnya dan kemudian pada akhirnya terkena tebasannya.
Dewi Raffsha pun memperkuat pertahanan, kecepatan, serta kekuatan pada Shou, sehingga Shou pun bisa menyerang musuh nya dengan leluasa.
__ADS_1
Dalam beberapa menit saja dia telah menghancurkan lebih dari setengah pasukan musuh yang berada disana.
" Kapten bagaimana ini, sepertinya kita hanya akan menjadi tumbal bagi nya." Ucap salah seorang pasukan musuh.
" Diam, kita di tugaskan untuk mempertahankan lokasi ini, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengalahkan mereka berdua." Ucap nya sambil melihat monitor yang memperlihatkan Shou yang sedang membabi buta.
" Tapi kalau begitu kita akan mati. Aku masih ingin hidup, aku masih belum mau mati, aku juga masih memiliki banyak keinginan dan cita-cita, aku tidak mau mati secepat ini!"
" Diam!"
" Dia benar kapten, jika kita tidak segera pergi dari sini maka kita hanya akan mati konyol."
" Tidak ada namanya mati konyol jika kita berkorban demi menjalankan perintah dari atasan, yang mati konyol itu adalah orang yang mati karena tidak mengikuti perintah dari atasan."
" Tapi atasan kita saat ini sepertinya tidak memedulikan kita, dia sangat egois, tidak punya rasa empati, dan juga sangat tidak ber pri kemanusiaan."
" Asalkan kau tahu saja, kita saat ini sudah bukan lagi manusia, apalagi dirimu yang baru saja hidup kurang dari dua puluh tahun."
__ADS_1
" Tapi tetap saja nenek moyang kita adalah…"
" Tidak ada kata tapi, saat ini kita bukan lagi seorang manusia tapi seorang Reiyu!"