Isekai No Tensai

Isekai No Tensai
Hampir terungkap


__ADS_3

" Oh, jadi begitu. Tapi maaf, aku juga tidak tahu tentang bahan-bahan itu."


Dewi Laxmi menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Eh……, kenapa? "


" Yang aku lakukan hanya menyalin buku resep itu, aku belum pernah sekalipun membacanya."


" Meskipun kamu sendiri yang menyalinnya?"


Dewi Laxmi pun mengangguk.


" Paling juga aku hanya melihat nya sekilas, setelah itu aku tidak pernah memikirkan isi resep atau yang lainnya karena kupikir makanan di dunia ini sudah cukup, tidak perlu ditambahkan lagi."


" Apa yang harus ku katakan pada Rosse nanti, sepertinya dia akan kecewa. "


Lorrie menghela nafas berat.


" Yah, itu bukan salahmu. "


Dewi Laxmi terlihat kebingungan.


" Apa ada yang bisa kamu lakukan?" Tanya Lorrie.


" Iya?"


" Seperti mempelajari bahannya atau sebagainya." Lanjut Lorrie.


Dewi Laxmi pun menggaruk kepalanya lagi.


" Sepertinya akan sulit, karena meskipun aku tahu bahan-bahannya belum tentu bahan itu ada di dunia ini."


" Benar juga." Lorrie terlihat murung kembali.


" Yasudah, bagaimana kalau aku ikut kamu menemui Rosse. Aku akan mendiskusikan ini dengan nya."

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu. "


Setelah itu mereka pergi untuk menemui Rosse.


Sementara itu Shou sedang fokus-fokus nya menulis rumus.


" Jadi begitu, pantas saja Olster itu tidak ada di tempat lain, karena ini!"


" Tetapi yang menjadi pertanyaan nya, darimana mereka tahu jika tidak ada Olster mereka tidak bisa hidup, aku tidak bisa menyimpulkannya, aku belum punya data yang cukup."


Shou terus membuat otak nya bekerja dengan keras dan menggerakkan tangannya tiada henti diatas secarik kertas.


" Shou, sebaiknya kamu minum dulu teh hangat ini. Ini bisa me refresh otak mu." Gumam Dewi Raffsha sambil menaruh segelas teh di meja Shou.


Namun Shou tidak menghiraukannya sama sekali.


" Yaampun, jika kau tidak memikirkan kesehatanmu kamu bisa jatuh sakit." Lanjut dewi Raffsha.


Shou masih tidak menghiraukannya sama sekali, sebenarnya bukan tidak menghiraukannya tetapi tidak menyadarinya.


" Shou!" Gumam nya lembut.


Shou pun melihat ke arah tangan tersebut.


" Minum dulu teh nya!"


Dewi Raffsha Kemudian menyodorkan segelas teh tadi ke depan Shou.


" Terimakasih!" Ucap Shou seraya mengambil gelas tersebut.


Shou pun meneguk nya.


" Segar sekali, teh ini sangat enak!"


Shou tersenyum polos sambil menyimpan teh nya ke atas meja.

__ADS_1


" Senang mendengar nya."


Dewi Raffsha membalas senyumannya dengan senyuman yang tak kalah manis.


Shou Kemudian meneguk lagi teh nya, setelah itu ia menghela nafasnya.


" Dewi, aku sudah bisa mengambil kesimpulan kenapa Olster hanya ada disini." Gumamnya.


Sekejap Dewi Raffsha pun terlihat serius.


" Benarkah? " Tanyanya.


Shou pun mengangguk.


Dewi Raffsha kini menghela nafas lega, dia terlihat lebih rileks dan tenang.


" Sebenarnya penyebab Olster hanya ada disini karena tempat ini menghasilkan lebih banyak Mana daripada di tempat lain, dan juga aneh nya semua Mana-mana itu tertuju pada satu tempat."


" Dimana?" Tanya Dewi Raffsha.


" Di sekitar kincir angin waktu itu, awalnya ku kira kincir angin itu hanyalah hiasan belaka, ternyata…"


Dewi Raffsha pun tercengang, air mata nya tiba-tiba menetes tanpa ia sadari.


" Dewi, kamu kenapa?" Tanya Shou khawatir.


Dewi Raffsha pun mengusap air mata nya.


" Tidak apa-apa, aku hanya teringat masa lalu." Jawabnya serak.


Shou tidak tahu masa lalu seperti apa yang dimaksud nya, tetapi ia tahu bahwa Dewi Raffsha tidak ingin mengingatnya.


Dewi Raffsha masih terus menangis terisak-isak, meskipun ia sudah berusaha menahannya, tetapi air matanya masih terus mengalir tiada henti.


Shou bangun dari kursi nya dan mendekat ke arah Dewi Raffsha, dia memeluknya sambil mengelus-ngelus rambut nya yang berwarna pirang dan sangat halus itu.

__ADS_1


__ADS_2