
Pinggiran hutan Green Forest, pos keamanan.
“Lapor, ada yang melepaskan gelang transmisi di jarak 2 km arah barat daya.”
“Kirim beberapa petualang tingkat perak ke sana. Jika bisa diatasi, langsung selamatkan saja. Dan bila ada sesuatu di luar dugaan, segera melapor kembali!”
“Siap, laksanakan!”
Di dalam sarang para goblin, Shou kembali menggila. Dia tak tahan melihat dua orang manusia sedang ditusuk-tusuk oleh tombak. Meski sepertinya bukan di bagian vital hingga nyawa mereka tidak terancam, tetap saja hal itu benar-benar membuat Shou murka.
Kali ini Shou tidak mengandalkan mananya sebagai pondasi dalam pertarungan, dia mengeluarkan hawa membunuh yang sangat mengerikan hingga para goblin tidak asal maju seperti biasanya.
Tak sedikit goblin yang memilih melarikan diri setelah melihat tatapan tajam dari Shou, akhirnya pun hanya raja mereka yang mampu bertarung.
__ADS_1
“Kau adalah orang kedua yang membuatku harus turun tangan, padahal jumlah pasukanku 10 kali lebih banyak dari waktu itu. Hanya kuantitas memang terkadang mengecewakan, aku harus melatih kemampuan bertarung mereka di lain waktu.” ucap seorang goblin berukuran 3 kali lebih besar dari yang lain. Di mata kanannya terdapat bekas luka tebasan, hingga saat ini dia hanya bisa melihat dengan sebelah mata.
“Sepertinya kamu adalah King Goblin, maaf saja tapi aku harus segera membunuhmu sebelum pasukan goblin ini berkembang lebih jauh.” ucap Shou sambil tersenyum.
King Goblin pun tertawa, “Bocah sepertimu mau membunuhku? Jangan berkhayal! Meski kemampuanmu cukup bagus, tapi berapa banyak pengalaman bertarung yang telah kau peroleh?”
Shou tersenyum sinis, “Baguslah jika aku diremehkan, dengan begini aku akan memperlihatkan kemampuan pembunuh yang sangat mengerikan. Mumpung mana dan staminaku sudah pulih sepenuhnya, kemampuan ini bisa kugunakan semaksimal mungkin.”
Sebelum King Goblin sempat menertawakan hal itu, pipinya berdarah. Suasana menjadi cekam, seluruh pasukannya di ruangan itu telah mati.
Sorotan mata Shou seakan menembus jantung King Goblin, pemimpin belasan ribu pasukan goblin itu kini benar-benar tak berdaya. Kesadaran Shou sendiri sebenarnya sudah samar-samar, namun dia segera memanfaatkan kesempatan terakhirnya dengan sebaik mungkin.
“Arrrgh, semua yang dikatakan nenek tua itu ternyata benar. Aku akan kena karmanya, uhuk-uhuk. Pe-“
__ADS_1
King Goblin kini tak bernyawa, Shou pun sudah tak kuat lagi mempertahankan kesadarannya dan tergeletak di tanah saat itu juga.
Rosse dan yang lain akhirnya telah tiba ke gua di mana para goblin itu bersarang. Mereka dipaksa untuk bertarung saat itu juga karena melihat sekumpulan goblin yang berlarian ke luar gua.
Sebagian banyak goblin ternyata memilih untuk kabur daripada harus menghadapi Lorrie dan yang lain, dan sebagian lainnya harus merenggut nyawa karena memilih untuk melawan.
“Para goblin ini jumlahnya sangat banyak, tapi untungnya hanya sebagian kecil yang menyerang kita.” ucap Lorrie.
“Mungkin Shou menakut-nakuti para goblin itu hingga kocar-kacir seperti ini. Jika tidak, kita takkan bisa bertahan lebih dari 10 menit.” lanjut Rosse.
“Reo, Rui, bertahanlah!” ucap gadis yang ternyata bernama Lacasina itu, dia ikut membantu sebisanya melawan para goblin.
“Ada apa ini? Kenapa banyak goblin yang berlarian ke segala arah?” ucap seorang petualang veteran dengan pedang besar di pundaknya.
__ADS_1
“Sepertinya ini bukan masalah biasa, aku akan menembakkan suar bantuan.” timpal petualang veteran lain yang sedang memegang busur, ia segera mengeluarkan dan menembakkan suar ke atas langit.
Kedua petualang itu melanjutkan perjalanan mereka, berharap para peserta ujian yang hendak mereka tolong masih bisa diselamatkan.