
Di malam purnama itu kaisar menikmati terangnya bulan dari balik jendela di kamarnya sambil meminum teh hangat.
" Nikmatnya...."
Namun ketika menikmati suasana di malam itu terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
'Tok tok tok!'
" Siapa?" Ucap kaisar agak lantang.
' Tok tok tok!'
" Siapa disana?" Tanya kaisar lagi.
Namun suara ketukan masih terus berlanjut tanpa menghiraukan pertanyaan kaisar.
Kaisar pun beranjak dari kursinya, dia melangkah ke arah suara ketukan pintu itu untuk membuka pintu.
Setelah memutar kuncinya, kaisar membuka pintu.
" Ada apa malam-malam..."
Kaisar kebingungan, tidak ada siapapun dibalik pintu kamarnya itu.
Dia melirik ke kanan dan ke kiri, siapa tahu orang tersebut masih berkeliaran di dekatnya.
" Tak ada siapa-siapa." Ucap kaisar setelah memastikan.
Dia pun berbalik dan hendak menutup pintunya, namun tiba-tiba muncul asap yang membuat nafas kaisar sesak.
Dia memegang kepalanya yang pusing, kemudian tergeletak dibawah.
Asap semakin tebal, hingga menutupi seluruh ruangan dengan warna yang monoton itu.
Setelah beberapa saat asap itu pun menghilang, dan terlihat seseorang dengan jubah hitam sambil membawa sebuah pisau.
__ADS_1
Dia bergerak ke arah kaisar sambil tersenyum samar, dia sudah bersiap mengeksekusi kaisar.
" Siapa kau?" Teriak seseorang dari arah pintu, ternyata orang tersebut adalan Balx.
Melihat itu, orang yang memakai jubah hitam itu segera menancapkan pisaunya ke tubuh kaisar di bagian dada nya dan langsung melarikan diri lewat jendela yang terbuka.
" Yang mulia...., Hei jangan kabur!"
Dia hendak mengejar orang itu, namun dia tak mungkin meninggalkan kaisar dengan pisau yang tertancap di dada nya.
Balx pun memangku kaisar dan bergegas untuk membawa kaisar ke tabib yang berada di lantai bawah.
Dengan berlari sekuat tenaga Balx berharap kaisar masih bisa disembuhkan.
Di tengah perjalananya menuju tabib, ia bertemu dengan Chentya dan Thev, mereka terkejut melihat tubuh kaisar yang tertusuk pisau.
" Yang mulia kenapa?" Tanya Chentya. Dia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Namun Balx tidak menjawab pertanyaannya, di dalam pikirannya hanya ada kaisar dan tempat tabib itu.
" Hei, ayo kita ikuti dia!" Ucap Thev pada Chentya.
' Brak' Pintu itu hancur seketika.
" Hei kau, tolong selamatkan yang mulia, cepat! "
Para tabib yang sedang duduk menunggu pasien itu terkejut seketika.
" Tidurkan dia disini! " Ucap salah seorang tabib muda.
Lalu Balx pun mengikuti arahannya.
Kemudian tabib muda itu memegang pergelangan tangan kaisar, dia menyentuh aliran urat nadi nya.
Sekejap, tabib muda itu tercengang.
__ADS_1
" Cepat obati dia!" Ucap Balx.
" Maaf, tapi....." Gumam tabib muda itu gemetar.
" Tapi apa, ayo cepat sembuhkan dia!"
" Denyut nadi nya sudah tidak ada, dia sudab meninggal."
Mendengar itu Balx pun terkejut, dia benar-benar tercengang mendengar ucapan tabib muda itu.
" Apa yang kau katakan, cepat sembuhkan dia, hei kalian kenapa diam disana saja ayo cepat sembuhkan dia!"
Kemudian para tabib itu segera mendekati tubuh kaisar, mereka mengecek denyut nadi nya.
" Perkataannya benar, denyut nadi nya sudah berhenti, sekarang tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. " Ucap seorang tabib tua.
" Tidak mungkin!"
Balx meneteskan air mata nya.
" Balx, sebenarnya apa yang terjadi? " Tanya Thev.
Chentya melirik ke arah kaisar yang sedang berbaring.
" Hei kalian, kenapa kalian diam saja, cepat sembuhkan yang mulia!"
" Mohon maaf, tetapi saat ini yang mulia...."
Mendengar perkataan itu Thev dan Chentya benar-benar terkejut.
" Ini tidak mungkin kan, yang mulia tidak mungkin mati, yang mulia tidak mungkin mati secepat ini!"
" Apa yang dikatakanmu itu benar?" Tanya Thev.
" Iya, jika anda tidak percaya silahkan cek sendiri urat nadi nya."
__ADS_1
Kemudian Thev mendekati tubuh kaisar dan mengecek urat nadi nya.
Seketika Thev terkejut setelah mengecek urat nadi nya, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang berada di depannya itu.