
" Silahkan dinikmati Shou." Ucap Sherri seraya menaruh segelas teh hijau diatas meja. Ia terlihat masih canggung, karena beberapa saat sebelumnya ia memeluk shou secara tiba-tiba.
Shou kemudian meneguk teh hijau tersebut, dia terlihat sangat menikmatinya. Dia menghirup aroma manis dari teh hijau tersebut dan meniupnya sesekali karena masih panas.
" Seperti biasa, teh hijau disini memang sangat enak." Ujar Shou.
" Terimakasih Shou pujiannya, teh itu sebenarnya buatanku."
" Wah…., lain kali aku ingin teh hijau seperti ini lagi, apakah kamu ingin menyediakannya untukku?"
" Tentu saja, karena kamu adalah pelanggan kami juga."
" Hmm….."
" Kenapa Shou?" Sherri terheran.
" Sebenarnya minggu ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan, apakah kamu punya waktu luang?" Tanya Shou.
" Sepertinya tidak, di hari minggu biasanya aku mengambil libur."
" Baguslah kalau begitu, aku ingin menepati janji ku yang waktu itu semoga saja minggu ini bisa terlaksana."
__ADS_1
" Janji yang mana Shou?" Tanya Sherri.
" Apakah kamu lupa, waktu itu mengajakku jalan-jalan di hari minggu dan aku sudah berjanji padamu. Tetapi karena banyak hal yang terjadi, aku tidak sempat untuk memenuhi janjiku itu."
Mendengar itu Sheri menutup sebagian wajahnya dengan tangan kirinya, ia hampir meneteskan air mata karena penjelasan shou.
" Selama ini ternyata kamu masih mengingatnya, padahal, padahal, aku bukanlah orang penting bagimu dan permintaanku itu juga tak terlalu penting." Ucapnya dengan sedikit isak tangis.
" Janji tetaplah janji, dari siapapun dan janji seperti apapun jika aku memiliki kesempatan untuk menepatinya maka aku harus menepatinya."
Isak tangis sherri semakin mengada-ngada, bahkan beberapa pelanggan lainnya yang sudah memalingkan wajahnya dari mereka tiba-tiba melirik Shou dan Sherri lagi.
" Entah, mungkin Sherri barusan menyatakan cinta nya tapi ditolak oleh Shou."
" Eh…., tapi seharusnya laki-laki yang menyatakannya. Membuat seorang gadis menyatakan perasaannya dan bahkan menolaknya itu sangat berbeda dengan prinsipku." Ucap pria botak itu yang tiba-tiba bernada tinggi di akhir.
" Sepertinya mereka membicarakan hal buruk tentang ku, karena Sherri tiba-tiba menangis entah Kenapa, tapi pokoknya aku harus membuatnya berhenti menangis." Gumam Shou dalam hati.
" Sherri, sangat disayangkan jika kamu menangis seperti ini karena menurutku kamu ini terlihat lebih cantik ketika tersenyum daripada menangis, jadi tersenyumlah."
Sherri pun tersenyum manis, dia mengusap kembali sisa-sisa air mata nya.
__ADS_1
" Nah seperti itu, kamu terlihat lebih cantik."
Wajah Sherri pun tiba-tiba memerah, ia juga menunduk sambil memainkan kedua telunjuknya, ia bahkan sampai menggigit bibirnya.
Setelah beberapa saat sherri dipanggil oleh ibu nya untuk menghidangkan makanan ke pelanggan.
" Kalau begitu aku pergi dulu ya Shou, sampai nanti!"
" Sampai nanti juga, kalau bisa aku ingin teh hijau buatanmu lagi!"
" Tentu, aku akan menyiapkan nya."
Shou kemudian meneguk kembali teh hijau nya sedangkan Sherri menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan beberapa piring dan cangkir.
Shou menikmati teh hijau nya di bar tersebut sampai habis, sepertinya ia sudah cukup puas.
" Shou, apakah kamu ingin memesan makanan?" Tanya Sherri di tengah-tengah kesibukannya.
" Terimakasih tawarannya, tetapi tadi aku sudah sarapan."
" Baiklah kalau begitu." Sherri melanjutkan aktifitasnya, dia menaruh beberapa cangkir bir di atas meja pemesannya, setelah itu ia kembali ke dapur."
__ADS_1