Isekai No Tensai

Isekai No Tensai
Kekaisaran


__ADS_3

" Yang mulia, ada sedikit masalah di kota bolivia. Kata mereka kenaikan harga bahan baku membuat mereka menjual hasil tekstil mereka dengan harga yang lebih tinggi, tetapi hal itu memicu ketidak puasan dari pihak konsumen sehingga mereka mengurangi jumlah barang yang mereka beli dan berniat mencari alternatif lainnya yang lebih murah." Jelas Thev.


" Hmmm…."


Kaisar berpikir sejenak


" Bagaimana kalau mensubsidi bahan baku mereka sehingga mereka bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah." Saran kaisar.


" Menurut saya ide itu kurang baik, karena jika kita mensubsidi bahan baku nya, berarti kita mengurangi pendapatan si penjual bahan baku tersebut. "


Thev dengan sopan menepis saran dari kaisar.


" Apakah kamu punya saran?" Tanya kaisar.


" Iya, tetapi ini juga tak terlalu bagus." Jawab Thev.


" Aku akan mendengarkan nya." Gumam kaisar.


" Baiklah, kalau begitu saya akan jelaskan. Jadi begini, pabrik tekstil dan juga pedagang bahan baku nya sama-sama mencari keuntungan, jadi kita tidak boleh membuat salah satu atau keduanya rugi."


" Lalu?"


" Bagaimana jika kita menyuruh mereka mengurangi bahan baku nya dan mengganti sebagiannya dengan bahan baku lainnya yang lebih murah, dengan begitu kita tidak akan merugikan si penjual bahan baku nya karena tidak mengurangi harga bahan baku nya dan juga membuat pabrik tekstil tersebut bisa membuat barang dengan harga yang lebih murah meskipun kualitas nya agak menurun." Jelas Thev.

__ADS_1


" Tetapi itu kan masih bisa memicu ketidak puasan dari pihak konsumen karena barang yang dibuat kualitasnya lebih rendah dari sebelumnya."


" Kalau begitu kita hanya harus mencari bahan baku alternatif yang bisa menyamai kualitas bahan baku tersebut." Gumam Thev.


" Iya, ide yang bagus. Tetapi dari mana kita bisa mendapatkan nya?" Tanya kaisar.


" Kalau soal itu aku akan mencarinya terlebih dahulu, setelaj menemukan bahan baku yang cocok aku akan melaporkannya pada yang mulia." Jelas Thev.


" Baiklah kalau begitu, pastikan bahan baku nya memiliki kualitas yang hampir menyamai bahan baku yang aslinya. aku ingin pabrik-pabrik tekstil di kota itu semakin berkembang."


" Tentu saja, itu adalah salah satu kota terpenting untuk meningkatkan perekonomian. Kita tidak boleh mengacuhkannya begitu saja." Ujar Thev.


Kemudian dia pamit dan pergi dari tempat tersebut.


Kemudian kaisar membaca salah satu dari dokumen tersebut dan kemudian meng stempel nya.


" Saat ini para reiyu memilih untuk menetap di tempat asal mereka, meskipun begitu aku masih merasa khawatir karena mereka bisa menyerang kita kapan saja mereka mau." Gumam Chentya.


" Tenang saja, kalau mereka kembali aku akan mengalahkan mereka semua. Lagipula mereka tidak akan datang dengan cepat karena Shou sudah menghilangkan persenjataan mereka." Ujar Balx.


" Meskipun begitu Shou pernah bilang bahwa ada banyak Reiyu yang melarikan diri, berarti persenjataan yang mereka miliki masih ada, aku takut mereka akan mengacau lagi."


Chentya kelihatan gelisah, sepertinya dia masih terbayang-bayang dengan peperangan yang menghacurkan hampir seluruh daratan di kekaisaran.

__ADS_1


" Tenang saja, Shou sudah mengatakan bahwa reiyu-reiyu yang melarikan diri itu tidak ingin ikut dalam peperangan yang saling menghancurkan ini, jadi mereka tidak mungkin akan menyerang kesini lagi." Gumam Balx.


" Aku harap begitu! "


Chentya menundukkan pandangannya dan memegang bahu nya yang gemetaran.


" Hei, daripada kau hanya melamun disitu dan gelisah yang tidak perlu, bagaimana kalau kita latih tanding?"


Chentya pun berhenti memegang bahu nya.


" Aku tidak gelisah, tubuh ku hanya kedinginan. Lagipula apakah kamu yakin tentang ini, selama ini kamu tidak pernah mengalahkan ku sekalipun."


Balx pun terlihat agak kesal.


" Itu sudah beberapa tahun yang lalu, aku yang sekarang sudah tidak bisa dibandingkan dengan waktu itu. Kali ini aku pasti akan mengalahkan mu!"


" Kau yang sekarang pasti bisa mengalahkan diriku yang dulu, tetapi diriku yang sekarang jauh lebih kuat daripada waktu itu, kamu tidak punya kesempatan untuk menang."


" Benarkah, kalau begitu ayo kita mulai!"


" Aku siap kapanpun."


Kemudian mereka berdua pun pergi ke sebuah lapangan rumput yang menjadi tempat latihan bagi para prajurit.

__ADS_1


__ADS_2