
" Padahal kamu sudah berada lama tinggal di Arsy, tapi kenapa kamu tidak pernah datang ke sini?"
" Karena awalnya ku kira disini tidak ada ruangan seperti ini."
Dewi Raffsha menundukkan wajahnya.
" Hmmm…., apakah ada alasan lain?" Tanya Shou.
" Tidak ada!" Jawabnya sambil masih menundukkan wajahnya.
" Yah…, bagaimana ya, sepertinya kamu harus lebih terbuka pada orang lain." Ujar Shou.
Dewi Raffsha pun mengangkat wajahnya.
" Apa?"
" Menurutku kamu harus lebih terbuka pada orang lain. "
" Apa yang kamu tahu tentang diriku?" Gumam Dewi Raffsha pelan.
" Eh…, soal itu…"
" Kamu tidak pernah tahu diriku yang dulu seperti apa, apa saja yang dulu pernah ku lakukan, apa saja keinginanku ketika aku masih kecil, kamu hanya…, kamu hanya…."
Tanpa ia sadari air matanya sudah mengalir sampai ke dagu, dan menetes ke bawah.
" Yah…., aku memang tak tahu banyak tentang dirimu, apalagi tentang dirimu yang masih kecil itu, sepertinya kamu sangat imut waktu itu meskipun yang ini juga sudah sangat imut, tapi aku yakin apapun yang kamu pendam selama ini sebaiknya ungkapkan saja padaku, aku berjanji tidak akan bilang-bilang tentang ini pada siapapun lho!"
Shou mengedipkan mata kanannya.
Dewi Raffsha pun menghela nafas panjang.
" Baiklah kalau itu mau mu."
" Aku tidak memaksa kok jika kamu tidak ingin mengatakannya."
" Kau ini……"
__ADS_1
Dewi Raffsha geram, dia memukul kepala Shou tanpa rasa belas kasihan.
" Adududuh…." Ucap Shou sambil mengusap-ngusap kepalanya yang sakit.
" Rasakan itu, hmmph!"
Dewi Raffsha memalingkan wajahnya, dia masih kesal dengan perkataan Shou yang seperti mempermainkannya itu.
" Maaf, maaf, yang terakhir itu aku becanda. Aku benar-benar ingin kamu menceritakannya padaku."
Dewi Raffsha pun menghela nafas lagi.
" Sebenarnya dulu….."
Dewi Raffsha kemudian bercerita sesuatu tentang masa lalu nya pada Shou.
Sementara itu di depan gerbang istana kekaisaran terlihat puluhan ribu iblis sedang berbaris dengan rapi sambil membawa senjata.
" Siapkan senapan sihir! " Ucap salah seorang prajurit.
Lalu diantara puluhan ribu iblis itu terlihat Riss yang sedang berjalan maju.
" Riss, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Chentya.
" Mereka ingin bertemu dengan ratu mereka." Jawab Riss tanpa basa-basi.
" Ratu?"
" Mungkin yang dimaksud nya itu aku." Ujar Rezina.
Dia maju dan kemudian melompat dari atas dinding benteng.
Miasma hitam bercampur ungu terlihat, itulah ciri khas satu-satu nya yang dimiliki oleh sang Ratu iblis.
" Itu benar-benar dia." Ucap salah seorang iblis.
Kemudian puluhan ribu iblis itu pun langsung bertekuk lutut kecuali Riss.
__ADS_1
" Hei, kenapa kamu masih berdiri seperti itu? " Tanya salah seorang iblis.
" Sudah ku bilang dia itu temanku, jadi jika aku bertekuk lutut padanya seperti kalian, maka itu akan mempengaruhi pertemanan kami, bukankah begitu Rena?"
" Tentu saja!" Jawab Rezina.
" Bukankah namanya Rezina, apakah kamu membohongi kami?"
" Tentu saja tidak, itu adalah panggilanku untuknya karena Rezina itu menurutku agak ribet, jadi ku panggil saja Rena."
Iblis tadi pun terkejut mendengar jawaban Riss.
" Apakah kalian sudah percaya?" Tanya Riss.
" Iya, tapi…."
" Tapi apa?"
" Kenapa dia berada disisi manusia-manusia itu, seharusnya dia menghabisi mereka semua."
Prajurit kekaisaran pun langsung bersiaga membidik iblis-iblis itu.
" Jaga ucapanmu!" Ucap Riss.
" Tapi mereka hanyalah makhluk tak berguna di dunia ini, seharusnya mereka lenyap saja!"
Tiba-tiba diatas iblis tersebut terlihat bola hitam yang cukup besar.
" Apakah kau ingin mati?"
Rezina menatap iblis tadi dengan sinis, iblis tersebut pun terlihat gemetaran dan kemudian bersujud.
" Maafkan aku!"
Mata Rezina tiba-tiba berubah menjadi merah pekat dengan titik hitam di tengahnya, rambutnya juga berubah menjadi warna merah darah.
" Jika kau berkata seperti itu lagi, aku akan membuat mu merasakan kematian yang paling menyakitkan!"
__ADS_1