
“Kakek, kakek itu jangan terlalu takut pada mereka. Kita kalah seribu tahun lalu itu karena leluhur kita kurang sigap dalam menghadapi perang itu. Jika saja mereka...”
“Hentikan Lina!” Ujar Tetua sambil menunjuknya, “jika kamu berani mengatakan seperti itu lagi, aku akan....”
“Akan apa, memukulku, mengurungku, mengusirku, aku tak peduli. Yang jelas kakek itu terlalu penakut, kita tidak akan bisa berkembang jika terus seperti ini. Kita akan terinjak-injak lagi jika peperangan kembali dimulai!” Setelah mengatakan isi hatinya, Putri Lina bergegas pergi.
“Lina, hei Lina!” Ucap Tetua menghentikannya. “Dasar tak tahu diri.” Lanjutnya. Dia menghela nafas, kemudian pandangannya beralih pada Shou.
“Halo!” Shou menyapanya.
“Iya, kau manusia dari kota mana?” Tanya Tetua sambil meneguk teh hitam.
“Jika aku beritahu, mungkin kakek takkan percaya padaku.” Jawab Shou.
“Katakan saja dan aku akan menyuruh orang-orangku untuk mengantarmu pulang.”
Shou terlihat senang, namun ia berpikir sejenak.
“Jika kalian berniat mengantarku pulang, maka aku ingin gadis kecil itu dipulangkan ke orangtuanya.”
“Gadis kecil yang mana?” Tanya Tetua tak paham.
“Biarkan aku membawanya kemari!” Sambil agak menunduk Zoe menawarkan diri.
__ADS_1
“Baiklah, bawa gadis kecil itu kemari!” Ucap Tetua.
Zoe pun lekas bergegas keluar, dan beberapa saat kemudian dia kembali bersama gadis kecil itu serta Ranzie, yang membawa katananya Shou.
“Dia masih belum sadar?” Tanya Shou. Ranzie pun mengangguk, “sepertinya ia akan bangun sekitar 2 sampai 3 jam lagi.”
“Begitu ya,” Shou mengangguk paham. “Tetua, maaf sedikit lancang, tapi apakah kami bisa tinggal disini sampai gadis kecil ini siuman?” Tanya Shou.
“Tentu saja, kalian boleh tinggal disini semau kalian.” Tetua menerimanya dengan sepenuh hati. “Ran , siapkan makanan dan pakaian untuknya. Baju yang ia pakai sudah agak kotor dan compang-camping.”
“Baik tetua!” Ranzie mengangguk. “Hei kamu, siapa namamu?”
“Shou!”
“Baiklah, kalau begitu tetua, aku pamit. Terimakasih bantuannya!” Shou pun bergegas berdiri dan kemudian berjalan keluar mengikuti Ranzie.
“Tetua kalian itu terlalu baik ya...” Ujar Shou sambil melihat sekeliling.
“Kamu memujinya atau meledeknya?” Tanya Ranzie dengan sorot mata tajam.
“Tidak dua-duanya, aku hanya mengatakan yang sebenarnya.” Jawab Shou. “ Oh iya, apakah kau tak yakin dengan apa yang kubilang sebelum sampai kesini?”
“Yang mana?”
__ADS_1
“Itu, pas kubilang aku bukan manusia dari dunia ini, kalian sepertinya tak percaya.”
“Tentu saja, mana mungkin aku percaya dengan cerita seperti itu.”
“Akupun tak percaya, soalnya ketika aku kesini seolah-olah dunia kita itu memang menyatu, hanya saja ada perbedaan kebudayaan diantara dunia kita. Tadi kau bilang bahwa seribu tahun lalu pernah terjadi peperangan antar Klan, tapi didunia ku aku tak pernah mendengar tentang hal itu sama sekali.”
“Apa maksudmu?”
“Bisa dibilang dimensi kita itu berbeda, dan tanpa sengaja aku berpindah ke dimensi kalian. Mungkin diriku ini terlihat seperti makhluk yang ada didunia kalian, tapi sebenarnya aku berasal dari tempat lain. Makanya kalian tak percaya dengan perkataanku barusan, lagipula jika aku tak membawa buktinya, kalian takkan percaya padaku kan? Sepertinya di dunia ini, umat manusia telah memberikan kesan buruk bagi kalian semua.”
“Tentu saja, mereka suka membunuh, mencuri, dan membakar semua yang kami miliki. Aku berharap mereka semua mati saja!”
“Sepertinya kelakuan mereka sudah melewati batas, aku harus merubahnya.”
“Merubahnya?” Ranzie menatap Shou tak percaya. “Apakah kau yakin, kamu juga bagian dari mereka.”
“Iya, aku yakin.” Balas Shou menatapnya dengan serius. Namun tatapannya terasa hangat dan memancarkan sinar harapan.
“Akan kupegang janjimu, oleh karena itu aku akan membantumu mewujudkannya.”
“Terimakasih!”
“Tidak, akulah yang harus berterimakasih.Terimakasih banyak,Shou!”
__ADS_1