
Kerajaan Warden, ialah satu-satunya tempat tinggal para manusia untuk bernaung di dimensi ini. Jika dibandingkan kekaisaran Rogio, mungkin ini hanya setengahnya.
Meskipun begitu, nyatanya di kerajaan ini, memiliki banyak benteng-benteng kecil. Karena sebenarnya mereka berniat memperluas daerah mereka, akan tetapi saat ini, itu justru malah membuat daerah-daerah yang menjadi perbatasan, mudah untuk ditaklukkan.
Setelah 2 minggu perjalanan, Shou beserta rombongannya akhirnya sampai di ibu kota kerajaan Warden.
Sepanjang perjalanan, Shou melihat beberapa asap dari kejauhan. Dia geram, akan tetapi dengan kondisinya saat ini, dia tidak bisa langsung datang dan melenyapkan iblis-iblis itu. Dia berharap, ia cepat menuju istana dan mendiskusikan hal ini.
Saat rombongan Shou dan yang lainnya hendak masuk ke dalam ibu kota kerajaan tersebut, mereka dihadang oleh beberapa penjaga yang bertugas di gerbang. Mereka juga bahkan menjadi pusat perhatian semua prajurit yang ada di atas benteng.
"Siapa kalian, ada keperluan apa kalian kemari?"
Shou dan keempat orang lainnya turun dari kendaraan raksasa mereka.
Erisa menunjukan sebuah benda berukuran kecil berbentuk sebuah logo perisai dan ditengahnya terdapat 2 pedang yang disilangkan dan sebuah titik merah bagian atasnya.
__ADS_1
para penjaga gerbang itu pun menunduk hormat, "maaf tuan putri, silakan masuk!"
Gerbang pun terbuka, rombongan Shou akhirnya masuk ke dalam kerajaan dan menuju istana.
***
"Apa? putriku kembali? Syukurlah."
Pria yang sedang duduk di tahta itu adalah Raja kerajaan Warden, Leophard.
Saat rombongan Shou sampai di istana, mereka disambut oleh puluhan ribu orang prajurit yang mengenakan jubah putih, dibagian belakang jubah tersebur terlihat logo perisai dengan dua pedang yang disilangkan. Mereka semua bertekuk lutut saat seseorang mengisyaratkannya.
"Hormat pada tuan Putri!"
Shou dan yang lainnya terus maju, sampai akhirnya mereka berpapasan dengan orang yang memakai jubah berwarna merah, yang tak lain adalah Raja kerajaan ini.
__ADS_1
Shou bersama yang lainnya pun turun, Erisa langsung berlari dan memeluk ayah tersayangnya tersebut.
"Papa, maafkan aku!" Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu.
"aku sangat menyayangimu Erisa, jangan kabur dari rumah lagi!" Pria itu meneteskan air matanya, setelah sekian hari menghilang, akhirnya ia bisa berjumpa dengan buah hatinya lagi.
Setelah reuni mengharukan itu, Shou dan yang lainnya diajak masuk ke dalam istana. Termasuk 100 prajurit yang dibawanya.
Mereka disuguhi berbagai makanan yang cukup banyak, meskipun kelihatan biasa-biasa saja, akan tetapi rasa nya tak kalah dengan koki kekaisaran.
Saat makan siang tersebut, sang raja didampingi oleh beberapa pengawalnya. Keempat orang yang menjadi pengawal pribadi sang raja itu tak lain adalah 4 komandan tertinggi ksatria suci. Satu orang saja bisa menandingi seribu ksatria suci biasa, karena keempatnya berada disini, keamanan sang raja setara dengan perlindungan empat ribu ksatria sihir.
Tetapi tetap saja, para prajurit yang dibawa oleh Shou mengenakan zirah dengan kualitas yang sangat tinggi, dan juga membawa senjata aneh yang tak pernah mereka lihat.
Selain itu, terlihat seorang gadis Dark Elf menatap sang raja tajam. Pengawalnya itu ingin menghentikan kelakuan gadis tersebut, akan tetapi sang raja menghentikannya.
__ADS_1