
Dibawah terik matahari, Chentya dan Balx berada di tengah-tengah lapangan rumput yang luas itu.
Di pinggir-pinggir lapangan para prajurit sedang duduk beristirahat sambil ingin melihat kedua orang kuat itu bertarung.
" Apakah kau yakin, jika kau kalah berarti ini adalah kemenangan ke-50 ku." Ucap Chentya penuh percaya diri.
" Aku tidak akan membiarkan itu, sekarang akan ku balikkan skor nya." Ucap Balx Geram.
Kedua orang itu sudah bersiap-siap dan mengeluarkan senjata pamungkas masing-masing.
Chentya mengacungkan sebuah pedang panjang nan tipis yang berukuran setinggi manusia dan Balx mengangkat kedua kapak raksasa nya.
" Hyaahhh!"
Pertarungan pun dimulai, Balx melesat dengan secepat angin dan melancarkan serangan pertamanya namun Chentya sudah bisa menebaknya, dia melompat ke atas kemudian berputar-putar dan melancarkan serangan dari belakang.
Refleks balx menyelamatkannya dari tebasan pedang panjang itu, dengan sigap Balx memutarkan kapaknya dan menangkis tebasannya, kedua senjata itu pun beradu.
Chentya melompat ke belakang, dia tahu jika mengadu kekuatan dialah yang akan kalah.
" Sepertinya kamu memang lebih kuat daripada yang dulu." Gumam Chentya sambil tersenyum.
" Tentu saja, kau tidak bisa membandingkan diriku yang sekarang dengan diriku yang dulu."
Balx tersenyum puas.
" Jangan puas dulu, aku masih belum serius."
Kemudian Chentya pun melompat ke atas dan berputar.
__ADS_1
" Black Shadow!"
Tiba-tiba Chentya menjadi sangat banyak, dan semuanya mengelilingi Balx.
" Kau menggunakan teknik licik lagi, tetapi aku takkan tertipu lagi. Karena yang asli pastinya berada…"
"Disitu!" Balx memutarkan kapak nya kebelakang. Kapak tersebut pun beradu dengan pedang nya Chentya, dan Chentya pun melompat lagi ke belakang.
" Ternyata teknik itu sudah tidak berlaku lagi bagi mu. " Gumam Chentya.
" Tentu saja, kali ini aku bisa menebak semua gerakanmu dengan mudah." Ucap Balx penuh percaya diri.
" Disappear."
Tiba-tiba dalam sekejap Chentya menghilang.
" Eh, kemana dia?"
" Jangan-jangan dia melarikan diri, sepertinya aku yang sekarang terlalu kuat untuk dia lawan."
Balx tertawa dengan lantang.
Lalu dari belakang ada yang menyentuh pundaknya.
" Siapa itu?"
Balx langsung membalikkan badan nya.
Lalu beberapa saat kemudian Chentya muncul.
__ADS_1
" Bagaimana dengan teknikku barusan?" Tanya Chentya. " Jika aku berniat, aku sudah bisa menempelkan senjataku di tubuhmu lho." Lanjutnya sambil tersenyum.
Balx pun berkeringat.
" Sial, kenapa dia punya sihir seperti itu, benar-benar memuakkan."
Balx terlihat agak tegang, kaki nya pun sedikit gemetaran namun ia tahan.
" Bagaimana, apakah kau masih ingin lanjut? " Tanya Chentya.
" Tentu saja, bodoh!" Jawab Balx dengan nada yang membuat kesal.
" Kalau begitu aku mulai, disappear!"
Chentya menghilang lagi.
" Jika aku tidak bisa menemukan nya ,aku tinggal menyerang ke semua tempat yang berkemungkinan dia berada disana, kalau begitu semua arah!"
" Red zone!" Gumam Balx pelan.
Lalu tiba-tiba muncul sebuah lingkaran raksasa berwarna merah mengelilinginya dan puluhan kapak dengan berbagai ukuran dan bentuk muncul dari bawahnya.
Kapak-kapak itu pun berputar-putar dan bergerak di sekitar Balx dengan cepat.
" Sial, kalau begitu aku tidak bisa mendekatinya. Aku hanya bisa mengandalkan serangan jarak jauh ku."
Lalu, Chentya mengeluarkan beberapa shuriken dari sihir penyimpanannya.
Kemudian dia melemparkan semua shuriken itu ke arah Balx.
__ADS_1
" Mirror!"
" Hmmph, serangan seperti itu tidak akan bisa mengenaiku."