
Didalam tenda kecil yang ukurannya tak lebih dari 5×6 meter itu, Shou bercakap-cakap dengan tetua dan didampingi oleh perinya. Dia sangat menempel pada Shou, tangannya memeluk erat lengan Shou. Dan itu membuat Shou merasa kurang nyaman, tetapi sebisa mungkin dia mencoba untuk menghiraukannya dan terfokus pada percakapan.
“Bagaimana keadaan putri Lina, apakah dia mengalami luka yang serius?” Tanya Shou.
“Jangan pikirkan dia, dia memang selalu begitu. Menantang seseorang yang kekuatannya jauh lebih besar daripadanya, jadinya seperti itu.” Ujar tetua seolah-olah dia tak terlalu memedulikan putri Lina.
“Apakah dia suka bertarung seperti itu?” Tanya Shou lagi.
Tetua itu pun sedikit tertawa, sepertinya ia mengingat kejadian lucu di masa lalu nya.
“Iya, dulu sekali ada seorang pria yang sangat gagah berani dan sangat ahli dalam bermain pedang. Dia selalu berlatih setiap harinya, dan Lina yang masih berumur 5 tahun itu tertarik dengan pria tersebut dan juga pedangnya.
***
“Hei, apakah kamu mau mengajari aku berpedang?” Tanya putri Lina.
Pria bertubuh besar itu membalikkan badannya, “eh, ada putri. Maaf tadi kamu bilang apa, aku sedang serius berlatih.”
Putri Lina pun mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
“Putri, apakah kamu yakin? Tapi maaf, sepertinya aku tak bisa.” Pria tersebut menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
“Kenapa, aku ini seorang putri. Yang akan menjadi pemimpin berikutnya di klan kita ini adalah aku tahu. Jadi aku harus bisa menggunakan pedang.”
Si pria tersebut pun kelihatan bimbang, memang yang dikatakannya ada benarnya. Tetapi dia masih terlalu dini untuk memulai.
Hari pun terus berlalu,sudah seminggu setelah itu. Putri Lina terus-terusan meminta pada lelaki tersebut untuk mengajarkan ia berpedang. Dan karena ia selalu menolaknya, akhirnya putri Lina pun menantangnya duel.
“Begini saja, jika aku berhasil mengalahkanmu, kau harus mengajariku berpedang!” Putri Lina menghunuskan pedang kayu khusus untuknya,yang ukurannya 2 kali lebih kecil dari yang biasa.
“Tapi...” Pria tersebut kelihatan ragu.
“Apakah kau takut padaku?” Gumam putri Lina dengan berlagak sombong. Dia sengaja melakukan itu supaya pria tersebut terpancing dan mau berduel dengannya.
“Kalau begitu ayo kita berduel, kalau kau menolak berarti kau pengecut.”
Pria tersebut pun akhirnya tersulut, setelah berusaha sabar menghadapi kelakuannya putri Lina selama seminggu ini, emosi yang ia bendung meledak seketika.
“Baiklah, aku akan berduel denganmu. Jangan harap aku akan memberi belas kasihan!”
__ADS_1
“Apakah kau yakin, seorang lelaki dewasa yang sangat ahli berpedang, ingin melawan seorang anak kecil dengan seluruh kemampuannya. Apalagi disini aku adalah seorang perempuan.”
Lelaki itupun semakin kesal, ia benar-benar ingin memberi pelajaran bagi putri Lina.
Mereka pun akhirnya berduel di tempat latihan, peraturannya terrlihat cukup adil. Si lelaki harus membuat putri Lina menyerah, dan putri Lina harus setidaknya berhasil menyerang satu kali dan mengenai badan si lelaki.
Walau dalam peraturan terlihat cukup adil, namun di medan pertandingan mereka sangat jelas berat sebelah. Putri Lina dapat terhempas dalam satu serangan kecil, sedangkan pedang kecilnya itu tak bisa menggapai si lelaki.
Namun,setelah ber jam-jam,entah puluhan atau ratusan kali putri Lina bangkit dan jatuh lagi.Dia tak pernah mengatakan kata “MENYERAH” sekalipun.
SI lelaki pun kelihatan ragu untuk melanjutkan pertarungan, bagaimanapun putri Lina tetaplah penerus dari klan Dark Elf.Jika dia kenapa-kenapa karena si lelaki tersebut, ia takkan bisa berbuat apa-apa.
“Putri, mari kita hentikan duel ini!” Ucap Si lelaki.
“Apakah kau menyerah?” Tanya Putri Lina. “kalau begitu, kamu harus mengajariku berpedang.
Si lelaki itupun berpikir sejenak,tapi pada akhirnya dia tak mau mengalah.
“Tidak, kita anggap seri saja. Bagaimana, soalnya dirimu pun belum berhasil menyerang diriku sekalipun.” Saran si lelaki.
__ADS_1
“Aku tidak ingin seri, dan aku pun tidak ingin kalah, aku akan mengayunkan pedangku ini lagi, lagi dan lagi, sampai berhasil mengenaimu. Jika kamu tak ingin mengalah, bagaimana kalau kita tanding ulang besok?”
Si lelaki itu pun akhirnya meng-Iya kan permintaan putri Lina, dia terkagum dengan kegigihan putri Lina, yang tak mau menyerah, bagaimanapun keadaannya.