
Keesokan harinya
“ Hmmm, pilih yang mana ya?” Tanya Lusy bingung.
“ Kalau menurutku yang warna putih itu bagus!” Ucap Rosse sambil menunjuk sebuah tongkat sihir di dalam rak.
“ Iya, aku pilih yang itu aja.” Ujar Lusy sambil mengambil tongkat sihir yang di sarankan Rosse.
“ Shou, apakah kau akan membeli perlengkapan baru?” Tanya Lorrie.
“ Benar juga, kita akan masuk akademi besok. Jika memakai perlengkapan yang ku buat itu akan terlalu mencolok.” Ujar Shou.
“ Memangnya kenapa Shou?” Tanya Rosse. “ padahal alat sihir yang kau buat lebih bagus daripada semua yang ada disini.” Lanjutnya.
“ Justru karena itu aku tidak mau memakai nya. Jika aku memakai peralatan sihir yang ku buat maka akan terjadi kehebohan yang sangat besar di akademi.” Jawab Shou.
“ Kalau begitu biar aku saja yang memakai peralatan sihir mu!” Ujar Lorrie.
“ Tidak, lebih baik Kita memakai peralatan sihir yang standar di pakai oleh siswa-siswa akademi sihir.” Ujar Shou.
__ADS_1
“ Benar, jika kita memakai perlengkapan khusus itu bisa dibilang tidak adil bagi siswa-siswa yang lain.” Ujar Rosse.
“ Justru setiap orang itu pasti berbeda-beda, pasti di akademi sihir juga ada yang memakai peralatan bagus dan yang biasa-biasa saja.” Ujar Lorrie.
“ Menurutku perlengkapan sihir tidak terlalu berpengaruh bagi kita, jadi lebih baik kita memakai perlengkapan yang biasa saja.” Ujar Riss.
“ Aku setuju!” Ucap Shou. Dia tersenyum kepada Riss dan Riss pun terlihat tersipu malu.
“ Memang benar sih, tapi apa salahnya jika kita memakai peralatan sihir kita?” Tanya Lorrie.
“ Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya Lusy setelah membayar tongkat sihir nya.
“ Bagaimana menurutmu, apakah kami harus memakai perlengkapan sihir yang standar di pakai Siswa akademi sihir atau perlengkapan sihir punya kami sendiri yang jauh lebih bagus?” Tanya Rosse.
“ Eh, lebih baik kalian saja yang putuskan itu.” Jawab Lusy.
“ aku ingin pendapat mu jika kau berada di kondisi kami.” Ujar Rosse.
“ Eh, Jika aku di posisi kalian aku akan lebih memilih perlengkapan sihir yang standar karena itu membuat kita lebih mudah akrab dengan yang lain.” Ujar Lusy.
__ADS_1
“ Benar juga.” Ujar Lorrie.
“ Kalau begitu sudah di putuskan, Kita akan memakai peralatan sihir standar.” Ujar Shou. Mereka semua pun memilih peralatan sihir yang akan mereka gunakan ketika di akademi sihir.
Seharian itu setelah membeli perlengkapan sihir, mereka pergi berkeliling kota.
“ Sepertinya dampak sihir nya cukup besar.” Ujar Shou ketika melihat banyak rumah yang sedang diperbaiki.
“ Tenang saja, kata ayahku dia mendapatkan bantuan dari kerajaan untuk merenovasi rumahnya. Jadi semuanya akan segera beres.
“ Aku jadi merasa bersalah pada Raja Asters, membuatnya harus mengeluarkan uang ganti rugi.” Ujar Shou.
“ Kau tidak boleh merasa bersalah, itu memang kewajiban kerajaan Escrow ini. Dan juga seharusnya kau senang karena berhasil membuat Dewa Zeno melepaskan kutukannya.” Ujar Lorrie.
“ Itu benar Shou, Bahkan seharusnya kerajaan ini yang berterimakasih padamu!” Ujar Rosse.
“ Kalian memang ada benarnya, tetapi tetap aku merasa bersalah. Seharusnya aku menyerang nya sebelum dia mengeluarkan sihir nya, dengan begitu dampaknya tidak akan sebesar ini.” Ucap Shou.
“ Tidak apa-apa, Coba lihat mereka!” Ujar Lusy sambil menunjuk ke arah orang-orang yang sedang memperbaiki rumahnya.
__ADS_1
“ Mereka terlihat sangat senang meskipun rumahnya terbakar, aku juga begitu. Meskipun rumahku terbakar, tetapi aku sangat senang karena kutukan yang ada di kota ini sudah dilenyapkan, dan itu semua berkat mu.” Jelas Lusy. Shou pun terlihat lebih gembira Setelah mendengar hal itu