
Missel dan yang lain menyambut kedatangan Shou dengan begitu meriah, semuanya tersenyum lebar sambil minum-minuman keras.
“Padahal aku yang traktir, tapi kalian malah memulainya tanpa diriku.” Richard menghela nafas.
“Kamu yang terlambat setengah jam malah menyalahkan kami, jika tidak ingin ditinggalkan maka datanglah lebih awal.” ucap Kai yang sudah setengah mabuk.
Richard menghela nafas, ia tak memedulikan hal itu lagi dan ikut minum bersama yang lain.
“Kamu juga ikut minum yuk Shou, gluk.” Missel menyodorkan gelasnya.
Aroma dari minuman itu cukup menyengat, Shou menolak permintaan itu dengan halus.
“Aaaah, padahal aku ingin melihat wajahmu yang manis saat mabuk.” Penyihir perempuan itu menempelkan pipinya di meja, Shou menjadi gemas dan ingin mengabadikan momen tersebut.
__ADS_1
Tapi di dunia ini sepertinya belum ada pengetahuan tentang kamera, Shou bisa saja merakitnya namun membutuhkan waktu yang sangat lama. Apalagi dia ingin menyembuhkan penyakit unik ibunya Lisa, yang ternyata adalah kutukan neraka. Kutukan tersebut akan menyerap imunitas yang nantinya akan dikonversi menjadi elemen kegelapan, setelah elemen itu menumpuk begitu di dalam tubuh akan membuat orang yang menderita berubah menjadi iblis tanpa perasaan. Dia akan memiliki kekuatan di atas rata-rata, bahkan para iblis biasa takkan bisa menandinginya.
Tidak setiap orang bisa terkena kutukan itu begitu saja, setidaknya ada 2 syarat yang harus terpenuhi. Tapi itu tidak terlalu penting sekarang, lebih baik memikirkan cara melepaskan kutukan tersebut.
Semua buku yang ada di perpustakaan akademi kerajaan Kloravia telah Shou baca semuanya tanpa terlewat satu lembar pun, dan di antara semua itu tak ada sihir yang bisa melepaskan kutukan neraka.
Kutukan memang jarang digunakan, jadi di perpustakaan akademi tidak terlalu banyak buku tentang kutukan. Lagi pula kutukan adalah sihir terlarang, hanya sebagian murid yang boleh mengakses tentang kutukan di akademi tersebut.
“Shou, setidaknya makanlah jika tidak ingin minum. Jangan melamun seperti itu, mari kita bersenang-senang.” ujar Richard.
Saat Shou mengangguk, tiba-tiba ada seseorang merangkul dari belakang. Sepertinya seorang perempuan, karena terasa sesuatu yang empuk dibalik kepalanya.
“Yo, kita minum bersama-sama Shou. Kamu pasti mau ‘kan kalau bersamaku, asetku jauh lebih besar darinya.”
__ADS_1
“Reia sialan! Shou milikku, jangan nodai dia dengan buah melon yang busuk itu!” Missel menghentakkan gelas minumnya ke meja hingga airnya tumpah cukup banyak.
“Oh, kamu mengatakan buah melon ini busuk. Bagaimana denganmu Shou, apakah yang empuk-empuk ini adalah buah melon busuk?” Reia membuat Shou semakin tenggelam dan terus mempermainkannya, hal itu benar-benar membuat Missel geram.
Shou sendiri wajahnya sudah begitu merah, terutama di bagian telinganya. Dia tak bisa mengucapkan apa-apa, tak tahu juga harus bertindak seperti apa.
Missel menciptakan fire ball di tangannya, bola api itu berubah warna dari merah menjadi biru.
“Cepat minggir dari Shou, jika tidak aku akan membakarmu hingga menjadi debu.” ucap Missel begitu serius.
“Oh, coba saja. Jika kamu ingin membakar pria imut ini bersamaku, aku rela.”
Reia membuat wajah Shou berhadap-hadapan langsung dengannya, dia semakin mendekat dan mendekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. Saking emosi, Missel tanpa sadar melepaskan fire ball ke sembarang arah.
__ADS_1