Isekai No Tensai

Isekai No Tensai
CH-31 Hari Pertama


__ADS_3

Shou, Lorrie, dan Rosse akhirnya beristirahat setelah membereskan mayat beruang raksasa yang bergelimpangan.


Sebagian besar mayat beruang tersebut dibakar oleh Rosse di tempat yang agak jauh dari rumah kayu buatan Shou. Selain agar apinya tidak menyambar, juga untuk menjauhkan bau tak sedap. Sementara itu, sisanya dibereskan dan dijadikan stok makanan sementara.


“Kenapa dagingnya harus dijemur Shou? Apakah rasanya akan lebih enak bila dijemur?” tanya Rosse penasaran.


Lorrie menggeleng, “Bahkan kamu tidak tahu metode pengeringan sesederhana ini.” Ledeknya.


Rosse hampir memukul Lorrie, bahkan Lorrie pun sudah siap-siap menghindar.


Sambil memalingkan wajahnya, samar-samar suara Rosse menjadi serak.


“Kalau tidak mau memberitahu, tak perlu meledek juga. Aku memang kurang pengalaman, tapi jangan menindasku terus.”


Lorrie merasa bersalah, namun mulut dan bibirnya tak mau berbicara. Ingin sekali dirinya meminta maaf, tapi setelah beberapa waktu berlalu keheningan belum juga terpecahkan.


Shou akhirnya berinisiatif menghibur Rosse, menjelaskan tentang sistem pengeringan dan pembuatan dendeng.

__ADS_1


Rosse akhirnya kembali tersenyum, kini Shou tinggal mengurus Lorrie yang saat ini malah melamun.


Shou duduk di samping Lorrie dan menepuk bahunya, “Apakah kamu merasa bersalah padanya?” tanyanya sambil tersenyum.


“Ti-tidak, mana-mana mungkin aku ....” Lorrie kelihatan sangat gugup, dia melirik sekejap ke arah Rosse dan langsung memalingkan wajahnya seketika.


“Sudahlah, cepat katakan saja daripada perang dingin ini terus berlanjut.” jelas Shou, dia menarik Lorrie ke hadapan Rosse.


“Eh, tunggu-tunggu, aku tidak ....” Lorrie hampir tersungkur karena dorongan Shou, saat ia mendongak Rosse sudah ada tepat di depannya.


“Anu ..., waktu itu aku tidak terlalu memerhatikan perasaanmu. Tak seharusnya aku meledekmu, setiap orang punya keahlian dan pengalamannya masing-masing. Aku tidak akan memintamu memaafkanku, tapi kuakui aku memang salah.”


Rosse menghela nafas, “Aku memaafkanmu.” ucapnya pelan.


Mata Lorrie terbelalak, “Benarkah?”


Rosse mengangguk, “Aku juga sebenarnya ingin meminta maaf saat itu meledekmu tak memiliki mimpi. Tak seharusnya aku mengatakan itu, jadi aku ingin minta maaf.” jelasnya.

__ADS_1


“Yosh, akhirnya kalian berdua berbaikan.” Shou merangkul keduanya sambil tersenyum, hanya saja di balik senyuman itu terdapat rasa sakit yang tak bisa diungkapkan.


Di malam hari, terdengar suara lolongan serigala berulang kali. Namun Shou dan yang lainnya sama-sekali tak peduli, memilih untuk bersantai menghabiskan malam itu dengan ketenangan.


Seluruh bagian rumah kayu yang dibuat oleh Shou telah dipasang sihir pelindung, jadi jika ada monster mendekat maka mereka akan terpelanting beberapa meter.


“Ah, aku kalah lagi. Sialan!” Lorrie menjambak rambutnya sendiri karena stres, sudah puluhan kali ia kalah bermain catur melawan Shou.


Rosse sendiri juga merasa sedikit frustrasi, dia juga kalah beruntun tanpa sekali pun kemenangan.


Shou bermain melawan mereka berdua dalam satu waktu, hanya sekilas lirikan ia langsung menggerakkan bidak.


Karena terus-terusan kalah oleh Shou, Lorrie dan Rosse memutuskan untuk mengakhiri permainan. Mereka keluar dari rumah kayu untuk mencari monster, melampiaskan kekesalan itu pada mereka.


Shou hanya mengamati dari jauh, membantu sedikit-sedikit saat diperlukan. Tapi ternyata hal di luar dugaan terjadi, Rosse menggunakan sihir apinya tanpa perhitungan dan kini membakar belasan pohon sekaligus.


Jika api tersebut tidak segera dipadamkan, api akan terus merambat ke seisi hutan dan membakar segalanya.

__ADS_1


__ADS_2