
" Wah, indah sekali! " Ucap Rosse takjub melihat hamparan bunga yang begitu indah
Rosse, Lacasina dan juga Lisa bergegas untuk menghampiri hamparan bunga tersebut.
" Ternyata ada taman bunga juga disini, dan juga sangat indah." Ujar Shou.
" Benda yang berputar-putar itu apa?" Tanya Lorrie.
" Di dunia asalku itu disebut kincir angin. Itu biasanya di gunakan oleh orang-orang untuk membangkitkan tenaga listrik atau juga bisa digunakan sebagai mesin pembuat roti." Jelas Shou.
" Listrik, Roti?" Ucap Lorrie bingung.
" Oh iya, aku belum pernah melihat roti lagi semenjak aku pindah dari dunia asalku. Apakah kamu tahu makanan yang dinamakan roti?" Tanya Shou.
" Tidak, makanan seperti apa itu?" Ucap Lorrie keheranan.
" Roti terbuat dari gandum, rasanya renyah, enak, dan juga manis. Di dunia asalku roti sudah terkenal hampir di semua tempat, hanya orang-orang pedalaman atau orang-orang yang tinggal di tempat-tempat yang sangat terpencil yang tidak tahu tentang roti. Roti juga sering dijadikan makanan-makanan pokok oleh sebagian orang karena gizi yang terkandungnya tidak jauh berbeda dengan nasi." Jelas Shou.
" Sepertinya Roti itu sangat enak, aku jadi ingin mencobanya." Ujar Lorrie semangat.
" Nanti setelah kembali ke kekaisaran aku akan membuat alat pembuat roti."
" Benarkah?" Tanya Lorrie.
__ADS_1
" Tentu saja!" Jawab Shou.
" Sepertinya aku juga ingin tahu rasanya roti." Ujar Dewi Laxmi.
" Tenang saja, aku pasti akan membuatkannya untuk kalian juga."
Dewi Laxmi pun terlihat senang.
" hmmm...., aku penasaran kenapa disini ada kincir angin, kalian gunakan untuk apa kincir angin itu?" Tanya Shou.
" Sebenarnya kami juga tidak tahu kenapa kincir angin itu ada disini, tetapi sejak pertama kali kami tinggal disini kincir angin itu sudah ada disana." Jelas Dewi Raffsha.
" Lalu kapan kalian pertama kali tinggal disini?" Tanya Shou lagi.
" Tercipta? " Ucap Shou penasaran.
" Ya, sepertinya kami juga diciptakan oleh seseorang namun tidak tahu siapa. Bagaikan seorang bayi yang ditinggalkan didalam sebuah kardus, dia takkan pernah tahu siapa orang tuanya." Jelas Dewi Raffsha.
Seketika matanya meredup, dari sorot pandangnya terlihat kesedihan dan kekesalan yang bercampur aduk menjadi amarah, namun dewi Raffsha memendam jauh-jauh amarahnya itu.
Shou yang menyadari itu dengan segera mengubah topik pembicaraan.
" Oh iya, selain ini apakah ada tempat lain yang menarik?" Tanya Shou.
" Tentu saja ada, aku yakin kamu akan menyukainya." Jawab Dewi Laxmi.
__ADS_1
" Kalau begitu ayo kita pergi ke sana!" Ujar Shou semangat.
" Tetapi sepertinya mereka masih ingin bermain disini. " Ujar Dewi Shelly sambil melihat ke arah ketiga perempuan yang sedang merangkai bunga.
" hmmm...."
" Kenapa kamu tidak pergi bersama Laxmi saja, aku dan Raffsha akan menunggu mereka disini." Ujar Dewi Shelly.
" Baiklah kalau begitu, apakah dewi tidak keberatan?" Tanya Shou.
" Tentu saja tidak, ayo kita pergi!" Gumam Dewi Laxmi.
" Ayo Lorrie!" Ucap Shou.
" Tidak, aku akan tinggal disini sebentar lagi, kamu pergi berdua saja dengannya!"
" Eh... tapi baiklah , dewi tidak apa-apa kan hanya kita berdua yang pergi?"
Mendengar itu muka dewi Laxmi memerah, dia terlihat gugup dan lebih kaku dari sebelumnya.
" Tidak apa-apa, ayo kita pergi!" Ucapnya agak kaku.
Namun dia berusaha untuk memberanikan diri karena dia yakin ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuknya.
Sebelum pergi Dewi Shelly sempat mengacungkan jempol padanya dan Lorrie pun juga melakukan hal yang sama, sepertinya mereka berdua telah merencanakan hal ini.
__ADS_1