
" Selamat pagi Shou, kami baru saja selesai menghidangkan sarapannya, ayo dimakan sebelum dingin!" Gumam Rosse.
" Kemana para dewi?" Tanya Shou.
" Katanya mereka tadi ingin melakukan ritual untuk mengumpulkan Olster. " Jawab LiShou,
" Mereka sudah tidak perlu melakukan nya lagi." Jelas Shou gembira.
" Jangan-jangan…" Ucap Rosse terpaku.
" Iya, aku sudah berhasil menyelesaikan nya."
Rosse beserta yang lainnya pun terkejut seketika dan terlihat sangat gembira.
" Kamu memang hebat Shou, akhirnya aku bisa mendatangi kedai-kedai dan bar itu!" Gumam Lorrie.
" Syukurlah, akhirnya kita bisa kembali." Lacasina memejamkan matanya sambil tersenyum.
Semuanya terlihat sangat gembira dan kegirangan, bahkan Rosse pun sudah tidak lagi menegur Lorrie yang hanya membicarakan bar dan minuman yang ingin ia cicipi.
Tak lama Kemudian keempat dewi datang.
" Sepertinya kalian sangat senang, apa yang telah terjadi? " Tanya Dewi Ruzmi.
" Ini adalah kabar baik untuk kita semua." Ucap Shou.
Keempat dewi pun malah semakin penasaran.
" Sebenarnya ada apa Shou?" Tanya Dewi Shelly.
__ADS_1
Kemudian Shou mengeluarkan empat buah cincin dari sihir penyimpanannya.
" Ini kan cincin yang tadi diatas meja itu." Gumam Dewi Laxmi.
" Sepertinya kamu sudah tahu duluan, silahkan ambil setiap orang satu." Shou menyodorkan keempat cincin tersebut.
Dewi Raffsha mengambil cincin dengan permata berwarna kuning emas, Dewi Ruzmi merah delima, Dewi Shelly hijau zamrud, dan Dewi Laxmi memilih warna biru safir.
" Coba dipakai!"
Kemudian mereka pun memakainya.
" Sensasi apa ini?" Ucap Dewi Laxmi.
" Ini seperti Olster sedang mengalir ke seluruh tubuh kita." Gumam Dewi Raffsha.
" Bukannya sudah jelas, itu adalah alat yang membuat kalian bisa tinggal di dunia bawah sepuasnya." Jelas Shou.
Keempat dewi itu pun terkejut, mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dewi Ruzmi mencubit pipinya Dewi Shelly
" Aw, sakit tau!"
" Berarti ini bukan mimpi ya…"
" kenapa kamu tidak mencubit pipi mu sendiri? " Dewi Shelly terlihat agak kesal. Namun itu hanya sebentar, dia masih terbelalak dengan apa yang dikatakan oleh Shou.
Dewi Raffsha dan Laxmi pun bahkan sampai hampir meneteskan air mata, mereka menahan isak tangisnya.
__ADS_1
Hal itu malah membuat kedua dewi lainnya ikutan ingin menangis, dan pada akhirnya diantara mereka tak ada yang berhasil memendung air matanya.
" Mereka menangis! " Ucap Lorrie.
Rosse memukul kepala Lorrie dengan sangat keras.
" Apa-apaan kau ini?" Ucap Lorrie sambil mengusap-ngusap kepalanya yang sakit.
" Harusnya aku yang bilang begitu padamu!"
Lorrie pun malah terlihat kebingungan, membuat Rosse semakin kesal.
" Wajar saja kalau mereka menangis, selama ini mereka menghabiskan hampir semua waktu nya di tempat ini, walaupun tempat ini sangat indah dan luas tetapi jika hanya mereka berempat saja yang tinggal…." Rosse tidak bisa melanjutkan perkataan nya.
" Kalau begitu kita juga seharusnya menangis juga, karena kita hampir saja terjebak di tempat ini jika Shou tidak berhasil menemukan cara ini. Dewi Raffsha juga pernah mengatakan nya kan, setidaknya kita perlu sepuluh tahun untuk bisa kembali. Jika para dewi bisa mempertahankan wujudnya tanpa bertambah tua sedikitpun bagaimana dengan kita sepuluh tahun lagi?" Gumam Lorrie.
" Benar juga, seharusnya kita juga menangis." Rosse sudah mulai menahan isak tangisnya.
" Eh?" Ucap Lorrie.
" Kamu memang hebat dalam hal membuat wanita menangis." Ujar Lisa.
" Eh……?" Lorrie malah semakin kebingungan ketika melihat Lisa juga mulai mengusap-ngusap air mata nya.
" Yaampun Lorrie, kamu ini…." Lacasina juga malah ikut menangis.
" Eh….., apa yang terjadi, sebenarnya ada apa ini Shou?"
" Entah." Hanya satu jawaban dari Shou, setelah itu ia tak berkata apapun lagi.
__ADS_1