
" Jadi seperti itu. " Gumam Dewi Laxmi.
" Kalau begitu bagaimana dengan bahan-bahan ini, aku sudah menyiapkannya sejak tadi." Ujar Rosse.
" Bagaimana kalau kita membuat resep baru saja?" Saran Lisa.
Rosse, Dewi Laxmi, Lacasina serta Lorrie pun berpikir sejenak
" Itu ide yang cukup bagus, tapi bagaimana cara kota membuat nya?" Tanya Rosse.
" Yaampun, ternyata orang yang sering memasak untuk Shou tidak tahu caranya." Gumam Lisa meledeknya.
" Yah.., mau bagaimana lagi. Aku belum pernah membuat makanan baru selain yang pernah diajarkan kepadaku."
" Itulah kekurangannya gadis kota, mereka selalu terpaku dengan resep, mereka tidak tahu cara nya ber improvisasi."
" Memangnya kamu sendiri bisa?" Tanya Lacasina yang merasa tersindir.
" Tentu saja!" Jawab Lisa penuh percaya diri.
" Kalau begitu masalah ini sudah beres, Lisa bisa menyelesaikan Curry Rice nya." Ujar Lorrie.
Lisa pun tersenyum dengan bangga.
" Tunggu, aku masih belum percaya dia bisa membuatnya, soalnya kamu tidak tahu resep nya kan, kenapa kamu begitu percaya diri bisa membuatnya?" Tanya Rosse.
Lisa pun tersenyum.
" Apakah kamu tahu intuisi?" Tanya Lisa balik.
" Tetapi dalam memasak…." Sebelum Rosse menyelesaikan perkataan nya Lisa menyelanya.
__ADS_1
" Ibuku pernah berkata, memasak dengan hati akan menghasilkan makanan yang paling enak."
" Tetapi itu hanya perkataan ibu mu." Ucap Rosse.
" Sudah-sudah, daripada kalian bertengkar mending kita ikuti saran Lisa saja, kita akan berimprovisasi untuk membuat curry rice ini, aku tidak ingin ada yang protes." Gumam Lorrie.
" Memangnya kamu siapa?" Rosse merasa kesal.
" Dia benar Rosse, lebih baik kita menyelesaikan masakan ini." Ujar Dewi Laxmi.
Rosse pun hanya bisa pasrah dengan keputusan itu.
Kemudian Lisa pun memulai aksinya, di mulai dari memotong beberapa bawang daun dan seledri.
Sementara itu Shou sedang berada di depan sebuah kincir angin yang di hiasi hamparan bunga berwarna-warni di sekelilingnya.
Dia bersama Dewi Raffsha masuk ke dalam kincir angin tersebut untuk memeriksanya.
Setelah Shou menyebarkan bola-bola bercahaya itu, seisi ruangan yang asalnya gelap gulita berubah menjadi terang berderang.
Tempat tersebut tidak cukup luas, hanya ada sebuah mesin dengan beberapa roda gigi dan tuas, di tiap sudutnya juga terlihat sebuah lingkaran sihir berukuran sedang.
" Hmm….."
Shou terlihat berpikir serius sambil memerhatikan seisi ruangan tersebut.
" Keempat lingkaran ini sepertinya saling terhubung satu sama lain, dan aliran Mana nya seperti di salurkan ke tengah-tengah ini, berarti…."
Kemudian Shou mendekat ke arah mesin yang ada di depannya dan kemudian memerhatikan roda gigi nya.
Shou terlihat serius lagi.
__ADS_1
" Apa kamu menemukan sesuatu Shou?" Tanya Dewi Raffsha.
" Sepertinya begitu." Jawab Shou spontan.
Kemudian Shou semakin menilik roda gigi tersebut.
" Hati-hati Shou, nanti kamu tersangkut!"
" Tenang saja, aku tidak mungkin tersangkut pada benda seperti ini, eh eh…."
Baju Shou di bagian belakang nya tersangkut roda tersebut hingga Shou hampir tertarik ke dalamnya.
" Shou, kau tidak apa-apa? " Tanya Dewi Raffsha khawatir.
" Yah, tidak apa-apa. Baju ku hanya robek sedikit, sepertinya aku harus lebih hati-hati lagi. "
Kemudian Shou merapalkan mantra nya dan baju yang robek itu pun menjadi utuh kembali.
" Tapi aku benar- benar tidak pernah menyangka mesin se simpel ini yang menjadi kunci keberadaan Olster." Ujar Shou sambil menggaruk kepalanya.
" Ya, aku juga setuju. "
" Oh iya, apakah kamu belum pernah kesini, soalnya kamu terlihat agak asing dengan tempat ini."
" Sepertinya memang begitu. "
" Kenapa?"
" Eh…?"
" Kenapa kamu tidak pernah ke tempat ini? "
__ADS_1