Isekai No Tensai

Isekai No Tensai
CH-32 Berkembang


__ADS_3

Istana kekaisaran, ruang rapat.


“Yang mulia, daerah timur sebagian besar sudah dikuasai oleh pasukan iblis. Jika kita tidak segera bertindak, semua kerajaan dan kota-kota di sana akan beralih menjadi milik iblis sepenuhnya.”


“Tapi di daerah utara situasinya lebih gawat yang mulia, kita harus segera memberikan bantuan.”


“Ku pikir situasi di timur lebih buruk, kita harus mengutamakannya!”


“Tidak! Utara jauh lebih buruk.”


“Diam!” Seorang lelaki berbadan besar dengan dua kapak di punggungnya memukul meja dengan keras. Ia adalah salah satu panglima terkuat, sekaligus pemilik title SSS+.


Meja yang dipukulnya retak, bahkan mungkin bisa bertahan lebih dari 10 menit.


“Kita tahu wilayah utara dan timur membutuhkan pertolongan. Tapi rapat kita kali ini adalah untuk mencari solusi, bukan berdebat tentang siapa yang paling membutuhkan.” jelas pria dengan tombak panjang di tangan kanannya. Dia juga adalah salah satu panglima terkuat, dan sama-sama memiliki title SSS+.

__ADS_1


“Apakah kalian mendengarnya bocah?! Pergi saja dari ruangan ini jika kalian akan bersikeras seperti itu terus.” Ucap seorang perempuan berbaju hitam, ia mengusap pedang panjangnya sambil menatap kedua orang tadi. Dia juga tak lain adalah salah satu panglima terkuat, yang memegang title SSS+.


“Hahaha, aku suka temperamenmu Chentya.” Ucap pria berbadan besar dengan 2 kapak di punggungnya mengacungkan jempol.


“Diam Balx, aku tidak sedang ingin bercanda.” timpal Chentya.


Balx malah tertawa lebih kencang, Chentya pun langsung naik pitam dan menghancurkan meja yang sudah retak itu.


“Maaf Yang mulia, aku akan segera membereskan mereka.” ucap pria semi elf yang memegang tombak.


“Kuserahkan masalah ini padamu Thev.” ujar sang kaisar, dia terlihat cukup lelah dengan tingkah laku kedua komandan terkuatnya.


Kembali lagi ke hutan tempat di mana Shou dan yang lainnya menjalani ujian petualang, ini sudah hari ketiga dari total 7 hari yang harus dilewati agar bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.


Tak ada masalah yang rumit dan monster yang terlalu kuat selama ada Shou, bahkan kemampuan bertarung Rosse dan Lorrie semakin meningkat di tiap harinya.

__ADS_1


Rosse kini setidaknya mampu menggunakan pedang pendek untuk bertarung jarak dekat, mengantisipasi kehabisan mana atau lawan yang sulit diserang oleh sihir. Pengendalian sihirnya pun ada peningkatan, bahkan sampai bisa menarget burung di atas langit.


Perkembangan Lorrie juga tidak kalah dari Rosse, dia jadi bisa memanfaatkan elemen anginnya untuk bergerak dengan sangat cepat dan mendeteksi musuh. Shou juga mengajarinya teknik membunuh tanpa suara, tapi Lorrie masih belum teknik itu karena beberapa aspek.


Jika ingin menguasai teknik pembunuh tanpa suara yang diajarkan oleh Shou, butuh beberapa persyaratan.


“Hawa keberadaan, insting membunuh, titik vital, hanya itu saja kata kuncinya.” ucap Shou sambil mengakhiri latihan duel bersama Lorrie.


Di tepi sungai, Rosse sedang sibuk mencuci pakaiannya sambil bersenandung. Tiba-tiba salah satu pakaian yang ia cuci terbawa arus, dan di saat itu juga terdengar suara teriakan tak jauh darinya.


“Tolong!” Seorang perempuan berambut perak sedang dipojokkan oleh beberapa goblin. Tubuh goblin itu jauh lebih besar dari rata-rata, serta memiliki akal seperti manusia.


Para goblin itu mengacak-ngacak pakaian gadis itu, membuatnya semakin berteriak histeris.


“Dasar monster mesum!” Rosse melancarkan beberapa fire ball ke arah para goblin tersebut, kemudian langsung menebas sisanya sebelum melawan.

__ADS_1


“Dasar monster bego, tak ada akhlak, mesum, otak udang, sialan, ....” ucapnya sambil terus menginjaki mayat goblin yang sudah mati.


Gadis yang pakaiannya sudah teracak-acak itu menunduk berterima kasih pada Rosse, dia kemudian menangis teringat dengan kedua temannya yang memiliki nasib lebih buruk.


__ADS_2