
Sorak-sorai terdengar dengan begitu jelas, pertandingan kelompok ini ternyata dihadiri oleh banyak orang.
“Ternyata guild ingin menambah pemasukannya dengan ini.” ujar Shou pelan, dia sekarang menganggap ketua guild sebagai orang yang haus akan harta.
“Tak usah dipedulikan, selain untuk mendapatkan pendapatan lebih guild ini juga sekalian mempromosikan kita. Jika kita terkenal mungkin akan ada orang yang datang secara pribadi untuk memberikan misi, jadi tak perlu khawatir dengan potongan biaya administrasi oleh guild.” ujar Lorrie.
Sepertinya di sini ada yang lebih gila uang. ujar Shou dalam hati.
“Pertandingan dimulai!” ucap seorang petualang veteran, mengagetkan kelompok Shou yang sepertinya belum siap.
Anggota party Rhien Force memanfaatkan waktu itu untuk melancarkan serangan dadakan, kombinasi antara sihir air dan angin.
Namun sayang sekali, serangan dadakan mereka ternyata tak berhasil. Lacasina berhasil menciptakan tembok penahan dan memblokir serangan cepat itu, membuat Rosse dan yang lain menjadi lebih waspada. Hanya Shou saja yang kelihatan tidak serius, sejak awal dia tak ada niatan untuk turun tangan di babak pertama.
Lorrie mengecoh dan mengacaukan formasi musuh, Lacasina mendukung dari belakang, ditambah serangan area yang cukup besar dari Rosse. Sebelum bola api raksasa mengenai tubuh lawannya, Rhien Force memilih untuk menyerah.
__ADS_1
“Gila, mereka semua terlalu kuat sebagai petualang pemula.” ujar seorang petualang lama yang masih berada di peringkat perunggu.
“Iya, bahkan satu orang lagi belum turun tangan.” timpal rekannya.
“Cih, aku tidak terlalu suka dengan orang sok misterius seperti dia. Mungkin sebenarnya dia hanya beban, jika turun tangan pun takkan mengubah situasi.”
“Haha, sepertinya kau terlalu sinis pada petualang baru itu, tapi aku juga sama. Mari kita lihat seberapa lama party itu bertahan.”
“Baiklah, mari kita lihat sampai akhir!”
Akhirnya suasana Shou saat ini tidak begitu bagus, musuhnya di semi final sudah merasakan hawa membunuh sebelum memasuki lapangan sekali pun.
“Sekarang giliranku ya, kalian tidak usah ikut campur.” ujar Shou.
Lorrie merasakan sesuatu yang buruk, dia menyuruh Rosse dan Lacasina mundur hingga ke pinggir lapangan.
__ADS_1
“Lacasina, tembok penghalang!” ucap Lorrie serius.
Lacasina menurut, dia langsung menciptakan tembok penghalang yang sangat tinggi dan lebih kokoh daripada sebelumnya.
“Apa-apaan ini, hanya kau saja ingin mengalahkan kami berempat? Jangan mimpi!” ujar pria berambut merah dengan pedang besarnya, dia terlalu percaya diri dibanding anggotanya yang lain.
Melihat keanehan sekilas, pengawas turnamen langsung mengaktifkan pelindung untuk menghindari kerusakan lebih di luar arena.
“Sekali atau dua kali mungkin masih bisa kumaklumi, tapi lebih dari itu aku takkan sungkan lagi.”
Sebuah pedang muncul secara tiba-tiba di hadapan Shou dari ruang kosong, dia langsung memegangnya dan menancapkan pedang tersebut sampai arena terbelah menjadi 2. Langit pun menjadi hitam, suara gemuruh petir terdengar sangat jelas.
Para penonton jadi kocar-kacir saking paniknya, turnamen itu terpaksa dihentikan karena kekuatan Shou yang di luar dugaan. Untung saja ternyata ada puluhan guru dari akademi sihir yang tiba tepat waktu, menyelamatkan semua orang secepatnya.
Petir menyambar pedang yang ditancapkan oleh Shou, menghancurkan seisi arena beserta tempat duduk penonton. Untungnya semua orang telah dievakuasi dalam secepat kilat, jika telat sedetik saja nyawa mereka takkan pernah tertolong lagi.
__ADS_1
Tapi bukan berarti tidak ada orang yang terluka dalam insiden itu. Puluhan guru dari akademi sihir hampir kehilangan nyawanya dan terluka parah, semua itu karena mereka berusaha mempertahankan formasi gabungan yang menghalangi sambaran petir secara habis-habisan.