
" Sebenarnya yang asli nya itu dimana?" Ucap Balx kebingungan. Dia benar-benar tidak bisa memikirkan jawabannya.
" Hmmm…, sepertinya dia sudah mulai lengah. Sebaiknya aku juga harus segera mengakhirinya karena ternyata didalam sini sangat sesak. "
" Hei, keluarlah, dimana kamu bersembunyi. Jangan bertingkah seperti seorang pengecut, sini dan hadapi aku!"
Lalu tiba-tiba muncul asap tebal lagi, dengan spontan Balx menggunakan sihir splash winds nya.
Namun setelah itu dia merasakan goncangan dari bawah kaki nya dan tiba-tiba kakinya masuk ke dalam tanah.
" Eh, apa-apaan ini?" Ucap Balx sambil berusaha melepaskan diri.
Beberapa saat kemudian Chentya muncul dari bawah tanah di depannya.
" Jadi ternyata disana kau selama ini!" Ucap Balx terlihat kesal.
" Aku masih belum bisa menggunakan bayanganku dari jarak yang cukup jauh, jadi aku mencari tempat untuk sembunyi sambil menyiapkan jebakan untuk mu."
" Aku masih belum kalah!" Ucap Balx tak mau menyerah.
" Kamu tidak akan bisa keluar dari sana dengan mudah, aku sudah mengikat kaki mu dengan rantai penyegelku."
" Apa, kamu menggunakan rantai penyegel untuk mengikat kaki ku?" Ucap Balx tak percaya.
" Tentu saja, itu membuat mu tak bisa menggunakan sihir selama beberapa waktu dan juga jika itu rantai biasa, mungkin kamu sudah lepas dari tadi."
" Jadi begitu, kali ini kamu menganggapku lawan yang sangat kuat kan?"
" Tentu saja!"
Kemudian Chentya menjulurkan tangan nya dan kemudian Balx pun meraihnya.
__ADS_1
" Baiklah, skor kita sekarang 50-0. Tapi jangan senang dulu, lain kali aku akan mengalahkanmu!"
" Oke, kamu juga jangan bersedih dulu. Waktu yang kita miliki masih cukup untuk ronde berikutnya. "
" Apakah kamu mau menantang ku duel lagi?"
" Bukankah kamu yang selalu menantangku duel, dan kamu yang selalu kalah."
" Hei, apa kau bilang!" Ujar Balx kesal.
Lalu mereka pun bertengkar lagi dan melupakan masalah tentang para reiyu itu.
" Aku sangat bosan!" Gumam Lorrie sambil bersandar di sebuah sofa.
" Iya, aku juga!" Ujar Lisa.
" Aku tak menyangka kita bisa se bosan ini di tempat yang sangat indah ini." Ucap Rosse yang sama-sama merasakan jenuh.
" Shou sudah sampai mana ya penelitian nya, aku ingin membantu nya." Ujar Lacasina.
" Tapi…."
" Daripada bingung tentang itu bagaimana kalau buatkan aku makanan." Gumam Lorrie.
" Buat saja sendiri, aku hanya akan membuatkan makanan untuk Shou."
" Kejamnya…." Ucap Lorrie.
" Ya sudahlah, bagaimana kalau kita semua saja membuat makanan untuk Shou!" Saran Rosse.
" Tapi aku tak bisa memasak." Ucap Lorrie.
__ADS_1
" Tenang saja, aku akan mengajarkannya padamu." Ujar Rosse.
" Lalu, apa yang akan kita buat? " Tanya Lisa.
" Hmmm, apa ya…, oh iya, bagaimana kalau kita membuat salah satu dari resep yang ada disini?" Saran Rosse sambil memperlihatkan buku.
" Buku apa itu, aku tidak bisa membaca nya." Ujar Lorrie penasaran.
" Ini adalah salinan buku dari dunia Shou, buku ini berisi tentang ratusan jenis makanan dan cara membuatnya."
" Wah!" Ucap Lisa takjub. Lacasina juga terlihat kagum.
" Meskipun begitu, bagaimana cara kita membacanya?" Tanya Lorrie.
Lacasina dan Lisa pun terlihat bingung.
Lalu Rosse mengeluarkan beberapa pil dari saku nya dan memberikannya masing-masing satu kepada semua yang ada disana.
" Apa ini Rosse?" Tanya Lorrie.
" Jika kamu meminum pil itu maka kamu akan bisa membaca tulisan ini." Jawabnya sambil memperlihatkan buku tadi.
Lalu tanpa basa-basi lagi Lisa dan Lacasina meminum pil tersebut. Namun Lorrie kelihatan nya tidak berniat meminumnya.
" Kenapa kamu tak meminumnya?" Tanya Rosse.
" Aku hanya ingin melihat dulu cara kerja nya, setelah itu aku akan mencobanya." Jawab Lorrie.
" Eh, kenapa tidak langsung diminum saja?" Tanya Rosse.
" Itu karena…."
__ADS_1
Dari sorot mata Lorrie terlihat kesedihan, penyesalan, amarah, yang tak pernah ia tunjukkan selama ini.
Rosse menyadari semua perasaannya itu dan tidak menanyakannya tentang itu lagi.