
4 hari berlalu dengan begitu cepat, sekarang ujian bertahan hidup telah selesai. Semua peserta yang lulus berbaris kembali di lapangan, mendengarkan pidato panjang dari seorang petualang veteran.
Jumlah peserta yang lulus di ujian bertahan hidup tak lebih dari 10%, sebagian besar di antara mereka memilih menyerah setelah berjumpa dengan goblin yang telah berevolusi.
Para goblin itu memang sangat sulit dikalahkan, bahkan bagi petualang yang berada di peringkat perunggu pun belum pasti bisa mengalahkannya.
Ratusan orang mengalami luka parah, puluhan di antaranya sampai kehilangan nyawa.
Karena banyak party yang tercerai-berai, setiap peserta boleh mengatur ulang anggota dan nama party.
Karena ujian selanjutnya tidak bersifat wajib, beberapa peserta yang mengalami luka memilih untuk beristirahat dan kembali saat peringkat mereka telah ditentukan. Lagi pula ujian tersebut hanya semacam turnamen bertarung secara kelompok, orang yang terluka hanya akan mempermalukan diri sendiri dan membebani tim.
Sebelum turnamen kelompok tersebut dilaksanakan, ada waktu sekitar 3 hari untuk beristirahat. Semua peserta yang lulus di ujian bertahan hidup mendapatkan masing-masing 5 keping emas, jadi kebanyakan orang langsung berfoya-foya.
__ADS_1
Lorrie dan Rosse pun seperti itu, mereka tak terlalu memedulikan Shou yang menolak ajakan mereka. Lacasina juga memilih untuk menjenguk Rui dan Reo yang saat ini masih dirawat di rumah sakit, membuat Shou kembali sendirian dalam rencananya.
Dengan 5 keping koin emas, Shou membeli beberapa besi batangan dan berbagai jenis logam lainnya. Hanya saja dia lupa menyisihkan uang untuk menginap dan makan, hingga terpaksa untuk tinggal di rumah kayu yang ia bangun sendiri di tengah-tengah hutan.
Siang dan malam terus berlalu, Shou memanfaatkan setiap detiknya dengan sangat efektif. Di pagi hari ia mengumpulkan kayu bakar dan berburu, siangnya berlatih sihir dan pedang, kemudian sorenya beristirahat sejenak sambil memikirkan inovasi, dan di malam ia tak henti-hentinya bekerja keras demi menciptakan sebuah senjata.
Hasil tak mengkhianati usaha, sebuah pedang akhirnya tercipta sebelum turnamen kelompok dilaksanakan.
“Shou!” teriak Rosse yang langsung menghampirinya bersama anggota party yang lain.
“Iya, Rosse hampir membakarku karena dia tak berhasil menemukanmu sebelumnya.” ujar Lorrie.
“Diam kamu!” Rosse geram, dia memperlihatkan kepalan tangannya pada Lorrie.
__ADS_1
“Sudah-sudah, jangan berkelahi di sini! 3 hari ini aku sibuk membuat senjata, ditambah aku tidak punya uang lebih untuk menyewa penginapan dan makanan.” jelas Shou.
Lacasina dan yang lain tak habis pikir dengan seberapa borosnya Shou, bahkan dengan 5 keping emas tak cukup untuk bertahan selama 1 hari. Tapi bukan itu intinya, jika dia tidak tidur di penginapan maka di mana Shou tidur.
“Aku tidur di rumah kayu di dalam hutan.” Shou menjawab pertanyaan Lacasina dengan jelas.
Walau pun sempat terbersit di pikiran Lorrie dan yang lain, kenyataan ini membuat mereka bertiga menggeleng-gelengkan kepala.
“Pertandingan pertama akan segera dimulai, kepada anggota Little Dream dan Rhien Force segera memasuki lapangan.” ujar seseorang menggunakan alat sihir yang mampu mengeraskan suara berkali lipat.
“Mereka sudah memanggil kita, ayo kita pergi dan tunjukkan kehebatan kita pada mereka semua!” ujar Lorrie memimpin di depan.
Di saat Lorrie sudah tampak keren dan gagah, Rosse tiba-tiba melancarkan sebuah fire ball yang pada akhirnya membakar sebagian rambut Lorrie.
__ADS_1
“Woi, jika ingin mengajak berkelahi nanti saja. Banyak orang yang akan melihatku hari ini!” ujar Lorrie geram.
Rosse memalingkan wajahnya seolah tak peduli, membuat Lorrie semakin geram dan kesal. Tapi yang paling penting saat ini adalah memperbaiki penampilannya, dia segera memakai bandana pemberian Shou sebelum memasuki lapangan.