
Setelah merasa kondisi sudah lebih aman, dia memutuskan untuk kembali dan ia nampak terkejut saat melihat Shou tak sadarkan diri.
Ranzie pun segera mendekati nya, dia bersiul memanggil sang kusir untuk kembali. Karena didalam sana mereka telah menyiapkan beberapa obat-obatan yang bisa digunakan dalam kondisi darurat seperti ini.
Hikari menangis sambil memegangi tangan masternya, dia terus-terusan meminta maaf dan menyalahkan dirinya.
Kurang dari 2 menit, kereta kuda pun akhirnya sampai. Dengan segera Ranzie masuk dan mengambil beberapa obat-obatan.
Erisa yang sedari tadi diam dipojokkan akhirnya memutuskan untuk turun dari kereta kuda. Setelah melihat Shou yang tak sadarkan diri, ia pun segera berlari menghampirinya.
“Sial, luka nya berada di dalam. Kulitnya tak tergores sama sekali, tetapi organ dalamnya mengalami pendarahan. Aku harus membedahnya.”
Melihat Ranzie yang sedang memegang pisau dan hendak menggunakannya pada Shou, Erisa tampak khawatir.
“Apa yang kakak lakukan?”
Tanpa mengalihkan perhatian, Ranzie pun menjawab. “Aku harus membedah perutnya. Luka nya berada didalam, aku tak bisa mengobati lukanya jika organ itu tak bisa ku sentuh.”
“Kalau begitu biarkan aku saja yang mengobatinya, aku bisa menggunakan sihir penyembuh.” Ujarnya.
__ADS_1
Ranzie pun melirik ke arahnya, “Kalau begitu, kumohon!”
Kemudian Erisa mendekat ke arah Shou dan menyentuh tubuh Shou di bagian perut dengan kedua telapak tangannya. Di sekujur tubuh Shou pun mendadak muncul cahaya biru yang terang seketika. Tak lama kemudian cahaya biru itu pun menghilang.
Melihat itu Hikari terlihat terkejut, sepertinya ia mengenal dengan jelas sihir yang digunakan oleh Erisa.
“Bukannya itu?”
“Sepertinya peri juga tahu tentang sihir penyembuhku ini.” Gumam Erisa.
“Tentu saja, sihir penyembuh itu bukan sihir penyembuh biasa. Sihir itu sangat langka dan juga orang-orang mengincarnya, termasuk Raja iblis.” Jelas Hikari.
“Dan Raja iblis itu mengira, dia sudah mendapatkannya.”
“Tentu saja, sihir ini bukan hanya memiliki fungsi untuk menyembuhkan orang. Tetapi juga memberikan kekuatan besar pada orang yang di sembuhkan nya.” Papar Hikari.
“Wah, kelihatannya memang benar-benar hebat. Kalau begitu kau juga bisa menyembuhkan ku supaya aku memiliki kekuatan besar juga.”
Hikari pun menggeleng, “Apa kamu pikir sihir sehebat itu bisa digunakan seenaknya saja?”
__ADS_1
“Bukannya harusnya seperti itu?”
“Memang bisa, akan tetapi umurku akan berkurang 1 tahun setiap kali menggunakannya.” Jelas Erisa.
Mendengar jtu, Ranzie pun terkejut.
“Lalu, kenapa?”
“Aku menaruh harapan besar padanya, lagipula dia pernah menyelamatkan nyawaku. Berapa kali pun aku harus mengobatinya, aku akan terus menggunakan sihir penyembuhku ini padanya. Sampai dia menjadi sangat kuat, dan tak bisa dilukai lagi.”
“Tapi bukannya nyawamu yang menjadi taruhannya, aku yakin Shou tidak akan setuju dengan hal itu.”
“Oleh karena itu, aku ingin kalian menyembunyikan kebenaran dari sihir penyembuhku ini pada kakak Shou.”
“Tapi,”
Sebelum Ranzie sempat meneruskan kata-kata nya, Shou mulai tersadar dan bangun. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
Ia kemudian memegangi perutnya, dan merasa heran.
__ADS_1
“Master, syukurlah master selamat!” Hikari memeluk Shou dengan erat. Erisa yang biasanya agak comel pun kini hanya diam dan tersenyum pada Shou.
Setelah beberapa menit, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kini mereka bisa lebih tenang, karena di sepanjang perjalanan mereka sudah jarang bertemu dengan monster.