
Melihat warna bola mata Shou yang berubah dalam waktu singkat membuat ibunya Lisa itu cukup penasaran, dia pun bertanya perihal itu.
Shou menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjelaskan, berusaha untuk tenang dan tidak membuatnya gelisah. Dia terpaksa membohongi perempuan paruh baya itu dan mengatakan bahwa sihir yang dapat mengubah warna mata tersebut hanya sihir rendahan.
Tidak mungkin aku mengatakan ini, maafkan aku tante Fliesa.
Lisa memanggil-manggil Shou, tante Fliesa pun menyuruhnya untuk pergi.
“Kamu telah menemui ibuku ya?” tanya Lisa berbasa-basi.
“Iya, hehe.” jawab Shou sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aku pasti akan melepas rantai yang mengekangmu ini, tunggu saja nanti.
Kembali ke akademi sihir, sepertinya kepala sekolah Klovis cukup terpukul dengan kepergian Shou dari akademinya.
__ADS_1
“Ini semua salahku, dia merasa tidak nyaman di akademi ini dan pergi ke tempat lain. Awalnya aku pikir itu hanya guyonan, karena selama ini belum ada orang seusianya yang mampu menggunakan sihir teleportasi.” jelas bu guru Elizabeth, dia sendiri cukup menyesal dengan kepergian Shou yang begitu awal tersebut.
Kepala sekolah Klovis memukul mejanya cukup pelan dan menghela nafas, “Sudahlah. Yang sudah-sudah tak perlu dipikirkan lagi, sebaiknya kita mencari cara untuk menjalin hubungan baik dengan orang itu. Kau yang membuat semua kekacauan ini, kuharap kau juga mampu untuk menyelesaikannya.” ucapnya berterus terang.
Meskipun ego bu guru Elizabeth ini cukup tinggi, ia menerima misi ini dan bergegas pergi saat itu juga ke guild petualang kota Kloravia untuk menemui Shou. Namun karena saat itu pemuda yang dicarinya tidak ada di sana, bu guru Elizabeth pun menemui ketua guild untuk meminta bantuan.
“Baik, jika dia datang kemari aku akan segera mengabarimu.”
“Terima kasih banyak!”
Setelah urusannya selesai, bu guru Elizabeth segera kembali ke akademi sihir untuk melapor. Dia menjadi sangat sopan pada ketua guild, padahal sebelumnya lebih dingin dan kata-katanya sedikit pedas.
“Baik, bagaimana dengan kabarmu sendiri?” Shou menyapa balik.
“Sangat baik, aku akhirnya dipromosikan menjadi petualang peringkat emas level 3. Masing-masing rekanku juga semuanya naik 1 peringkat kemarin, jadi kami mau merayakannya hari ini.”
__ADS_1
“Wah, hebat sekali. Selamat atas kenaikan peringkatnya, aku yakin ke depannya kalian akan dipromosikan lagi.”
Richard menepuk bahu Shou cukup keras, “Sudah, sudah, mari kita masuk dan rayakan bersama.”
“Eh, aku juga diajak? Tapi aku bukan party kalian.” Shou merasa ragu.
“Ikutlah, ini permintaanku.” Richard tersenyum lebar, dia mendorong-dorong Shou hingga masuk ke guild.
Suasana di dalam guild begitu meriah, mereka semua tertawa lepas sambil meminum bir bersama-sama.
“Sepertinya petualang lain juga banyak yang naik peringkat, hari ini akan semakin ramai.” ujar Richard yang diakhiri dengan tawa.
Shou tidak terlalu terbiasa dengan situasi saat ini, apalagi saat sebuah dada yang tiba-tiba menyasar di wajahnya.
Perempuan elf itu sepertinya mabuk berat, dia malah mendekap Shou lebih erat dan membuatnya kesulitan bernafas. Richard hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat itu terjadi, masalah seperti itu akan bertambah rumit jika ia ikut campur.
__ADS_1
Untung saja ada seorang dwarf yang menarik perempuan itu hingga melepaskan Shou, kemudian menyiramkan segelas air agar elf itu segera sadar.
Keduanya jadi bertengkar karena itu, Shou berterima kasih pada dwarf tersebut dan langsung pergi untuk menghindari konflik lain.