
Setelah Shou mengganti pakaiannya,ia disuguhi makanan oleh beberapa gadis Dark Elf.
“Terimakasih banyak!” Ucap Shou sambil tersenyum kearah mereka, gadis-gadis itupun membalas senyumannya.
Kemudian Shou mencicipi buah kecil berwarna merah seperti ceri.
“Emm..., manis sekali!”
“Tentu saja,itu adalah buah terbaik yang kami tanam. Namanya adalah Sherri.” Jelas Ranzie.
Mendengar itu Shou teringat dengan seseorang yang ia tinggalkan dimulut gua itu. Dia berpikir bagaimana keadaannya saat ini.
“Ran, bolehkah kupanggil seperti itu?”
“Iya, tentu saja.”
“Apakah aku boleh kembali ke hutan itu, aku ingin kembali ke dimensiku terlebih dahulu.”
“Kenapa, apakah kau ingin memberi kabar pada seseorang disana?” Tanya Ranzie.
“Iya, aku ingin memberitahu kabarku pada seorang gadis yang kutinggalkan begitu saja diseberang hutan itu.”
“Itu tidak baik, bagaimana jika dia masuk kedalam hutan itu untuk mencarimu?”
“Itu masalahnya, aku tak tahu dia akan mendengarkan perkataanku atau tidak, kuharap saja dia kembali ke kota.
“Aku malah semakin khawatir pada gadis itu, ayo kita kembali kesana!”
__ADS_1
“Apakah tidak apa-apa, kita kan baru saja kembali dari sana. Apakah kamu tidak lelah?” Tanya Shou.
“Apakah kau meremehkanku?” Tanya Ranzie. “Aku ini bisa berjalan 3 hari 3 malam tanpa istirahat, tanpa makan dan minum. Tapi setelah itu aku akan tertidur selama seminggu.”
“Sepertinya kau cukup hebat.” Shou memalingkan wajahnya sambil menggaruk sedikit kepalanya yang tak gatal.
“Apakah kau ragu, kau terlihat seperti itu.”
“Tidak, hanya saja...”
“Hanya saja?” Ranzie menatap Shou penuh pertanyaan.
“Bukan apa-apa, jika kau tidak keberatan ayo kita pergi!”
“Baiklah, aku akan memberitahu tetua dulu!”
Kemudian muncul seorang gadis Elf yang tak lain ialah Putri Lina.
“Kami akan pergi ke hutan monster yang ada di utara, kami akan pergi ke dimensi asalnya Shou.”
“Untuk apa, jangan-jangan kau percaya dengan perkataannya begitu saja. Mana mungkin ada dimensi lain didunia ini, yang dia ucapkan itu bohong!”
“Apakah kau punya bukti?”Tanya Shou. Ia terlihat agak kesal.
“Untuk apa?”
Untuk membuktikan bahwa diriku ini bohong, sebelum kita kembali ke gua itu, kita belum bisa membuktikan bahwa diriku ini sedang berbohong atau tidak.”
__ADS_1
“Aku takkan termakan ucapanmu, aku takkan kembali ke hutan itu jika tidak ada alasan lain.”
“Kalau begitu, biarkan aku pergi dari sini. Aku akan kembali ke hutan itu sendirian.” Shou menatap putri Lina dengan tajam. Ia sangat serius akan hal itu, jika tidak diizinkan mungkin saja dia akan memaksa dan berbuat keributan.
“Aku juga akan ikut pergi dengannya, aku percaya penuh akan kata-katanya.” Ujar Ranzie.
“Jangan lakukan itu, kau dibutuhkan disini. Aku tak ingin kau terkena jebakannya.”
“Kalau begitu, apakah kau mengizinkanku pergi?”
“Tentu saja tidak, kecuali...”
“Kecuali ya, berarti kau mengizinkanku dengan syarat. Apa syaratnya?”
“Aku sangat penasaran dengan kemampuan berpedangmu, kau bisa mengalahkan serigala-serigala biru itu hanya bermodalkan sebilah pedang. Aku saja paling hanya bisa mengalahkan 10 ekor dari mereka dalam satu waktu. Tapi kau bisa mengalahkan lebih dari seratus,itu sangat tidak wajar. Oleh karena itu aku...,” Putri Lina menunjuk ke arah Shou. “ Menantangmu untuk duel, jika kau memenangkannya, aku akan memberimu izin untuk kembali ke hutan itu. Apakah kau setuju?”
“Tentu saja aku setuju, aku sangat suka dengan perlombaan. Apalagi untuk duel pedang, aku sangat menantikan hal ini.” Ucap Shou semangat.
“Tapi kakimu Shou,” Ucap Ranzie menyela.
“Tak apa-apa, ini bukan masalah.Jika aku melewatkan kesempatan ini, kapan aku bisa kembali ke dimensiku, kan?”
“Iya, tapi sepertinya duel ini terlihat tidak cukup adil bagiku. Kau mengalami cedera dan puteri Lina tidak.”
“Jika kau ingin mundur juga tidak apa-apa kok, hanya saja aku tidak akan mengizinkanmu kembali ke hutan itu.”
“Ran, sepertinya kamu harus lebih sedikit percaya lagi padaku. Jangan remehkan aku walaupun aku sedang cedera, karena aku...” Shou menunjuk ke arah putri Lina. ”Akan mengalahkannya!”
__ADS_1
Putri Lina pun tersenyum.
“Kalau begitu kutunggu 10 menit lagi di area latihan. Bersiaplah, untuk menerima kekalahanmu.”