Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Membuat Bekal


__ADS_3

Hai...hai... Penggemarnya Mas Rayyan dan Shafa... ❤️❤️Author sekarang agak telat up nya ya. Karena pekerjaan di dunia nyata yang numpuk di saat saat Penilaian Akhir Tahun seperti ini jadi author selesaikan dulu yang menjadi prioritas. Tapi aku tetep up tiap hari kog, jam nya aja yang molor. Jadi Please, buat pembaca setiaku jangan pelit Like👍 dan vote ya...


I ❤️ You All


__________________________


Shafa menikmati martabak kejunya dengan sangat lahap. Sementara Rayyan yang sedang membuat susu masih dongkol mengingat istrinya mempermainkan perasaannya.


"Ini susunya Bos!" Ujarnya, sambil meletakan segelas susu berwarna coklat di hadapan istrinya.


Kik..kik..kik... Nak, Lihat wajah ayahmu. Sudah seperti tidak makan 2 hari. Lesu. Shafa terkikik dalam hati melihat wajah lesu suaminya.


"Ayah aa..." Ucapnya sambil menyuapkan sepotong martabak dengan lelehan mozarella yang menggoda.


"Untuk Shafa saja" Tolaknya.


Shafa langsung mendelik ke pada Rayyan "Makan atau puasa nanti malam!" Ancamnya.


"Iya sayangku iya" Rayyan pun dengan senang hati menerima suapan istrinya, dan tanpa di minta ia segera menghabiskan martabak manis yang ada di piring.


"Sudah habis semua kan? Sekarang naik yuk?" Ajak Rayyan semangat.


"Ayah gendong" Ujar Shafa manja sambil mengangkat kedua tangannya.


"Iya ..ayo" Dengan sabar Rayyan mengangkat tubuh istrinya yang sudah mulai bertambah berat.


Mulai besok kita pindah di kamar bawah ya Nak! Ayah nggak sanggup kalau harus gendong mommy mu naik tangga tiap hari.


Akhirnya dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan Rayyan berhasil mendaratkan tubuh istrinya dengan mulus di atas tempat tidur.


"Aku berat ya Mas?" Tanya Shafa sambil mengusap butiran butiran bening di sekitar pelipis Rayyan.


"Nggak sayang, cuma anak tangganya aja yang kebanyakan. Besok kita pindah ke bawah ya" Bujuknya. Iya masih berbaring terlentang sambil mengatur nafasnya.


Ini baru tiga bulan, udah kaya ngangkat karung beras. Nak, besok-besok jangan minta gendong lagi ya!


"Aku nggak mau pindah Mas. Aku suka di sini ada balkonnya." Balas Shafa. Ia memang sangat menyukai pemandangan yang di lihat dari atas balkon kamarnya.


"Tapi mas khawatir kalau Shafa naik turun tangga. Apalagi nanti kalau kandungannya sudah semakin besar. Mas khawatir Shafa kelelahan" Ujar Ray memberikan alasan yang logis dan bisa di terima akal sehat.


"Kan ada Mas..he.he.he" Ujarnya sambil nyengir.


Niat banget kamu nyiksa ayah Nak.


"Kalau mas lagi nggak di rumah gimana? Pokoknya nggak ada bantahan, besok kita pindah kamar. Titik!" Ujar Rayyan.


"Maaaasss?" Panggilnya manja.


"Hmmm" Rayyan masih memejamkan matanya merelaksasikan tubuhnya yang habis mengangkat beban berat.


Shafa merangkak setengah menindih tubuh Rayyan. Membuat Rayyan tersentak dan segera membuka matanya. Iaa melihat wajah cantik nan menggoda istrinya sedang memandangnya dengan senyum yang bisa bikin gula darah naik.

__ADS_1


"Mas, Jangan pindah kamar yah..yah? Aku suka disini" Ujarnya manja sambil mengedip ngedipkan matanya.


CUP!


Satu kecupan mendarat di bibir Rayyan.


"Tapi ada syaratnya!" Ujar Rayyan sambil menahan punggung istrinya.


"Apa?"


"Syaratnya, Shafa tidak boleh lagi ngerjain Mas kaya tadi... Dan...." Ia menghentikaan ucapannya. Pandanngan matanya fokus ada wajah istrinya. Tangannya pun mulai bergerilya menyapa tubuh indahnya..


Dan....terjadilah apa yang semestinya terjadi. Rayyan kembali mendapatkan kemenangannya. Seperti pepatah, Berakit rakit dahulu berenang renang ketepian. Bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian. Itulah yang saat ini di rasakan oleh Rayyan. Setelah bersusah payah menaiki sekitar 30 an anak tangga. Tiba saatnya ia bersenang-senang. Tanpa penolakan dan paksaan dari istrinya. Shafa dengan senang hati bahkan sengaja melakukan hal-hal yang membuat Rayyan semakin menggila.


.


.


"Mas bangun" Shafa menepuk-nepuk pipi suaminya yang tertidur sangat pulas Ia seperti orang yang habis begadang selama seminggu.


"Hmmm" Gumamnya tanpa membuka mata, malah semakin erat mendekap tubuh polos istrinya.


"Mas ih, bangun sudah jam 4. Jangan males deh!" Ujar Shafa sambil menarik pipi suaminya.


"Sebentar sayang" Jawabnya.


"Mass?" Panggil Shafa sambil mengelus pipi suaminya.


Ayah ganteng!


"Mas mau sarapan apa, nanti aku buatin" Ujar Shafa. Selama hampir 2 bulan terakhir Shafa tidak pernah lagi memasak untuk Rayyan. Sejak tante Lilis dan Yola datang ke rumah mereka, sejak itu pula tugas menyiapkan makan di ambil alih oleh dua orang anak beranak itu.


"Shafa mau masak?" Rayyan perlahan membuka matanya. Ia menopang kepalanya menggunakan satu lengannya.


"Iya, Makanya mas request dong" Ujar Shafa sambil menatap wajah suaminya yang tingkat kegantengannya selalu bertambah di matanya.


"Apa ya? Nasi goreng deh" Jawab Rayyan, Ia merapikan rambut-rambut kecil yang menutupi kening istrinya.


"Oke! Mulai hari ini, aku akan buatin bekal buat Mas, supaya mas nggak makan di luar dan bertemu dengan cewek - cewek cantik. Mas cukup berada di ruangan Mas untuk makan siang nggak boleh dekat dekat dengan mekhluk bernama perempuan kecuali 3 orang! Ibu, Mommy dan Bi Lastri" Ujarnya.


Rayyan menautkan alisnya mendengar permintaan konyol sang istri.


"Sekalian mas nggak usah kerja. Mas di rumah aja nemenin Shafa kalo gitu" Jawab Rayyan.


"No.No.No!!! Mas harus kerja untuk mencerdaskan anak bangsa, nggak boleh malas-malasan. Cukup aku saja yang pengangguran, mas jangan!!!" Ujar Shafa meenolak suaminya berhenti bekerja.


"Pengangguran sarang duit kan?" Ray terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Kan Mas sendiri yang ngasih semuanya sama aku. Mas lupa?" Shafa menaikan sebelah alisnya.


"Ia sayang iya. Semua mua nya milik Shafa. Tapi mas nggak bisa mengikuti kemauan Shafa. Mahasiswa dan rekan kerja mas kan tidak semuanya laki-laki. Mas perlu berinteraksi dengan mereka, karena mas manusia biasa yang terkadang membutuhkan bantuan mereka." Jelas Rayyan. Ia memberikan jawaban yang secara logika bisa di terimaa oleh Shafa.

__ADS_1


"Aku nggak bilang Mas nggak boleh berinteraksi dengan mereka. Aku cuma bilang mas nggak boleh deket deket!" Kekeh nya.


"Apa bedanya sayangku, cintaku, istriku, kesayanganku" Balas Rayyan yang semakin gemes dengan istrinya itu.


"Beda mas! Beda!" Ucapnya dengan nada yang mulai meninggi, alamat buruk bagi Rayyan jika tidak mengalah.


"Iya..sayangku iya. Mas nurut." Jawabnya pasrah.


Seperti itulah perdebatan panjang bangun tidur mereka berakhir. Shafa selalu bisa membuat Rayyan pasrah mengikuti semua kemauannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya Rayyan bersiap berangkat ke kampus.


"Bekalnya nanti Pak Madi antar yah mas" Ujar Shafa sambil merapikan dasi suaminya.


"Iya, kamu hati-hati dirumah. Jangan naik turun taangga kalau mas nggak ada yah. Anak ayah jangan nakal ya. Jaga Mommy, jangan merepotkan mommy kita" Ujarnya sambil membungkuk menciumi perut istrinya.


"Iya ayah" Balas Shafaa menirukan suara anak kecil.


"Ayah berangkat ya. Assalamualaikum!" Pamitnya setelah memeluk dan mencium keningnya.


"Waalaikum salam"


Mobil Rayyan pun perlahan mulai menghilang meninggalkan kediamannya. Tujuan utamanya kali ini bukan ke kampus, melainkan ke yayasan ayahnya. Ia ingin menemui Briyan dan mengingatkan agar ia tidak mengganggu istrinya lagi. Sebagai laki-laki Rayyan belum merasa lega kalau belum menemui langsung Briyan.


"Selamat pagi pak Rayyan" Sapa ppak adit yang jugabbaru tiba di sekolah.


"Pagi pak Adit bu Anne" Balas Rayyan. Meski sudah tak mengajar di sekolah, hubungannya dengan guru-guru tetap berjalaan baik.


"Eh pak Rayyan, gimana kabarnya pak?" Tanya bu Ita yang sudah berada di dalam kantor.


"Alhamdulillah sehat bu Ita" Jawab Rayyan dengan ramah.


"Bu Shafa apa kabar pak, denger-denger bu Shafa pergi dari rumah ya?" Ujar bu Tania, yang langsung mendapat tatappan benci dari teman-teman yang lain. Dan di saat yang bersamaan Briyan masuk kedalam kantor.


"Istri saya baik bu Tania, Alhamdulillah kemarin-kemarin memang sempat ngambek pengaruh kehamilan, mood nya jadi sering berubah-ubah. Tapi sekarang sudah stabil" Jawab Rayyan tenang. Bu Tania hanya tersenyum kecut.


"Bu Shafa hamil pak Rayyan?" Tanya bu Anne antusias.


"Alhaamdulilah bu, sudh masuk bulan ke 3."


"Alhamdulillah, yang sabar ya pak Ray, orang hamil memang gitu suka ngambek nggak jelas" Ujar pak Adit sambil melirik bu Anne. Membuat yang lain terkekeh.


"Memang bu Anne suka ngambek pak Adit?" Tanya Rayyan.


"Jangan di tanya pak. Saya jadi suami serba salah, nggak ada benernya. Dikit dikit marah minta pulang ke rumah mamah. Udah gitu hampir 5 bulan nggak mau dekat-dekat saya, kan saya jadi repot" Terang pak Adit mengundang gelak tawa seisi ruangan.


"Untungnya Shafa masih mau deket-deket sama saya" Ujar Rayyan yang merasa bersukur meskipun Shafa sensitif setidaknya dia tidak menolak saat Rayyan membutuhkan nya malah dia yang aling semangat menggoda duluan.


"Bu Shafa hamil ya? Pantasan malam itu dia muntah-muntah sendirian di pinggir jalan. Saya juga sempat ngantar ke dokter lantaran dia sangat pucat tak bertenaga." Sahut Briyan tiba-tiba yang secara tidak langsung menyinggung Rayyan.


_______________________

__ADS_1


Jangan Lupa tinggalin Like, Vote dan comen ya. ❤️😍😘


Yang masih setia dengan novel ini terima kasih, kedepannya masih akan ada konflik tapi nggak seberat konflik yang kemaren, ampe kabur-kaburan dari rumah. Disini juga nanti akan ceritakan bagaimana nasib persahabatan Shafa dan Nisa, begitu juga dengan tante Lilis daan Yola. Semuanya akaan di tuntaskan sebelum novel ini End. Yang pasti akan selalu ada kejutan untuk kalian❤️😍😘


__ADS_2