Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Dua Pria Tampan


__ADS_3

Dua orang laki-laki tanpan nan rupawan nampak telah duduk berhadap-hadapan haanya terpisah oleh meja kaca yang ada di dalam ruangan pemilik yayasan.


Keduanya saling tatap, masih bergelut dengan pikirannya masing-masing. Briyan Utama, dengan wajah tampan dan coolnya sepertinya sudah bisa menebak maksud dan tujuan pria tenang dengan tatapan mata mematikan yang ada di depannya.


"Jadi, apa maksud dan tujuan pak Rayyan memanggil saya kemari?" Tanya Briyan santai.


"Langsung saja, saya tidak ingin bertele-tele. Saya hanya ingin mengingatkan pak Briyan untuk tidak mengganggu istri saya lagi." Ujar Rayyan tegas.


"Huh, jadi anda sudah tahu? Tapi sepertinya saya tidak bisa mengabulkan keinginan anda pak Rayyan?" Jawab Briyan dengan senyum menyungging di sudut bibir kanannya.


Rayyan meengepalkan tangannya. Tapi ia berusaha meredam emosinya dan tetap terlihat tenang.


"Apakah anda sadar dengan tindakan anda pak Briyan? Shafa adalah wanita bersuami yang saat ini sedang mengandung. Masih banyak wanita lain di luar sana yang bisa anda dekati. Kenapa harus istri saya?" Ujar Rayyan. Ia tak habis fikir dengan Briyan yang secara terang-terangan mengibarkaan bendera perang padanya.


"Saya hanya ingin membahagiakan wanita yang sangat saya cintai pak Rayyan. Benar, dia telah bersuami. Tapi apa artinya sebuah pernikahan yang di dasarkan pada kesalah pahaman dan paksaan? Secara hukum dia memang istri anda. Tapi, saya tidak yakin jika dia mencintai anda seperti dia mencintai saya dulu!" Ujar Briyan dengan penuh percaya diri. Setelah melihat Shafa malam itu, ia sangat yakin bahwa rumah tangganya dengan Rayyan tidak berjalan baik.


"Atas dasar apa anda mengatakan hal itu pak Briyan? Shafa bahkan sedang mengandung anak saya. Dan anda masih bisa mengatakan apakah dia mencintai saya? Konyol!" Jawab Rayyan dengan gaya tenangnya. Ia berusaha untuk tidak terpancing ucapan Briyan.


"Tidak ada cinta yang berawal dari keterpaksaan pak Rayyan. Saya juga tidak yakin anda benar benar mencintai Shafa. Buktinya anda membiarkan dia seorang diri di jalanan pada malam hari dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Suami macam apa yang menelantarkan istrinya seperti itu. Ada anda masih bisa menyebut itu cinta?" Ejek Briyan.


"Awalnya, saya sudah merelakan dia. Tapi setelah malam itu, saya tahu bahwa Shafa tidak bahagia. Asal anda tahu pak Rayyan, saya jauh lebih dulu mengenal Shafa! Saya tau seperti apa dia, bahkan hanya menatap matanya saya bisa tahu apakah dia sedang sedih atau bahagia. Dan sebelum kejadian malam itu, beberapa kali saya lihat dia nampak sedih meski dia menutupinya. Saya bukanlah orang yang kejam yang akan menghancurkan kebahgiaannya jika dia benar-benar bahagia. Tapi saya juga bukan orang baik yang akan diam saja melihatnya tersakiti. Sejak awal saya tahu dia menikah dengan anda saya sudah ragu, karena anda sama sekali bukan tipe pria idaman Shafa." Ujarnya sambil menatap Rayyan yang semakin menegang.


"Cukup pak Briyan!!! Jangan menyimpulkan sesuatu atas dasar yang anda belum ketahui dengan pasti. Yang pasti saya hanya mengingatkan! Jika anda memaksa saya tidak akan yinggal diam! " Jawab Rayyan dengan tegas dan penuh penekanan.


"Apa sudah selesai pak Rayyan? Kalau sudah saya permisi karena ada jam mengajar" Briyan beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Namun saat ia hendak membuka pintu, Rayyan kembali bersuara.

__ADS_1


"Tidak semua hal yang berawal dari paksaan berakhir tidak bahagia pak Briyan!!! Anda harus ingat itu" Ucapnya. Briyan hanya tersenyum sekilas kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Dikediamannya, Shafa sedang sibuk menyiapkan bekal makan siang untuk Rayyan. Ini adalah pertama kalinya ia menyiapkan bekal untuk suaminya itu. Bi Lastri yang menemani sejak tadi di buat khawatir dengan tingkah Shafa yang tetap aktif kesana kemari untuk menyiapkan segalanya.


"Bibi Lanjutin ya Mbak! Mbak Shafa duduk saja" Ujar bi Lastri.


"Nggak usah bi, bi duduk aja. Aku bisa kok ngerjain semua" Jawabnya santai sambil memperbaiki maskernya.


"Kalau Mas Rayyan tau, bibi bisaa kena marah mbak" Balas bi Lastri yang sejak awal sudah di wanti-wanti untuk mengawasi Shafa agar tidak kelelahan.


"Mas Rayyan nggak akan marah bi, ini dikit lagi selesai" Ujar Shafa. Ia membuatkan bekal makan siang Rayyan Udang Balado dan Tumis Brocoli. Ia menempatkan makanan tersebut di dalam kotak makan duaa susun. Bagian bawah berisi nasi dan lauknya dan bagian atasnya berisi puding Strawberry kesukaan suaminya.


"Selesai!!!" Ujarnya dengan bahagia. Ia segera membuka apron dan meletakan kotak tersebut di atas meja. Ia membiarkannya sedikit terbuka agar uap panasnya berkurang.


"Bibi panggil pak Madi sekarang ya mbak buat nganterin ini?" Ujar bi Lastri.


"Eh, Jangan... Saya sendiri yang akan membawakannya bi" Ucapnya dengan senyum menyungging. Ia kemudian berlalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Di kampus, usai melakukan presentasi Rayyan tidak langsung keluar dari ruang rapat. Ia masih berada di dalam untuk melakukan diskusi internal bersama beberapa rekannya. Di antaranya adalah bu Sonya. Bu Sonya merupakan salah satu dosen lulusan luar negeri yang memiliki kompetensi tinggi. Ia juga selalu aktif memberikan masukan dan ide untuk project penelitian kali ini. Namun, hari ini bu Sonya tidak terlihat se ceria dan se rame biasanya. Sepanjang jalannya rapat, ia hanya diam tak bersuara sedikitpun.


"Bu Sonya? Apa ada masalah?" Tanya Rayyan yang merasa ada yang aneh dengan rekannya itu.


"Yes! Saya akan di paksa menikah dengan putra rekan kerja papa. Nasib jomblo itu selalu berakhir tragis!" Ujarnya sambil membaringkan wajahnyaa di atas meja.


"Serius bu Sonya? Wah. Selamat ya?" Jawab pak Benni yang juga berada disitu.

__ADS_1


"Jangan bocorkan pada yang lain! Hanya ak Ben dan Mr. Ray yaang tahu" Ia memperingatkan.


"Kenapa tidak di terima saja bu Sonya?" Tanya Rayyan sambil membereskan laptop nya.


"Itu sama saja saya bunuh diri Mr. Ray. Saya tidak bisa menikah dengan orang yang tidak saya cintai" Jawabnya. Bu Sonya membantu membawa beberapa bundel materi yang di gunakan untuk presentasi, begitu juga pak Benni. Ketiganya keluar ruang rapat menuju ke ruangan Rayyyan, selaku ketua tim.


Mereka bertiga melewati beberapa ruangan sambil ngobrol seputar masalah bu Sonya.


"Sepertinya saya butuh pencerahan Mr. Ray. Bisakah anda membantu? Karena di antara kita bertiga hanya Mr. Ray yang sudah menikah" Ujar bu Sonya.


"Kalau bu Sonya butuh saran dan masukan Insha Allah saya siap. Tapi sepertinya kalau saat ini saya harus jaga jarak dulu" Ujar Rayyan.


"Maksudnya?" Bu Sonya dan pak Ben serempak bertanya.


"Istri saya lagi dalam mode ngidam. Dia sangat sensitif kalau saya berdekatan dengan wanita lain kecuali ibu, mertua dan pembanti di rumah" Terang Ray. Ia tidak mau rekannya itu salah paham jika tiba-tibaa ia menghindar.


"Astaga jadi balada ibu hamil itu benar benar ada!" Ujar Bu Sonya sambil geleng-geleng.


"Benar... Saya nggak mau ambil resiko di diamin lagi selama berhari-hari!" Jawab Rayyan. Mereka semua tertawa mendengar ucapan Rayyan yang tengah menceritakan ngidam istrinya.


Tiba....tiba


"Ayaah!!!"


Suara itu berhasil membuat Rayyan dan ke dua temannya terpaku.

__ADS_1


Mati aku!!! Dia ada di sini.


__ADS_2