Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Menanam Buah


__ADS_3

Setelah pergulatan panas mereka, dengan alih alih hadiah yang di berikan Shafa, Rayyan sedikit menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia meraih tubuh Shafa agar bersandar di dada polosnya dan mendekapnya erat. Kali ini Rayyan melakukannya dengan sangat lembut dan pelan. Ada kekhawatiran dalam dirinya, meski dokter mengatakan tidak apa-apa. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, Shafa menjadi sangat agresif, tidak seperti hari-hari biasanya. Hal itu juga yang membuat Rayyan takut. Ia takut tidak mampu mengendalikan dirinya saat istri cantiknya itu mulai menggoda.


"Sayang..!!!" Panggil Rayyan pada istrinya yang asyik membelai dada bidangnya.


"Hmmm"


"Shafa tau nggak, wanita yang menawarkan dirinya terlebih dahulu kepada suami itu pahalanyaa besaaaar banget" Ujar Rayyan sambil membelai rambutnya.


"Masa sih Mas? Berarti aku dapat pahala besar dong" Jawab Shafa kegirangan.


"Tentu, Karena menyenangkan dan melayani suami dengan ikhlas merupakan bagian dari ibadah. Kalau Shafa memulai duluan ada tambahan bonus pahalanya. Tapi begitu juga sebaliknya. Setiap istri yang mengacuhkan suaminya, tidak mau menemaninya di tempat tidur itu merupakan dosa besar, kecuali ada uzur yang menyebabkannya tidak bisa melayani suaminya seperti sedang haid, sakit atau lelah dan sedang hamil." Jelasnya.


"Sebagaimana Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra. Nabi Muhammad SAW. bersabda : Ada tiga orang yang shalatnya tidak akan diterima, dan kebaikan mereka tidak akan naik kepada Allah. Orang yang mabuk hingga dia sadar, seorang wanita yang dibenci suaminya, dan seorang hamba sahaya yang lari hingga dia kembali dan meletakkan tangannya ditangan tuannya."


"Jadi dalam Islam, menolak ajakan suami akan menjadikan dosa yang besar bagi istri, karena bisa menimbulkan rasa jengkel dan benci di hati suami. Begitu juga shalat mereka tidak akan diterima, karena melayani suami adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT." Imbuhnya. Kali ini dengan mengutip dalil tentang haal itu.


"Berarti aku banyak dosa sama Rayyan. Di awal awal kita nikah, kita tidurnya malah jauh-jauhan" Kenang Shafa.


"Ya kan mas waktu itu juga nggak minta" Jawab Rayyan.


"Kalau gitu sekarang aku mau sering-sering nyari bonus pahala deh" Ujar Shafa sambil menatap Rayyan dengan tatapan genit.


"Anak ayah nggak papa kan di dalam?" Ujar Ray, sambil meraba perut Shafa yang mulai terlihat gendut itu.


"Nggak papa ayah... Dia baik baik saja" Jawab Shafa sambil mendusel di dada Rayyan. Menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang menenangkan.


"Tapi ayah khawatir" Ujar Rayyan sambil mencium puncak kepala istrinya.


"Kalau khawatir, memang Mas mau puasa lagi kaya waktu itu?" Tanya Shafa yang kali ini memandang suaminya.


"Ya nggak selama itu juga sayang, tapi--"

__ADS_1


"Udah deh Mas, nggak usah jaim. Kalau ujung-ujungnya mau juga. Aku dan anak kita nggak papa kok." Tukas Shafa yang membuat Rayyan tak berkomentar lagi.


"Oh ya, mas beli kalung ini kapan? Kok nggak ada notif yang masuk di hape aku? Mas punya duit yang di sembunyiin dari aku ya?" Tanya Shafa sambil memicingkan matanya. Saat ini semua keuangan Rayyan di bawah pantauan yang mulia ratu Shafa.


Itu Masih ngutang sayang... Ngutang!!!


"Nggak ada sayang, Mungkin besok notifnya baru masuk. Udah ah nggak usah bahas itu. Yang penting Shafa seneng kan?" Ujar Rayyan mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku seneng banget... Makasih Ayaaah" Ujarnya sambil merangkul Rayyan.


"Makasih juga Mommy hadiahnya" Bisik Rayyan membuat Shafa malu.


"Bobo yuk, Udah malam" Ajak Shafa.


Mereka pun terlelap dalam buaian malam yang menenangkan. Saling berpelukan, memberikan kenyamanan dan rasa aman satu sama lain.


.


.


.


"Apa aja sayang, asal kamu yang masak, semua aku makan" Ujar Rayyan sambil menyeruput tehnya. Kebiasaan Rayyan saat pagi adalah minum teh. Dia merupakan tipe laki-laki yang tidak begitu menyukai kopi.


"Emm... Sayang, nanti biar pak Madi saja yang antar ya. Kamu di rumah saja" Ujar Rayyan. Karena hari ini jadwal beberapa mahasiswa melakukan bimbingan. Ia khawatir keberadaan Shafa akan menghambat pekerjaannya terlebih mahasiswa yang akan menyelesaikan studynya. Karena beberapa mahasiswa yangbakan melakukan bimbingaan hari ini adalah perempuan.


"Hmmm" Jawab Shafa sambil mengunyah rotinya.


"Kalau Shafa ingin makan sesuatu atau apa, nanti beritahu mas ya? Pulangnya mas belikan." Ujar Rayyan sambil mengecup kening istrinya sebelum berangkat ke kampus.


"Iya... Mas hati-hati. Jangan deket - deket cewek cantik" Pesannya yang membuat Rayyan tersenyum.

__ADS_1


"Siap Bos, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Selepas Rayyan pergi, Shafa menghabiskan waktu di halaman belakang. Shafa meminta bi lastri dan pak Madi menyiapkan tempat untuk tanaman yang akan di tanamnya. Ia memberikan tanda di beberapa titik dan meminta pak Madi untuk membuatkan lubang tanam.


"Bu Shafa mau menanam apa memangnya?" Tanya Pak Madi sambil menggali tanah berumput hijau tersebut.


"Mau nanam buah-buahan pak Madi. Mulai besok aku pengen makan buah langsung dari pohonnya. Huumm" Ujar Shafa sambil membayangkan buah-buahan yang ia petik sendiri.


"Hah? Besok mbak? Emang bisa nanam langsung buah?" Tanya bi Lastri keheranan.


"Bisa dong... Aku mau minta mas Rayyan beliin pohon yang udah ada buahnya. Jadi nggak perlu repot repot beli bi" Ujar Shafa .


Duh, bakal repot lagi ini mas Rayyan kayaknya.


"Buah apa aja mbak yang mau di tanam? Ini lubangnya ada 7." Tanya bi Lastri sambil menghitung jumlah lubang yang di buat pak Madi.


"Jambu air, belimbing, mangga, apel, Jeruk, Strawberry, Avocado, Anggur... Pokokbya semua deh bi. Aku mau buat kebun buah di sini" Ujarnya sambil tersenyum bahagia. Entah ide dari mana ia tiba-tiba ingin membuat kebun buah di halaman yang berukuran 10 x 15 meter itu.


Bi Lastri dan pak Madi hanya geleng-geleng mendengar keinginan Shafa yang mendadak itu. Mereka tahu betul majikannya saat ini sedang dalam kondisi ngidam yang kadang tidak masuk akal. Kendatipun begitu, sebisa mungkin membantu Shafa yang berhasil membuat mereka kelimpungan dan sedih berhari-hari saat ia pergi.


"Sebentar jam berapa saya aantar makan siang pak Rayyan bu?" Tanya pak Madi yang juga tengah duduk istirahat di teras.


"Jam 11 pak Madi. Pak Madi nanti antar saya, terus balik lagi" Jawab Shafa sambil meneguk segelas sirup.


"Bukannya Mas Rayyan pesen biar pak Madi saja Mbak?" Tanya bi Lastri. Ia sempat mendengar percakapan keduanya di meja makan tadi.


"Aku berubah pikiran bi. Aku sekalian mau nunjukin pohon buah buahan sama Mas Ray, biar langsung di cariin." Jawab Shafa.


Triiiing....

__ADS_1


Sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Sebuah pemberitahuan transaksi ke nomor rekening sebuah toko perhiasan. Shafa tersenyum senang setelah mengetahui nominal yang tertera pada layar ponselnya. Nominal tersebut adalah harga dari kalung bermata berlian yang melekat di lehernya saat ini.


Lumayan, ini sama dengan gaji Mommy 3 bulan saat mengajar di sekolah kakek mu Nak.


__ADS_2