Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Perjuangan Daddy


__ADS_3

"Kak Jeff, ternyata dia adalah kakak Shafa" Shafa menangis memeluk mommy nya.


"Iya nak, dia kakakmu. Yang selalu menjagamu sejak kamu kecil" Ujar Fanny sambil terisak.


"Mas, aku mau lihat kak Jeff sekarang!" Ujar Shafa sambil menatap suaminya. Tak terasa sudah hampir dua jam mereka di musholla mendengarkan cerita masa lalu daddy dan Jeffri.


"Ayo, kakakmu pasti sudah selesai di operasi" Ujar Mommy hendak beranjak.


"Mommy dan mbak Aini duluan saja. Biar Rayyan yang bantu Shafa" Ujar Rayyan. Karena perut Shafa yang sudah bulannya membuatnya kesulitan berjalan cepat. Aini dan mommy pun setengah berlari meninggalkan Shafa dan Rayyan yang masih berada di mushola menuju ruang operasi.


"Ayo mas!" Shafa menarik lengan Rayyan. Tapi Rayyan masih duduk dengan tenangnya. Tak bergerak sedikit pun.


"Sini duduk dulu, mas mau ngomong sesuatu" Ujar Rayyan sambil menepuk karpet yang ada di depannya.


"Mau ngomong apa Mas? Ayo ah, aku mau cepat tau kondisi kak Jeff" Ujar Shafa yang kini sudah duduk di hadapan Rayyan. Rayyan membenarkan posisi kerudung Shafa yang sedikit berantakan dan memasukkan kembali beberapa helai rambutnya yang sempat keluar. Ia juga mengusap matanya dengan lembut, menghilangkan bekas air mata yang tumpah.


"Sebelum kita melihat kondisi Jeffri, mas mau Shafa janji satu hal" Ujar Rayyan sambil menatap mata Shafa.


"Apa mas? Cepet!" Shafa sudah tidak sabar. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Jeffri.


"Sayang, kamu jangan hanya memikirkan dirimu dan rasa sedih mu saja. Kamu juga harus memikirkan dia" Rayyan menyentuh perut Shafa.


"Mas tahu kamu sedih, mas juga sedih mendengar cerita mommy meski mas sudah mendengarnya dari daddy waktu itu. Tapi kamu harus ingat, anakmu juga butuh ibunya. Kalau kamu seperti ini, bagaimana dengan Zafran dan anak kita yang ada di dalam. Mas tidak melarang Shafa untuk menangis, menangis lah jika kamu ingin menangis tapi mas mohon jangan lupa tanggung jawab mu dan kewajiban mu sebagai ibu. Segala sesuatu yang terjadi sudah ada yang mengaturnya sayang. Jadi Mas mohon kendalikan diri mu. Ingat! Allah itu maha baik sayang. Apa yang terjadi adalah rencana terbaik Allah untuk kita semua" Ujar Rayyan mencium tangan istrinya.


Mas Ray, benar. Maafkan mommy nak, mommy sampai lupa kalau ada kamu di dalam perut mommy.


"Satu hal lagi, jangan pernah menyalahkan daddy atau siapapun atas apa yang sudah terjadi. Shafa sudah mengetahui semuanya, Shafa tidak boleh menghakimi daddy atas tindakannya di waktu yang lalu. Karena yang paling menderita disini bukan hanya Shafa yang tidak tau apa-apa, tapi Daddy dan juga Jeffri. Mereka saling terikat tapi tidak pernah menyatakan, mereka saling merindukan tapi hanya bisa diam." Shafa mengangguk. Di bandingkan dengan Daddy dan Jeffri, yang di rasakan Shafa tidak ada apa-apanya.


"Sekarang ayo, kita lihat kak Jeff" Ujar Shafa yang sudah nampak tenang. Rayyan membantunya berdiri dan berjalan.


"Ugh, mommy Zafran endut banget sih" Goda Rayyan saat merangkul pinggang Shafa yang hanya bisa di raih setengahnya saja. Berbeda dengan dulu saat masih ramping.


"Mas! Aku lagi nggak mood ya! Toh aku jadi kaya drum gini juga karena ulah kamu mas yang tiap malam "ea ea" in aku. Sekarang aja bilang gendut dulu pas aku langsing nggak pernah tu muji aku langsing atau apa. Lagian biar gendut udah mau mbrojol juga kamu masih nafsu" Balasnya sambil bersungut-sungut. Rayyan tersenyum melihat istrinya mengomel sepanjang jalan. Itu artinya Shafa sudah kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Saat tiba di depan ruang operasi, semua nampak terdiam. Dokter Marco yang mengenakan pakaian serba biru pun ada di luar ruangan bersama dua orang perawat lainya. Daddy Shafa tak nampak di tempat itu. Sedangkan mommy terlihat menunduk tak bersuara. Aini pun sama, Meski demikian sangat jelas terlihat keduanya sedang menangis.


"Dok, Apa operasinya sudah selesai? Bagaimana kondisi kak Jeffri!" Shafa menghampiri dr. Marco yang tengah memegang kepalanya. Ia menatap Shafa dengan tatapan menyesal.


"Bagaimana dok?" Tanya Shafa lagi. Ia mencoba untuk berbaik sangka bahwa kakaknya pasti selamat. Namun yang di dapatinnya justru sebaliknya. Dokter Marco menggeleng dengan tatapan putus asa.


Ya Allah... Kak Jeff. Kak Jeff nggak beneran pergi kan? Ini semua pasti hanya mimpi. Aku baru saja bahagia karena punya kakak, tapi kenapa sekarang dia justru ninggalin aku. Aku lebih baik tidak mengetahui semua jika seperti ini.


"Di mana daddy? Kenapa pintunya masih tertutup? Aku mau masuk!" Shafa hendak melangkah menuju pintu ruang operasi tapi tubuhnya di tahan oleh Rayyan juga perawat yang menghadang jalannya.


"Mas? Aku mau ketemu daddy mas! Aku mau lihat kak Jeff!" Shafa mendongak menatap Rayyan.


"Mereka masih bekerja bu. Tolong jangan membuat keributan" Ujar suster.


"Apa maksudnya bekerja dok? Bukankah dokter tadi sama-sama daddy? Kenapa dokter tidak membantunya? Kenapa dokter membiarkan Daddy ku sendiri. Kenapa dok?" Teriak Shafa pada dokter Marco.


"Sayang sudah" Rayyan meraih kepala Shafa dan membawanya dalam dekapannya. Ia tahu istrinya pasti sangat terpukul. Shafa memeluk Rayyan erat menyalurkan semua rasa sakit dalam hatinya.


"Kami semua menyerah Shafa, Jeffri tidak bisa di selamatkan. Tubuhnya tidak merespon segala macam tindakan yang kami berikan. Tapi Daddy mu tetap bersikeras. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kami tidak mungkin melakukan operasi pada orang yang sudah tidak mungkin hidup lagi." Terang dokter Marco.


"Pisau!"


"Penjepit!"


"Hisap!"


Perintah! Demi perintah mengiringi kerja dokter bedah yang tengah mengoperasi putranya sendiri. Setelah perdebatan panjang bahkan sempat hampir adu jotos dengan dr. Marco, dr. Harsha tetap bersikukuh untuk melakukan operasi pengangkatan peluru yang bersarang di dada sebelah kiri Jeffri. Meski kondisinya tidak memungkinkan lagi. Dokter Marco menyerah dan memilih untuk keluar dari ruang operasi. Ia tidak mau ikut dalam aksi gila sahabatnya tersebut.


Kamu tidak boleh mati Jeff!! Kamu harus tetap hidup untuk menepati janjimu pada ibumu!!! Bukankah kamu ingin berkumpul bersama, merasakan kehangatan sebuah keluarga? Daddy akan penuhi itu semua. Maafkan daddy yang selama ini mengorbankanmu demi keselamatan daddy sendiri. Sekarang, daddy akan tebus semuanya. Bertahanlah nak.


Daddy Shafa mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan putranya yang sudah lemas tak berdaya.


"Berapa persen?" Tanyanya.

__ADS_1


"Masih 3% dok!" Jawabnya. Kemungkinan hidupnya hanya tinggal 3 persen. Bisa di pastikan begitu operasi selesai pasti tinggal 0%. Daddy kembali fokus mengarahkan penjepit kebagian jantung dengan hati-hati. Memang tidak tepat meengenai jantungnya tapi posisi peluru yang berada di bagian bawah menyulitkan dokter untuk mengangkatnya. Karena mengangkat peluru tersebut pun pasti akan mengenai bagian vital lainnya.


Bismillahirrahmanirrahim


Dengan hati hati dan teliti daddy mengarahkan penjepit tersebut pada bagian yang di tuju. Detak jantung Jeffri sangat lemah hampir tak nampak dan tak terdengar.


Tiiiiiiiit..........


Daddy terlonjak saat mendengar suara dari layar monitor. Bukannya menyerah ia justru mempercepat kerjanya.


Klontang... Daddy berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Jeffri.


"Dok pasien mening- - -"


"Siapkan alat kejut jantung. SEKARANG!!!" Teriakannya menggema membuat perawat bergegas mengambil apa yang ia minta.


Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak boleh pergi Jeffri.


Sementara di luar ruangan mereka semua menangisi kepergian Jeffri. Mommy begitu terpukul mendengar ucapan dr. Marco. Ia teringat kembali saat pertama kali Jeffri datang ke rumahnya, Ia ingat saat Jeffri pertama kali memanggil namanya. Jeffri bahkan sering memuji kue buatan Fanny. Saat kecil ia selalu membantu Fanny menunggu Shafa saat ia melakukan pekerjaan lainnya. Setelah remaja pun Jeffri tetap menjadi anak yang patuh dan rajin meski jarang bertemu karena mereka memasukan Jeffri di sekolah elit yang ada di Singapura. Hingga Jeffri dewasa, sesibuk dan serepot apapun ia, jika Fanny dan suaminya membutuhkannya ia pasti akan selalu ada. Ia ingat betul saat lulus dari sekolah menengah atas, Fanny menyuruhnya melanjutkan kuliah kedokteran karena kecerdasan dan kepintarannya yang ia miliki. Namun dengan santun Jeffri menolak. Ia memilih untuk mendaftar di Akademi Kepolisian (AKPOL). Tujuan utamanya hanya satu seperti yang sering ia katakan "Jeffri ingin melindungi Pak dokter dan ibu Fanny juga Adek".


Tet! Lampu di ruang operasi mati. Menandakan operasi Jeffri telah selesai. Shafa tak mau berbalik, ia masih tetap mendekap suaminya erat. Jika sebelumnya ia ingin melihat Jeffri, kini tidak lagi. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Jeffri pergi untuk selamanya.


Orang pertama kali keluar dari ruangaan itu adalah Daddy Shafa. Setelah 3 jam berada di dalam, bergelut dengan peralatan medis juga perasaannya sendiri akhirnya ia keluar juga. Mungkin ini adalah operasi paling berat yang pernah ia hadapi. Mommy hanya mampu memandang daddy dengan wajah sendunya. Daddy pun terlihat sama, bahkan lebih menyedikan. Ia keluar dan melewati mereka yang ada di depan ruangan tanpa berucap sepatah kata pun. Semua paham, dr. Harsha pasti sangat terpukul dengan kepergian putranya.


Setelah kepergian daddy, seorang perawat membuka lebar pintu ruang operasi tersebut. Terdengar suara brangkar di dorong keluar. Shafa memberanikan diri untuk menoleh. Di lihatnya tubuh jeffri yang tertutup selimut sebatas leher terbaring di atas brangkar tersebut.


"Jeffri"


"Maaf dok. Pasien akan segera di bawa ke HS Clinic untuk perawatan intensif" Ujar seorang perawat yang tengah mendorong brangkar tersebut kepada dr. Marco.


"A..apa maksudmu?" Dr. Marco terbata mendengar ucapan perawat tersebut.


"Dokter Harsha telah berhasil mengeluarkan pelurunya, dan sekarang beliau sudah menunggu di depan. Permisi dok!" Perawat tersebut terus mendorong brangkar yang di ikuti polisi berseragam lengkap yang sejak tadi mengawal mereka.

__ADS_1


____________


Jangan Lupa Like 👍


__ADS_2