Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Pembukaan


__ADS_3

Saat mendengar teriakan putra kecilnya yang mengatakan bahwa adiknya akan keluar, Rayyan segera menghampiri Shafa yang tengah duduk di sebelah ibunya.


"Sayang? Apanya yang sakit?" Tanyanya begitu menemui Shafa yaang sedang bersandar pada sofa di ruang tengah rumah mereka.


"Mules mas" Jawabnya singkat sambil menatap wajah Rayyan yang terlihat khawatir.


"Ayo kita ke klinik sekarang!" Ajaknya tapi Shafa hanya menggeleng. Sedang perasaan Rayyan sudah mulai tak menentu.


"Belum saatnya Ray, kalau kelamaan di sana nanti malah Shafa nya tertekan. Sakitnya juga masih suka timbul hilang. Nanti kalau udah kerasa banget baru ke klinik" Ujar ibu memberikan pengertian agarbputranya tersebut tidak buru-buru.


"Bener mas, dokter Lily juga kemarin nyampein gitu. Jangan panik dan buru-buru" Sahutnya yang masih bisa menatap Rayyan dengan seulas senyum manis.


"Sekarang biar Shafa makan dulu. Dia butuh tenaga ekstra untuk persiapan nanti. Pesanan nya ada kan Ray?" Tanya ibu. Mungkin yang dia maksud adalah kepiting saos padang yang di pesan Shafa tadi.


"Udah di siapin sama bi Lastri bu" Balas Rayyan.


"Biar ibu ambilkan" Ibu melangkah menuju dapur. Tinggalah Shafa dan Rayyan berdua serta si kecil Zafran yang duduk anteng sambil memandang mommy nya.


"Kamu sudah makan mas?"


Sempat-sempatnya kamu menanyakan apakah aku sudah makan atau belum padahal kamu sendiri sedang merasakan sakit.


"Aku nggak bisa makan sebelum anak kita lahir." Ucap Rayyan. Lidahnya terasa hambar, jangankan makan, minum pun rasanya ia tak ingin.


"Tapi mas harus makan, gimana mas mau nguatin aku kalau mas sendiri lemas" Balasnya.


"Zafran sayang, Zafran makan sama ayah ya nak" Ucapnya pada si kecil. Namun Zafran pun menggeleng. Sama seperti Rayyan, ia juga pasti merasakan khawatir pada mommy tercinta nya.


"Anak mommy harus makan, supaya kuat gendong adik ya?" Bujuknya, namun lagi-lagi Zafran menggeleng. Sepertinya Rayyan harus turun tangan langsung. Karena meski ia begitu sayang pada mommy nya tapi dia lebih menurut dengan ucapan Rayyan.


"Zafran, makan sama ayah ya? Kalau tidak makan tidak boleh lihat adik" Sedikit ancaman pasti membuatnya nurut. Benar saja ia langsung mengangguk setuju.


"Bi Lastri tolong bawakan makanan buat Zafran kemari" Ujar Rayyan pada bi Lastri.


"Buat Mas Rayyan sekalin bi" Teriak Shafa menambahi. Rayyan no comen kalau Shafa sudah angkat bicara dan memberikan perintah.


"Apa sudah sakit banget sayang?" Tanya Rayyan lagi.


"Sekarang sakitnya lagi reda. Mungkin baby boy mau maem dulu sebelum keluar" Ujar Shafa yang terlihat begitu tenang.


"Nah ini makan nya. Sini Ibu suapi" Ujar ibu dengan membawa sepiring nasi beserta kepiting sudah ia pisahkan dagingnya. Sungguh ibu mertua yang perhatian. Jarang ada ibu mertua seperti ibu Rayyan ini.


"Ini nasi nya mas Rayyan" Bi Lastri juga memberikan piring berisi nasi dan lauk pauk untuk Rayyan.


"Mas Zafran di suap bibi Yati ya?" Ujar Bi Yati yang juga membawakan makanan untuk Zafran.


"Mas mas, foto dulu dong mumpung lagi ngumpul. Bi Lastri sama mbak Yati jangan pergi. Kita selfi dulu buat kenang kenangan" Ujar Shafa yang sempat sempatnya minta foto. Rayyan pun mengikuti kemauan istrinya ia mengambil ponsel dari saku celana dan mengarahkan kamera depan untuk berselfie ria. Ia merangkul bahu Shafa yang sedang tersenyum manis, Zafran yang berada di samping Shafa memeluk perut Shafa sedangkan ibu di belakang Zafran mengangkat jempolnya. Nampak bi Lastri dan mbak Yati berdiri di sebelah ibu dengan mengakat jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V.


"Satu...Dua...Tiga" Cekrek!!! Cekrek!! Cekrek!!!


"Sudah" Ujar Rayyan. Setelah foto bareng mereka melanjutakan makan siang nya di ruang tengah rumah itu.


"Udah...udah bu! Air" Ujar Shafa yang segera menelan makanannya. Rayyan dengan cepat menyodorkan air putih untuk Shafa.


"Mas aku ingin ke kamar mandi" Ujar Shafa yang terlihat sudah tidak tahan.

__ADS_1


"Ayo mas bantu" Rayyan pun menuntun Shafa menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia menungguinya di depan pintu sampai Shafa keluar. Kalau saja Shafa tidak menolak, pasti ia sudah berada di dalam untuk menemani istrinya.


"Sudah sayang?" Tanyanya yang sedang gelisah di depan pintu kaca tersebut.


"Belum" Sajut Shafa.


"Duh...kok nggak bisa keluar sih" Gumam Shafa yang merasa ingin buang air besar tapi tidak ada yang di keluarkannya.


"Sudah?" Rayyan segera menuntun istrinya keluar begitu ia keluar dari kamar mandi.


"Mules mas, tapi nggak bisa keluar" Ujar Shafa sambil meringis memegang pinggang belakang nya.


"Bu... ayo ke klinik sekarang. Shafa udah mules bu" Ujar Rayyan.


"Tunggu sebentar lagi mas" Tolak Shafa. Ia tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di klinik. Lebih baik nunggu sakit dulu baru ke klinik agar begitu sampai langsung melahirkan.


"Bi Lastri! Tolong tas dan semua perlengkapan Shafa di masukin mobil bi!" Titah Rayyan pada bi Lastri.


"Mbak Yati, tolong gantikan baju Zafran dengan kemeja dan celana panjang. Siapkan juga baju ganti dan susunya di dalam tas. Kita mau ke Klinik sekarang!" Titahnya pada mbak Yati. Siang itu, Semua orang terlihat begitu sibuk menyiapkan ini dan itu.


"Sayang mau kemana?" Tanyanya saat melihat Shafa berdiri.


"Aku mau jalan-jalan mas, ini rasanya nggak enak banget" Ujar Shafa.


"Ya udah mas temani" Rayyan langsung menggandeng lengan istrinya.


"Mas sholat dzuhur dulu gih, itu sudah adzan. Nanti gantian sama ibu. Lagian sakitnya masih bisa aku tahan kok, belum sakit banget" Ujar Shafa.


Rayyan pun segera berlari masuk ke dalam kamarnya untuk Sholat. Sholatnya kali ini benar-benar tak khusuk. Ia bahkan sempat mengulang Shalat lantaran lupa jumlah rakaat yang telah ia kerjakan, meskipun bisa saja ia melakukan sujud sahwi tetapi Rayyan memilih untuk mengulang dan mencoba untuk lebih tenang dan khusuk di shalat ke duanya. Setelah Shalat tak lupa ia berdoa memohon kepada Allah agar persalinan Shafa nanti di beri kemudahan dan kelancaran. Ia bahkan sempat meneteskan air matanya saat memohon agar istrinya di beri keselamatan pada saat melahirkan.


"Ibu buruan Shalat baru kita ke klinik!" Ujar Rayyan setelah keluar dari kamar. Di lihatnya Zafran sudah siap dengan kemeja dan celana panjangnya lengkap dengan sepatu kets nya. Ia sedang menggendong boneka berbentuk guling yang katanya akan ia berikan untuk adiknya.


"Sssshhh......huuuhhh" Shafa kembali mendesah sambil menekan pinggang belakangnya.


"Sabar ya sayang" Ujar Rayyan sambil mengusap punggung Shafa.


"Ibu cepaaaattt!!!" Ujar Rayyan pada ibunya yang tengah Sholat. Padahal baru saja ibu masuk rakaat pertama.


"Mas, jangan teriak-teriak ah! Aku aja yang mau ngelahirin biasa aja, kok mas Ray malah yang panik! Gitu mau punya anak lima. Satu aja kelimpungan kaya gini!" Omel Shafa pada suaminya yang tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.


"Iya sayang iya" Jawab Rayyan yang langsung mati kutu mendengar ucapan istrinya.


"Iya, ayah kenapa teliak-teliak sih? Uti kan lagi sholat ayah" Zafran ikut berkomentar.


"Ada apa sih Ray?" Ibu yang baru selesai sholat langsung menghampiri mereka berdua.


"Tadi Shafa kaya kesakitan banget bu" Ujar Rayyan yang masih menggandeng tangan Shafa.


"Ya ampun Ray, kamu jangan panik gitu dong. Emang kaya gitu kalau mau lahiran. Itu belum seberapa Ray. Kalau sekarang aja kamu panik gimana nanti? Bisa-bisa kamu pingsan" Ujar ibu sambil geleng-geleng.


"Ya udah sekarang ayo kita berangkat!" Ujar Rayyan namun tangan nya di cekal oleh Shafa.


"Mas nggak lihat penampilan aku? Yakin aku ke klinik kaya gini?" Tanya Shafa. Ia saat ini masih mengenakan daster lengan pendek bermotif batik tanpa memakai kerudung yang menutup rambut indahnya.


"Astagfirullah, ayo sini mas bantu ganti baju" Ujar Rayyan kembali menuntun istrinya ke dalam kamar. Shafa terkekeh melihat suaminya yang terlalu panik sampai lupa bahwa Shafa sendiri belum bersiap, untung saja rasa mulas nya masih bisa ia tahan.

__ADS_1


"Aku mau pakai baju yang itu mas!" Tunjuk nya pada sebuah dress longgar berwarna putih yang tergantung di lemari pakaian nya.


"Nggak-nggak! Mas nggak suka warna putih! Yang ini saja, cantik!" Ujar Rayyan sambil mengeluarkan daster panjang berbahan katun berwarna abu-abu. Sebenarnya bukan ia tidak suka warna putih, ia hanya tidak ingin berfikir yang aneh aneh saat istrinya memakai pakaian serba putih.


Setelah membantu Shafa mengganti baju, ia melepaskan bandana yang bertengger di kepala Shafa dan menggantinya dengan hijab instan berwarna cream yang meenutup dada.


"Udah cantik, sekarang berangkat yuk!" Ujar Rayyan sambil tersenyum menatap istrinya.


"Terima kasih mas!" Balas Shafa kemudian mencium pipi kanan Rayyan.


"Pak Madi, ayo berangkat!" Rayyan memberikan instruksi pada supir pribadinya tersebut untuk segera lepas landas menuju HS Clinic.


Sebelum berangkat, Shafa semat berpamitan dengan bi Lastri dan mbak Yati. Mereka berdua sempat meneteskan air mata ketika Shafa meminta maaf atas segala kesalahan yang mungkin tak sengaja melukai mereka.


Kini semua telah berada di dalam mobil. Ibu dan Zafran duduk di kursi depan sedangkan Shafa dan Rayyan di kursi tengah. Kursi belakang dan bagasi mobil Rayyan penuh berisi perlengkapan Shafa dan juga calon anaknya. Zafran pun masih setia memeluk boneka guling yang di ambilnyaa dari kamarnya tadi.


Baru beberapa menit perjalanan, Shafa kembali merasakan mulas di sertai nyeri yang lebih kuat dari yang sebelumnya. Ia menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata menahan rasa sakit di sekitar perutnya. Tangan nya mulai menggenggam kuat tangan Rayyan yang tak pernah melepaskannya.


Melihat hal itu, Rayyan segera meraih kepala istrinya agar bersandar di bahunya. Bibirnya terus membisikkan kalimat-kalimat dzikir yang dapat menenangkan hati dan perasaannya. Shafa menggigit bibir bawahnya saat sakit itu semakin terasa. Hal Itu tak luput dari perhatian Rayyan yang tak pernah melepaskan pandangannya dati wajah Shafa. Keringat-keringat kecil mulai nampak menghiasi bagian kening di atas bibir Shafa.


"Pak Madi bisa lebih cepat sedikit?" Ujar Rayyan. Iya sudah mulai bisa mengendalikan dirinya meski perasaannya kini sudah campur aduk antara takut, senang, sedih atau bahagia. Semua bercampur menjadi satu seperti rasa permen yang sering muncul di iklan televisi.


"Maaassh..." Desah Shafa semakin kuat mencengkeram lengan Rayyan.


"Sabar sayang, nggak lama lagi sampai" Bisik Rayyan sambil terus mengusap punggung istrinya. Ia tidak boleh panik karena Shafa sangat membutuhkan ia yang bisa menenangkan dan menguatkan. Sementara itu, ibu terlihat sedang sibuk menelfon mommy untuk segera bersiap menjemput mereka di depan klinik.


"Maassh... Sakiiit!" Rintih Shafa yang jelas terdengar di telinga Rayyan. Kini ia merubah posisinya dengan sedikit miring dengan menenggelamkan wajahnya di bahu kanan Rayyan sedang tangan kanannya merangkul leher Rayyan.


"Laa ilahailla subhanaka inni kuntu minaddzolimiin" Bisik Rayyan menuntun istrinya untuk terus berzikir.


setelah 15 menit perjalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di HS Klinik. Rayyan merasa sedikit agak lega karena istrinya akan segera mendapat penanganan dari dokter kandungan.


Ia mbantu Shafa turun dari mobil dengan hati-hati, sementara Shafa sudah meringis kesakitan sambil memegang kuat lengan Rayyan. Nampak dokter Lily dab beberapa bidan sudah menunggu di depan loby klinik dengan membawakan sebuah kursi Roda untuknya.


Melihat Shafa keluar dari mobil mommy dan daddy langsung berlari menghampirinya.


"Anak mommy pasti bisa!" Ujar Mami sambil memeluk Shafa.


"Kesayangan daddy harus kuat!" Ujar daddy sambil meencium puncak kepala Shafa.


Mommy ikut menuntun Shafa di sebelah kirinya. Para bidan dan perawat pun ikut menghampiri dengan mendorong sebuah kursi roda. Shafa segera di dudukkaan di atas kursi roda dan di dorong menuju lift.


"Zafran sini sama Opa. Kita tunggu di kamar om Jeff sama kakak Hafiz ya?" Daddy meraih Zafran dalam gendongannya, karena tak mungkin ia ikut serta mommynya saat sedang bersalin.


Shafa di bawa di lantai 3, ruangan bersalin sekaligus kamar perawatan yang khusus di siapkan untuk dirinya. Letaknya tepat di depan kamar perawatan Jeffri yang masih dalam penjagaan ketat oleh orang-orang berseragam dan bersenjata lengkap.


"Shhh maaaash.... Sakiiit" Shafa mendesah kesakitan ketika hendak berdiri dari kursi roda menuju ranjang.


"Sabar sayang" Hanya itu yang bisa di ucapkan Rayyan meski hatinya terus merapalkan dzikir dan doa.


Saat ini yang berada di dalam ruangan hanya Rayyan, dokter Lily, bidan dan juga Mommy dan ibu. Sedangkan daddy dan Zafran berada di dalam ruang perawatan Jeffri menunggu proses persalinan Shafa berlangsung.


"Kita cek pembukaan dulu ya bu?" Ujar dokter Lily sambil mengarahkan Shafa untuk berbaring di atas ranjang. Kemudian dokter Lily memakai sarung tangan nya dan mulai memeriksa bagian inti Shafa.


"Baru pembukaan 3 bu, masih lama!" Ujar dokter Lily Sambil menurunkan kembali daster Shafa.

__ADS_1


What? Masih lama? Ini aku udah mau sekarat dan dokter bilang masih lama? Ya Allah ampuni hambamu ini.


__ADS_2