
"Ameel...Viroong" Shafa berteriak kegirangan saat mengetahui sahabatnya datang berkunjung. Di akhir pekan mereka yang biasa sibuk bekerja kini prey dan bisa berkumpul bersama. Sejak Shafa pulang dari aksi kaburnya sebulan yang lalu, mereka belum pernah bertemu. Setelah semua keadaan membaik barulah mereka mengunjungi Shafa.
"Hai beb. OMG, Lo gendut banget Fa" Ujar Amel sambil memeluk Shafa dan memperhatikan tubuh Shafa.
"Ini bukan gendut! Tapi sekseh" Ujar Shafa dengan gaya sensual.
"Suami Lo mana? Kok sepi?" Tanya Vira.
"Lagi di kolam belakang sama anak gue dong. Ayo masuk..masuk!" Jawab Shafa mempersilahkan teman-temannya masuk. Mereka duduk di sofa ruang tengah. Shafa segera mengeluarkan makanan dan cemilan yang ia miliki.
"Busyet! Banyak banget makanan Lo Fa, pantesan badan udah kaya badak gini" Ejek Amel sambil memperhatikan tubuh Shafa yang memang terlihat berisi.
"Biar gini gini gue tetep cantik kan? Mas Ray bilang aku kayak barbie" Ujar Shafa sambil memasukan salad buah ke dalam mulutnya.
"Barbie? ha.ha.ha.ha.." Mereka tertawa mendengar ucapan Shafa.
"Barbie lokal Mel." Balas Shafa sambil memutar bola matanya.
"Ha.ha.ha. Suami lo bisa aja. Btw mana anak Lo? Gue penasaran pengen lihat. Di fotonya ganteng banget Fa." Ujar Vira sambil mengedarkan pandangannya menyapu isi ruangan.
"Ganteng dong. Rejeki anak Sholeh gitu Loh. Dia lagi kasi makan ikan sama Mas Ray. Gue panggil dulu yah" Ujar Shafa kemudiaan beranjak menuju teras belakang.
"Zafraaaan!!!" Panggil Shafa pada bocah kecil yang sedang memberi makan ikan berwana warni yang ada di kolam. Ia nampak senang bermain dengan ikan-ikan hias tersebut. Sesekali ia mencelupkan tangannya ke dalam kolam kemudian mengangkatnya kembali sambil tertawa renyah.
"Mommy" Zafran tertawa girang saat Shafa mendekat.
"Abang ikut Mommy yuk? ada temannya Mommy mau ketemu." Ujar Shafa pada Zafran. Zafraan diam sesaat.
"Tante Jahat Mommy?" Tanya Zafran. Ia masih ingat kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya sedikit takut bertemu dengan wanita asing.
"Bukan sayang. Ini tante baik, dia bawain oleh-oleh buat Zafran" Jawab Shafa. Ia tahu betul anaknya tersebut masih mengalami trauma.
"Siapa Mom?" Tanya Rayyan.
"Amel dan Vira Mas, mereka pengen banget ketemu Zafran" Ujar Shafa.
"Ya udah ayok ketemu tante. Ayah temani abang yah?" Bujuk Rayyan. Zafran pun mengangguk setuju.
"Hai ganteng..." Sapa Amel pada Zafran yang berada dalam gendongan Rayyan.
"Yang ganteng bapaknya atau anaknya Mel?" Ujar Shafa sambil memicingkan matanya.
"Ya ampun Bumil satu ini. Sensitif banget sih. Ya Zafran lah yang ganteng. Ya kan Zafran?" Jawab Amel.
"Oh... Gue kirain ayahnya" Ujar Shafa.
"Yaelah Fa, Gue bukan Nis...." Vira cepat-cepat menyikut lengan Amel. Amel pun segera menutup mulutnya. Hampir saja ia keceplosan menyebut nama Nisa.
Shafa mendengus, "Nggak usah bahas dia" Jawab Shafa ketus. Terlihat Shafa belum bisa memaafkan Nisa.
__ADS_1
"Hallo Zafran kenalan dong" Ujar Vira sambil menatap Zafran yang verada dalam pangkuan Ayahnya.
"Zafran salim dulu Nak sama tante Vira dan tante Amel" Ujar Rayyan. Zafran pun segera berjalan menuju arah Vira dan Amel. Ia menyalami mereka bergantian satu per satu.
"Duh, pinter banget sih, anak siapa ini?" Ujar Amel sambil mencubit gemas pipi Zafran.
"Mommy" Jawab Zafran singkat kemudian melangkah menuju Shafa.
"Anak Mommy dong." Ujar Shafa sambil menciumi pipi gembul Zafran.
"Ganteng banget sih Zafrannya. Buat aku aja deh Fa, kamu kan nggak lama lagi melahirkan" Ujar Vira. Ia merasa sangat gemas dengan Zafran.
"Enak aja! Lagian kamu belum nikah, gimana mau ngurus anak? Mending nikah dulu deh" Ledek Shafa.
"Kalian lanjutin ngobrolnya ya, saya mau keluar sebentar" Ujar Rayyan yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Mau kemana Mas? Inikan hari sabtu?" Tanya Shafa penuh curiga.
"Sebentar mau beli sesuatu" Ujar Rayyan.
"Zafran, ikut ayah ya? Kalau ayah macem-macem lapor sama Mommy" Ujar Shafa. Zafran segera mengangguk. Ia seolah mengerti apa yang di katakan Shafa.
"Ayo sayang" Rayyan menggandeng Zafran menuju ke luar.
Setelah kepergian Rayyan mereka bertiga kembali menggila, bercerita kesana kemari, sambil tertawa ria. Mereka melepaskan kerinduan karena telah lama tak jumpa.
"Mau ngomong apa Mel?" Tanya Shafa yaang sibuk mengunyah kue coklat.
"Sebenarnya waktu Lo pergi waktu itu, Briyan nyariin Lo. Dia ampe resign dari kerjaannya demi nyari Lo. Gue ampe pusing, tiap hari dia nanyain kabar Lo. Kayaknya dia bener bener terobsesi ama Lo deh Fa" Ujar Amel.
"Oh..." Jawab Shafa singkat.
"Kok cuma Oh?"
"Gue udah tau kali. Dia malah ngomong langsung di depan gue dan suami gue" Jawab Shafa.
"What?" Pekik keduanya bersamaan.
"Terus..terus? Suami Lo nggak marah sama Lo?" Tanya Amel penasaran.
"Ya Nggak lah. Tapi dibiarin aja. Briyan emang gitu kan. Dulu juga waktu gue pacaran ama Sam, padahal jelas-jelas kita udah putus tapi dia masih juga deketin gue. Dia akan seperti itu kalau ngeliat gue seolah terluka. Padahal gue nya baik-baik aja" Jawab Shafa santai.
"Katanya sih dia lagi di jodohin sama seseorang. Dia sempat cerita sama gue. Tapi dianya nggak mau. Dia masih belum bisa lupain Lo fa!" Ujar Amel yang beberapa waktu lalu menjadi teman curhat Briyan.
"Salah sendiri jadi Play Boy jadi nyesel kan?" Balas Shafa.
"Oh ya Fa, Soal Nisa. Apa Lo bener-bener nggak bisa maafin dia?" Tanya Vira.
"Entahlah Fir. Gue masih sakit kalau ingat semuanya. Gue udah berkorban banyak untuk dia, Gue curhat semuanya sama dia semuanya. Ternyata di belakang gue dia berniat nusuk gue" Jawab Shafa yang tatapannya berubah sendu.
__ADS_1
"Gue juga sebel tau nggak sama Nisa. Dia nggak tau diri banget." Imbuh Amel. Di antara mereka bertiga hanya Vira yang masih berhubungan dengan Nisa setelah kejadian kepergian Shafa.
"Mau sampai kapan Fa? Dia juga udah nyesel kok. Dia pengen banget ketemu Lo. Tapi dia takut Lo nggak maaafin dia. Dia juga merasa Allah telah menghukumnya saat dia kehilangan anaknya. Kasian tau Fa" Ujar Vira.
"Sorry Vir, Gue belum bisa" Jawab Shafa sambil meneteskan air matanya.
"Ya udah, Lo jangan nangis donk, Jadi jelek tau" Balas Vira.
"Iya Fa, udah gendut nangis lagi. Jadi jelek tuh. Ntar mas Raynya nggak cinta lagi loh!" Ledek amel sambil menunjuk Shafa.
"Eh, asal Lo tahu, biar badan gue segede gajah, mas Ray nggak akan bisa tanpa gue. Buktinya waktu gue pulang dari pesantren, Gue diamin dia selama 2 minggu dianya kelimpungan setengah mati." Ujar Shafa.
"Lo diamin dia 2 Minggu Fa? Parah Lo!" Balas Vira sambil menggeleng.
"Jadi suami Lo puasa berapa lama Fa kalau Lo diamin terus?" Tanya Amel penasaran.
"1 bulan 2 minggu. ha.ha.ha" Ujara Shafa sambil tertawa mengingat saat saat lucu tersebut.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Briyaaaaaaaan....!!!" Teriak Sonya yang baru datang dari arah dapur.
"Apa sih Sonya? Aku nggak tuli! Nggak usah teriak-teriak" Ujar Briyan yang tengah santai menonton tv.
"Itu Jus apel ku kenapa kamu minum? Aku lagi diet tau nggak!" Bentak Sonya.
"Badan udah kurus gitu ngapain diet sih?" Ujar Briyan dengan nada mengejek.
"Ini tuh body goal**s para cewek tau nggak. Mata kamu aja yang rusak nggak bisa lihat cewek cantik kaya aku" Ujar Sonya kesal.
"Ha.ha.ha... Apa aku nggak salah dengar? Hmmmm...Lo cantik sih, tapi sayang..."
"Sayang apa?" Sonya mendekat sambil menatap tajam mata Briyan.
"Aku nggak tertarik ama cewek sakit kaya kamu" Ujar Briyan sinis.
"Kamu yakin Briyan?" Kali ini Sonya sedikit menggodanya. Ia kesal selalu di tuduh sebagai penyuka sesama jenis.
"Eh mau ngapain kamu!" Ujar Briyan saat melihat Sonya semakin mendekatinya. Sonya tersenyum di sudut bibirnya. Tanpa permisi ia langsung duduk di pangkuan Briyan melingkarkan tangannya di leher Briyan.
"So..Sonya, Apa yang kamu lakukan?" Briyan terlihat gugup. Sonya memegang wajah Briyan agar saling bersitatap dengan wajahnya.
"Apa kamu masih bisa bilang aku tidak menarik Briyan?" Ujarnya manja disertai dengan senyuman menggoda. Dada Briyan seketika berdesir saat matanya saling bertemu. Ia cepat-cepat bangkit dan berlari ke dalam kamarnya.
"Ha.ha.ha.ha" Sonya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Briyan. Rasanya ia ingin berguling-guling di kasur melihat wajah ketakutan Briyan.
"Hah.hah.hah." Bryan mengatur Nafasnya seperti habis melihat hantu. Ia terus memegang dadanya.
"Kok jadi deg-degan sih" Gumamnya yang merasakan sesuatu dalam dadanya.
__ADS_1