
Happy Reading😍. Terima kasih yang udah mampir. Jangan Lupa like, vote and jadikan favourite ya😍
_________________________________________
Nana dan Marwa ternyata asyik juga anaknya. Kami cerita kesana kemari. Aku banyak mendapat informasi tentang mas Ray dari mereka. Ku kira cowok datar dan dingin seperti mas Ray ku ini kurang peminat nya. Nyatanya hampir sebagian besar mahasiswa Indonesia mengaguminya. Aku juga baru tahu kalau Hana yang mereka maksud itu adalah orang jakarta. Wah bisa gawat kalau mas Ray ketemu dia lagi. Aku sangat penasaran dengan Hana yang mereka maksud. Apa aku tanya Nisa aja ya. Siapa tahu dia kenal. Tapi Nisa sekarang kan lagi sedih. Ga sampai hati lah aku nanya soal ini.
Tok..tok...
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Nana segera berdiri untuknmembuka pintu. Ternyata mas Ray. Kok cepet banget ya.
"Mas? Kok cepet banget?" Tanyaku
"Cepet apanya? coba lihat jam, sekarang jam berapa? Ini sudah mau masuk waktu dzuhur." Oh iya, sudah jam hampir dua belas siang. Berarti aku keasyikan ngobrol samapi lupa waktu.
"Kalau begitu kami permisi ya Ustad" Ucap Nana.
"Oh ya, nanti jam 2 kalian bisa kemari lagi? Kalian sepertinya cocok dengan istri saya" ujar mas Ray sambil tersenyum. Ya ialah cocok, wong yang di bahas dari tadi seputar mas Ray. Cerita mereka tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di Kairo sangat menarik, jadi pengen kesana deh aku.
"Siap Ustad, kak kami permisi ya? Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Nana dan Marwa meninggalkan ruangan tersebut, setelah sebelumnya membereskan bekas jajanan mereka.
"Mas Rayynkuuuuuuu" Aku segera memeluk dan memciumi pipi suamiku.
"Gimana? Kok kayaknya Shafa seneng banget ngobrol sama mereka? Shafa ga nanya aneh-aneh kan? Tanya mas Ray. Aku menggeleng.
"Ra-ha-si-a" Bisik ku di telingannya yang di respon dengan menarik hidung mancungku. Si abang mah gitu demen tarik-tarik.
"Sekarang main rahasia-rahasiaan ya?"
"Mas juga banyak rahasianya waktu di Kairo" Ucapku tak mau kalah.
"Memangnya apa yang Shafa ingin tahu hm?"
"Hana!" Ucapku spontan. Dia nampak terkejut.
"Duh mas Rayyan, ekspresinya biasa aja dong!" Ucapku kesal. Begitu di sebut nama Hana dia mah langsung berubah ekspresi. Mas Ray mendengus.
__ADS_1
"Malam itu kan mas udah cerita tapi kamunya malam sedih" Ujarnya. Eh, kok dia bener sih pas itu kan aku langsung diem.
"Ya udah, ga usah bahas itu lagi. Shafa sebentar mau makan apa?" Tanyanya mengalihkan topik.
"Apa aja deh mas, makanan di sini enak enak. Tapi minumnya tetep jus Strawberry ya"
"Iya... tuh di kulkas sudah di siapin banyak" Ujar mas Ray. Aku segera memastikan dan ternyata benar. Masih ada sekitar 5 geles jus strawberry. Mas Ray terbaik deh.
*****
Kegiatan hari ini baru selesai sekitar pukul 4.30 Sore. Mas Ray ga bilang kalau acara sampai sesore ini. Tau gitu kan aku bawa baju ganti. Dia mah enak, baju gantinya udah di siapin, lha aku? dari pagi ampe sore masih make baju ini.
Sekarang sudah hampir jam 5 sore. Sepertinya ga ada waktu buat jalan-jalan karena besok jam 7 kita harus ke bandara. Yah nasib honeymoon gue.
Aku langsug melepas kerudungku yang seharian melekat di kepalaku begitu sampai di kamar hotel. Huh lega. Tuh kan rambutku jadi lepek gini. Aku segeea mencari hair mask dan kawanananya. Rambut ku butuh pertolongan pertama.
"Mas aku dulu yang mandi" Ujarku sambil membuka pakaian ku
"Mandi sama-sama" Jawabnya enteng sambil membuka bajunya.
"Ga.."Aku langsung ber lari masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya. Aku lagi mau fokus menyelamatkan rambutku dari kelepekan. Kalau sama-sama, pasti banyak ritual tambahan nya.
Entah sudah berapa lama aku berada di dalam kamar mandi. Aku mulai mendengar ketukan pintu dan teriakan dari luar.
"Sayang... Ngapain di dalam? buruan keluar ini udah lebih setengah jam" Ujarnya dari luar.
"Taraaaa....Udah selesai" Ucapku begitu keluar dari kamar mandi. Ku lihat mas Ray sudaah menunggu dengan wajah kesal.
"Maaf mas, rambut aaku butuh perawatan extra jadi lama he.he.he" Aku memasang wajah tanpa dosa. Mas Ray hanya menggeleng kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
Selepas sholat isya, Aku langsung memilih-milih pakaian di dalam koper. Kali aja mau jalan-jalan menikmati malam terakhir di Aceh. Seusai dari tempat seminar tadi kami masih tetap berada di hotel bahkan makan malam pun kami di dalam kamar. Mas Ray kok malah nonton tv sih? bukannya siap siap.
"Mas, kok malah nonton tv sih?"
"Memangnya kenapa? Shafa lagi ngapain disitu?" Tanyanya.
"Aku lagi milih baju mas buat jalan-jalan" Jawabku sambil mencoba kerudung yang pas dengan baju yang akan ku pakai.
__ADS_1
"Ga ada jalan jalan!" Ucapnya.
"Loh, kok gitu mas? inikan malam terakhir di sini. Aku belum beli oleh-oleh lo mas! masa pulang dengan kosong" Aku menghampirinya yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil memegang remot.
"Mas bilang enggak ya enggak! soal oleh-oleh sudah di urus sama Amar. Besok kitaa tinggal bawa" Ucapnya santai tanpa melihat kepadaku.
"Mas gak asyik!" Ucapku membelakanginya menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku lagi berada pada mode ngambek nih. Honeymoon apaan nih? singkat padat dan ga jelas.
Mas Ray tidak bergeming, dia malah asyik nonton siaran bola. Bola adalah musuh utama kaum istri seerti diriku.
"Maaaassss....."
"Hmmmmm"
Ku ambil remot televisi di tangannya. KLIK! TV pun mati. Mas Ray mendengus melepaskan kaca mata beningnya dan meletakkan di atas nakas di sebelahnya. Ia membaringkan tubuhnya sejajar denganku. Dia mendekatkan wajahnya tanpa sepatah kata pun.
"Fuuuh" Mas Ray meniup wajahku. Ih, aku jadi merinding.
"Mas natapnya jangan gitu. Aku takut" Ucapku menggigit bibir bawah ku.
"Kamu yang mulai sayang" Ucapnya menarik selimut yang menutupi tubuh ku.
"Mas, aku kan cuma ingin jalan-jalan. Di aceh cuma sebentar masa nggak ngapa-ngapain" Ucapku manja, sambil menusuk-nusuk pipinya dengan telunjuk ku.
"Siapa bilang kita nggak mau ngapa-ngapain? Mas cuma ingin menikmati Quality time dengan kesayangan nya mas" Ucap nya sambil membelai pipiku.
"Oalah Mas, bilang kek kalau mau di kamar aja. Ini malah diem diem Asyik nonton bola" Ucapku. Aku kan seneng kalau manja-manja gini. Mas Ray merengkuh tubuhku. Mulai memberikan kecupan kecupun lembut pada wajahku.
"Masih ingat doa nya?" Tanyanya. Akupun mengangguk walaupun sebenarnya aku lupa-lupa ingat doa yang pernah mas Ray ajarkan sebelum malam pertama.
Tangannya mulai bergerilya mengabsen tubuhku. Ciuman kami semakin lama semakin dalam. Satu persatu penutup tubuh kami mulai terlepas. Mas Ray menarik selimut untuk menutup tubuh polos kami dan mulai menunaikan tugasnya. Dia selalu melakukannya dengan sangat lembut di iringi dengan ungkapan-ungkapan cinta membuatku seolah tak ingin melepaskannya. Mas Ray melakukannya cukup lama sebelum akhirnya ambruk di atas tubuhku.
"Terima kasih" Ucapnya smabil menciumi wajahku. Satu hal yang tak pernah absen. Dia selalu mengucapkan terimasih di akhir pertempuran kami.
Tak seperti biasanya, Mas Ray memeluk erat perutku, mengusap lembut, memberikan beberapa kecupan disana sambil membisikan sesuatu yang aku tak tahu artinya. Sepwrtinyabdia sangat menginginkan kehadiran malaikat kecil di tengah tengah kita.
"Maass, Mas udah Ingin banget punya baby ya?" Tanyaku sambil membelai lembut kepalanya.
"Tentu! tapi mas ga mau memaksa. Anak itu kan Risqi dari Allah, kitaa tetap harus berusaha dan berdoa. Apapun hasilnya mau cepat atau lambat kita tetap harus bersyukur"
_____________
Ngagak lama lagi kita masuk ke bagian konflik dari novel ini yah. Siapin hati kalian😍
__ADS_1
Thank you yang udah mampir. Jangan lupa like and vote nya. I Love You All.
*Aksara Citra*