
"Kali ini aku harus mendapatkan bukti yang akurat" Gumam Briyan yang sudah berada di dalam taxi mengikuti Sonya.
"STOP...STOP!" Perintahnya pada supir taxi yang di tumpanginya. Ia melihat Sonya berhenti di sebuah cafe. Setelah membayar taxi nya, Briyan segera mengikuti Sonya masuk ke dalam cafe dengan mengendap endap.
Briyan memakai kaca mata hitamnya untuk menyempurnakan penyamarannya. Ia segera duduk di meja belakang Sonya, agar bisa leluasa mendengarkan dan mengamati pergerakan Sonya. Tak lama kemudian Briyan membelalakkan matanya saat mengetahui seseorang yang datang meenghampiri Sonya.
"Hay Sonya sorry membuatmu menunggu lama!!!" Sapanya sambil melangkah mendekati Sonya, memeluknya dan memberikan ciuman di pipi kiri dan kanannyam
"Its Okay Joe" Ujar Sonya yang terlihat sangat ramah.
Jadi, dia bukan menemui wanita tapi pria itu!
Briyan masih berusaha mencerna kejadian di depan matanya itu. Sonya janjian dengan pria bule berwajah tampan di sebuah cafe. Benar benar di luar dugaannya.
"Ah, bisa saja itu hanya temannya. Aku harus mendengarkan percakapan mereka" Gumam Briyan. Kali ini ia menajamkan pendengarannya guna mendapat informasi yang menguntungkan.
"Apa yang kau lakukan di sini Sonya?" Tanya pria bernama Joe tersebut.
"Tidak ada, aku hanya ingin menikmati waktu luang di negara ini" Jawab Sonya sambil mencecap cappucino miliknya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa kamu mengambil cuti?"
"Ya, aku cuti untuk beberapa waktu. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di negara ini?" tanya Sonya balik.
"Aku liburan Sonya. Kekasihku baru saja menerima tawaran kerja di sini, jadi sekalian aku mengunjunginya" Terang Joe.
Tuh kan.. Sudah ku duga pria itu hanya sebatas teman. Sonya mana mungkin tertarik pada laki-laki.
"Really? Kapan kalian akan menikah?" Tanya Sonya.
"May be, next year. How about you Sonya?" Tanya Joe balik.
Sonya mendengus pelan.
"Aku masih belum kepikiran menikah, meski papaku terus berusaha menjodohkanku dengan seseorang. Itulah alasan mengapa aku berada di sini Joe." Jawab Sonya lesu mengingat perjodohannya dengan Briyan Utama.
"Why?" Tanya Joe keheranan.
"I dont like him." Jawab Sonya.
"Huh, Apa kau masih belum bisa melupakan William Sonya?" Tanya Joe menatap mata Sonya.
William? Siapa William? Bukannya Sonya l*sbi. Gumam Briyan. Ia kembali memasang kupingnya baik baik.
"Ahahaha... Joe, Apa aku terlihat begitu menyedihkan? Tapi sejujurnya ya." Ujar Sonya di sertai tawa getir.
"Come on Sonya. William sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah dengan Emely. Kau harus bisa melupakannya. Kamu cantik dan pintar tentu tidak sulit menemukan pengganti Willy bukan?" Ujar Joe menyemangati.
"Kau benar Joe. Aku cantik dan pintar tapi aku tak seberuntung itu. Bahkan seseorang menganggapku l*sbian karena aku masih sendiri" Balas Sonya mencebikkan bibirnya. Mengingat ucapan Briyan akhir akhir ini.
__ADS_1
Sial! Dia nyindir aku. Gumam Briyan yang masih setia nguping pembicaraan Sonya.
"What? Siapa si br*ngsek itu Sonya? Tidak tahu kah dia kalau dirimu merupakan primadona kampus, incaran pria-pria mapan dan berkelas?" Ujar Joe. Ia tahu betul siapa Sonya Adam. Karena Jonathan merupakan salah satu sahabat dekat Sonya yang kerap membaantunya untuk menghindari pria pria yang ingin mendekatinya.
"Dia yang ingin papa jodohkan denganku" Ujar Sonya.
"Bodoh sekali dia kalau sampai dia menolakmu" Ujar Jonathan.
"Seperti yang kau katakan, Dia memang bodoh. Tidak bisa membedakan wanita asli dengan penyuka sesama jenis" Balas Sonya sambil terkekeh.
Awas kamu Son! Beraninya ngatain aku bodoh!
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Maaf Mas Rayyan, di depan ada bu Dian" Ujar Bi Lastri pada Rayyan yang tengah menikmati sarapan pagi yang di rangkaikan dengan makan siang. Lantaran terlalu asyik berenang Rayyan dan Zafran sampai melewatkan sarapan pagi mereka. Alhasil belum waktunya makan siang mereka sudah kelaparan duluan.
"Oh iya. Zafran lanjut sama Mommy ya?" Rayyan memberikan piring makan Zafran kepada Shafa, dan segera menemui Dian di ruang tamu.
"Assalamualaikum Ray" Sapa Dian. Jika di luar toko, ia akan memanggil Rayyan dengan sebutan nama biasa karena mereka adalah teman sejak kecil.
"Waalaikum salam. Apa ada masalah di toko?" Jawab Rayyan. Karena tak biasanya Dian datang ke rumah Rayyan.
"Tidak ada Ray, hanya saja pegawai baru itu, dia menitip surat ini untuk mu. Katanya dia ingin pulang mengunjungi orang tuanya sampai waktu yang belum bisa di tentukan." Ujar Dian sambil memberikan surat yang berisi pengunduraan diri Nisa. Rayyan mengerutkan dahinya berfikir sejenak.
Bukannya orang tuanya telah mengusirnya?
"Aku hanya mau mengantar itu. Aku permisi dulu, tidak enak sama istrimu yang super galak itu" Bisik Dian.
"Hallo Shafa, how are You?" Sapa Dian begitu melihat Shafa yang sedang menyuapi Zafran di meja makan.
"Hai, Mbak Dian..." Ia segera beranjak dan memeluk Dian.
"Datang sendiri?" Tanya Shafa sambil melirik ke kiri kanan siapa tahu menemukan orang lain selain Dian.
"Iya, ada sedikit perlu dengan Rayyan. Wah makin subur aja nih, Sudah berapa bulan?" Tanyanya yang langsung mendapat pelototan dari Rayyan.
"Aku gendut ya Mbak? Ini baru 4 bulan loh mbak." Jawabnya dengan wajah cemberut.
"Ups... Enggak kok, kamu terlihat lebih seksi tau nggak. Si Ray pasti makin betah lama-lama nempelnya. Iya ka?" Balas Dian mencoba mengalihkan topik bahasan tentang berat badan.
"Ih mbak Dian tau aja deh" Ujarnya malu-malu. Kenyataannya memang Rayyan lebih sering nempel dengan Shafa karena rasa cemburunya yang berlebihan di tambah lagi karena ia lebih sering menggoda Rayyan yang membuatnya semakin lengket.
"Eh, ini anak siapa? Ganteng banget" Tanyanya saat melihat Zafran menarik daster Shafa.
"Aduh, sampai lupa. Kenalin ini Zafran anaknya Mommy Shafa dan ayah Rayyan donk" Ujar Shafa sambil menuntun Zafran untuk menjabat tangan Dian.
"Pinternya....Nih kalau gede harus kaya ayahnya. Anteng dan lempeng" Ujar Dian sambil mencubit pipi Zafran.
"Mbak Dian sekalian makan siang yuk?" Tawar Shafa.
__ADS_1
"Makasih Fa, tapi aku harus cepat balik, di rumah ada acara keluarga" Jawabnya.
"Ya udah, hati-hati mbak"
"Iya, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Itu apa Mas?" Tanya Shafa menunjuk kertas yang di pegang Ray.
"Oh ini, Dian tadi antar surat pengunduran diri Nisa" Jawab Rayyan sambil menyerahkan surat tersebut pada istrinya.
"Kenapa ngundurin diri? Memangnya dia sudah dapat pekerjaan baru?"
"Kata Dian dia mau mengunjungi orang tuanya" Balas Ray yang kembali duduk di meja makan.
"Tapi kan dia sudah di usir sama bapaknya mas" Shafa terlihat khawatir.
"Terserah dia lah sayang. Kita sudah cukup membatu, jangan terlibat masalah dengan keluarga orang lain lagi" Ujar Rayyan. Ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan Nisa.
"Aku kan kasihan Mas" Ujar Shafa.
"Terus kamu maunya apa? Mau bawa dia tinggal di sini lagi dan kita bertengkar lagi?" Jawab Ray. Ia mulai kesal dengan Shafa yang masih memikirkan sahabatnya itu. Nafsu makannya menjadi hilang seketika.
"Abang ayo ikut ayah" Rayyan meraih tubuh Zafran membawanya ke halaman belakang. Ia ingin Shafa tahu bahwa dirinya tak suka Shafa bersikap seperti itu.
"Maaaaasss!!!!" Panggilnya saat Rayyan membawa Zafran ke halaman belakang tapi tak di hiraukannya. Ia terus saja berjalan menuju kolam ikan kesukaan Zafran.
"Kenapa jadi mas Rayyan yang marah?" Shafa menyusul suaminya yang sedang marah tersebut. Terlihat Rayyan sedang mengajak Zafran memberi pakan ikan-ikan gendut tersebut. Shafa mendekat perlahan. Ia tahu suaminya sedang marah, ia tidak ingin membuat Rayyan semakin marah karena ia sadar tidak seharusnya ia mengkhawatirkan Nisa berlebihan. Ia mendudukan tubuhnya di pinggir kolam tepatnya di sebelah Rayyan.
"Mass" Panggilnya sambil menusuk-nusuk pinggang Rayyan meenggunakan telunjuknya. Rayyan tak bergeming tapi dalam hati ia tertawa melihat wajah lucu istrinya.
"Ayaaah" Panggilnya pelan, tapi kembali tak mendapat sahutan. Rayyan malah asyik bersama Zafran menaburkan pakan ikan yang langsung di kerumuni oleh ikan berwarna warni itu.
"Awww... Aduh!!" Pekiknya, Rayyan langsung berbalik menatapnya khawatir.
"Kenapa Mom? Apa yang sakit?" Tanyanya sambil memeriksa tubuh istrinya.
"Tangan Mommy di gigit semut ayah" Jawabnya sambil menatap Rayyan menahan tawwanya. Rayyan mendengus pelan.
CUP! "Jangan marah yah..yah" Ujarnya sambil mengedip-ngedipkan matanya membuat Rayyan gemas.
"Mommy kenapa cium ayah?" Tanya Zafran. Shafa langsung menutup mulutnya. Ia lupa bahwa ada bicah kecil yang sejak tadi memperhatikannya.
"Oh itu tadi ada nyamuk di bibir ayah sayang" Jawabnya Asal.
"Lain kali jangan lakukan itu di depan Zafran" Ujar Rayyan yang nampak merona menahan malu pada putra kecilnya itu.
"Kalau di belakang Zafran boleh kan yah?" Tanya Shafa genit.
__ADS_1
"Hmmmm" Jawabnya singkat.