
Aku, Zidane Ar-Rayyan laki-laki paling beruntung yang mendapatkan istri secantik Shafa Azura, bukan hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya. Wanita cantik yang telah memberikan kesempurnaan hidup dengan melahirkan seorang bayi tampan yang sangat mirip dengan ku. Bangga? Jelas aku bangga saat melihat duplikat wajahku yang begitu nyata meski ia di gadang-gadang lebih tampan karena gen mommy nya yang dominan pada bagian hidung dan matanya.
Am kecil sudah membuka matanya, menikmati sejuknya udara pagi sebelum matahari terbit. Aku membiasakan diri mengajak Zaf dan Am berjalan pagi menikmati udara bersih, seperti yang dulu sering ayah lakukan padaku waktu kecil.
"Ayaaah, Itu Aira" Zafran menunjuk gadis sahabat karibnya yang beberapa waktu lalu menyatakan diri ingin menikah dengan Zafran. Sungguh lucu, mereka berdua sungguh polos, belum memahami bahwa perkara menikah tidak semudah yang di ucapkan.
"Hai Am, Zaf kok cuma bertiga, mommynya mana?" Sapa mami Aira yang juga tengah berjalan pagi.
"Mommy nya lagi beres-beres bu, soalnya bibi belum datang"
"Am..cici mau cium dong"Ujar Aira sambila berjinjit ingin meraih Am. Rayyan sedikit menunduk agar bayi dalam gendongannya dapat di jangkau Aira.
"Nama kamu kan Aila kenapa jadi cici, kamu ganti nama ya Aila?" Protes Zafran yang belum mengetahui makna dari kata cici.
"Cici itu kakak Zaflan. Kamu masa nggak tau sih. Jadi Am halus panggil aku cici" Jawabnya sambil berkecak pinggang.
"Tapikan ini adik aku Aila. Kamu ga boleh cium-cium"
"Adik ku" Bentak Aira yang tak mau kalah.
"Eh sudah... sudah, mami kan sudah bilang kalau sahabat ga boleh bertengkar. Nanti Tuhan marah" Ujar mami Aira.
"Aila bu gulu seling malah-malah" Balas Zafran sambil menunjuk wajah Aira yang tengah cemberut.
"Aku nggak mau menikah sama Zaflan! Zaflan nakal" Ujarnya ketus.
"Kata mommy kita gak boleh menikah Aila. Tan kita masih kecil" Balas Zafran. Mereka seperti tahu saja apa itu menikah, mungkin ini bagian dari korban sinetron yang sering di tonton Shafa.
"Kata mami juga kalau sahabat ga boleh menikah tan mami?" Aira mendongak menatap maminya.
"Iya, kalian kan sahabat, jadi harus akur. Ga boleh bertengkar" Ujar mami Aira. Semoga selamanya mereka tetap bersahabat"
Sepulang dari jalan pagi, Shafa langsung menyambut kami dengan segelas minuman hangat di tambah dengan setoples cookies kesukaan Zafran. Aku memperhatikan ia yang dengan lincah menata menu sarapan yang dibuatnya langsung dengan kedua tangannya. Satu hal yang paling ku kagumi dari istriku ini, dia sungguh wanita multitalent dengan banyak keahlian yang dimiliki nya. Jadi model oke, penyanyi oke, chef oke, ibu rumah tangga oke, hanya saja untuk menjadi ustadzah dia butuh banyak bimbingan. Bagiku memilikinya dengan segenap kelebihan dan kekurangannya sudah menjadi kesyukuran sendiri buatku.
"Sayang, Am haus" Ucapku saat kubrasakan bayi dalam gendonganku merengek.
"Dia ngompol kali mas, tadi udah minum banyak kok haus lagi?" Balasnya yang masih asyik dengan peralatan dapur. Ku raba bagian bawah tubuh anakku yang ternyata memang basah. Entah berapa kali dalam sehari dia ngompol, yang jelas mommy nya hampir setiap saat mencuci popok bekas ompol Am. Dia tak lagi memikirkan kukunya cantiknya atau kulit mulusnya yang terkena cairan detergen seperti dulu saat awal kita menikah. Shafa Ku sudah berubah, ia tak lagi boros menghambur-hamburkan uang puluhan juta demi sebuah tas branded, outfit atau sendal keluaran salah satu merek ternama dunia. Ia kini lebih bijak dalam mengelola keuangan, lebih banyak menggunakannya untuk kebutuhan memperindah rumah yang menjadi surga kami.
"Mas, hari ini waktunya Am di imunisasi, Aku udah janjian sama dokter Lily di tempat prakteknya" Ucap Shafa yang baru saja memandikan Am.
"Ya sudah, mas mandi dulu baru kita kesana"
__ADS_1
"Mas mandiin Zaf dulu" Balasnya sambil melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Zafran.
"Mandi sama-sama aja mom" Ucapku. Pasti akan lebih menghemat waktu.
"Hih, mas ini gak malu ya? Zafran udah gede mas, masa mau diajakin madi sama-sama terus. Mandi sendiri-sendiri!" Intruksinya, benar Zafran kecil yang dulu selalu merengek ingin mandi sama-sama di bathup yang ia sebut kolam itu kini sudah berusia 4 tahun. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Sudah hampir setahun ia menemani hari-hari kami. Entah kebetualan atau memang sudah takdir Allah, jika di lihat sepintas Zafran sedikit memiliki kemiripan dengan istriku, kulitnya yang putih, hidungnya yang juga mancung serta rambut lurusnya membuat orang tidak menyangka bahwa dia adalah anak adopsi kami. Yang pasti ini murni kebetulan, bukan anak atau cucu daddy yang di rahasiakan seperti Jeffri waktu itu.
Aku mendekati Shafa dan melingkarkan tanganku di perutnya, membuatnya sedikit terlonjak.
"Kalau gitu mas mandi sama-sama Shafa yah" Bisikku di telinganya. Sesekali menggodanya tak apalah, toh ku lihat dia sudah sholat subuh tadi, terbukti dari adanya mukena yang tergantung di tempat biasa.
"Nggak usah aneh-aneh mas!" Ia memukul tanganku yang sudah menjalar menyuri bagian depan tubuhnya yang sudah lama tak terjamah. Tubuhnya masih sama, menggoda dan semakin menggoda.
"Ayaaah cepaaat" Teriak Zaf yang sudah menunggu di dalam bathup. Aku sampai lupa bahwa aku harus memandikan putra sulungku itu.
"Dengar kan, anakmu sudah berteriak mas. Masih mau nakal?" Shafa melirik dengan nada mengejek.
"Iya.. iya! Ayah datang" Ucapku.
"Aww... Mas Ray!" Pekik Shafa sambil berbalik memelototiku saat dengan jahilnya tangan kananku merem*s bagian dadanya. Mungkin efek terlalu lama berpuasa membuat otak jahilku kembali mencuat. Aku gemas melihatnya yang sering mengenakan pakaian dengan belahan dada rendah dengan alasan agar mudah menyusui Am, sementara aku hanya menjadi penonton yang entah sampai kapan, Am saja baru berumur 1 setengah bulan.
"Maaf sayang" Ucapku sambil meringis dan segera berlari masuk kedalam kamar mandi sebelum sang nyonya mengomel panjang kali lebar.
.
.
.
"Mas, nanti malam bobo di kamar Am! Pokoknya jangan dekat-dekat aku" Ucapnya ketus setelah selesai berpakaian.
"Kok gitu mom? Nggak mau ah! Aku mau dekat selalu dengan istriku" Ucapku sambil memeluknya dari belakang, mumpung Zafran sedang menunggu di luar.
"Nah... tuhhh... tuhh mulai mesum! Ingat mas, 3 bulan" Ucapnya sambil berusaha melepaskan pelukanku membuatku semakin erat memeluknya.
"Nyebut mas, nyebut. Eh akunya baru 45 hari loh. Jahitanku belum kering, perutku masih sakit, masih keluar darah" Kilahnya dengan berbagai macam alasan yang tak masuk akal. Mana ada masih berdarah tapi sudah sholat, jelas-jelas 2 minggu lalu dokter mengatakan lukan nya sudah sembuh dan mana mungkin perutnya masih sakit, sementara beberapa hari terakhir ini ia melakukan yoga untuk mengembalikan bentuk tubuhnya.
"Masa sih? Coba mas cek" Aku meraba bagian pahanya yang tertutup dress panjang membuat ia berbalik seketika.
"Ampun mas! Jangan di cek" Ucapnya langsung memelukku erat. Senang sekali melihat wajah cantiknya bersemu merah seperti ini. Ia menenggelamkan wajahnya di dadaku.
"Jadi masih berdarah?" Tanyaku yang juga memeluknya. Kurasakan kepalanya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" Tanyaku lagi. Dan lagi-lagi ia menggeleng.
"Apa Jahitan nya belum sembuh?" Pertanyaan ketiga yang ku lontarkan padanya yang masih berada dalam pelukan ku. Jawabnnya sama, sebuah gelengan yang menandakan ia sudah baik-baik saja.
"Jadi?"
"Apa?" Dia mendongak menatapku.
Cup! "Shafa sudah suci" Tanya ku setelah mengecup bibir merahnya. Ia mengangguk.
"Tapi mas?" Selanya sambil menatap wajahku. Kulihat ia menggigit bibir bawahnya menambah tingkat kegemasan ku padanya.
"Kata ibu belum boleh, nunggu tiga bulan" Cicitnya lirih sambil menunduk. Ia pasti sedang menahan malu mengucapkan hal itu.
Aku terkekeh mendengar jawaban istriku, yang ternyata sudah berpikir sejauh itu.
"Emang mas mau ngapain? Mas cuma mau mastiin Shafa baik-baik saja. Ini kepalanya harus di bersihkan dari debu-debu kemesuman biar nggak mikir yang aneh-aneh" Ucap ku balik meledeknya sambil mengusap kepalanya.
"Maaaaassss Raaaaay!" Sekuat tenaga ia menyubit pinggangku. Wajahnya yang merona bertambah merah karena ucapan ku. Ia bersungut-sungut sambil melayangkan ancaman pamungkasnya.
"Awas ya mas! Kalau aku udah siap, nggak akan aku kasi bagianmu dengan mudah!" Ucapnya dengan ketus, sambil berjalan mendahuluiku menuju pintu.
"Sayang!!!"
"Jangan panggil-panggil!" Sahutnya hendak membuka hendel pintu.
"Am nya ketinggalan sayang" Ucapku sambil menahan tawa melihat ekspresi marahnya. Marah ternyata bisa membuat ibu muda satu ini lupa akan anak nya yang masih tergeletak di atas ranjang.
"Massssssssss.....Raaaaayyyyyy!!!!"
.
.
.
Seperti apapun marah dan kesal nya, Shafa ku tetaplah wanita manja yang akan selalu luluh dengan ucapan manis dan kasih sayang tulus yang ku berikan. Bukan sebuah gombalan, karena aku tak pandai menggombal. Ia yang siang tadi sempat ngamuk, sampai ngambek tak mau bicara padaku, kini justru terlelap dalam pelukanku setelah puas mencubit, memukul, mengomel dan mencium. Seperti itulah istriku, wanita hebatku yang ku pinta menjadi bidadari surgaku. Wanita yang tak mungkin tergantikan. Shafa Azura, satu-satunya wanita yang selalu ku sebut dalam doa untuk mengisi hari-hari ku kini, nanti hingga maut memisahkan, bahkan sampai ke Jannahnya.
___________________
Hay Reader...Thank You sudah setia dengan novel ini... Jangan lupa Like and vote ya.❤️❤️❤️ Kalau Likenya banyak gue segerain up deh😍😘😘😘
__ADS_1
Ini Mas Ray lagi main sama dedek Am... gemessss banget kan😍😘😘😘😘