
"Sayang..." Panggil Mas Ray sambil membelai rambutku.
Setelah drama di taman tadi akhirnya kami berbaikan. Dan karena kejadian di sekolah siang tadi, mulai sekarang aku memiliki seorang supir pribadi yang akan mengantarku dan mengawasiku kemana pun aku pergi. Namanya pak Madi, dia adalah supir utusan yang mulia Rayyan untuk mengantar istrinya yang cantik jelita ini. Gue berasa kaya jadi istri tuan muda yang di novel-novel itu.
"Hmmm" Jawabku. Sepertinya aku sudah mulai ketularan irit ngomongnya mas Ray. Aku lagi fokus chatingan sama teman-teman kuliah di grub. Lagi seru!
"Belum mau tidur kan?" Tanyanya. Tangannya mulai beralih dari rambut sekarang menarik narik pipiku. Nyaman sekali rasanya bersandar di dada mas Ray sambil manja-manja gini.
"Belum, mas udah ngantuk?" Tanyaku menoleh ke arahnya. Dia bersandar di kepala ranjang sedangkan aku di depannya bersandar pada dadanya.
"Belum, aku belum bisa tidur kalau belum..."
"Jangan mulai deh mas" Aku memotong ucapannya saat ku rasakan tangan ya sudah mulai berpindah posisi berada di dadaku. Aku mencium aroma kemesuman disini.
"Kamu ga ingat permintaan ayah tadi pagi?" Tanyanya.
"Ingat-ingat, tapi aku masih sibuk mas" Ucapku, memindahkan tangannya agar memeluk perutku. Sepertinya posisi ini lebih aman.
Mas Ray tiba tiba mengambil handphone dari tanganku.
"Maas, ih kok jail sih? Sini balikin hp nya! Aku berusaha merebut kembali hpku tapi pergerakanku terkunci oleh kedua kakinya yang langsung menghimpit kakiku.
"Shafa! Willy ini siapa? Kenapa manggil kamu beb?" Tanyanya. Matanya menajam menatapku.
"Natapnya jangan gitu ah, atut aku"
"Iya tapi ini siapa? Tanyanya lagi. Duh suamiku ini ga keren banget sih, masa panggilan gitu aja di permasahin. Udah biasa kalee aku sama teman-teman manggil beb, say, cin, hon kenapa pake acara protes sih.
"Itu temenku mas, temen kuliah dulu. Lagian biasa aja kali mas."
"Kamu bilang ini biasa? Pokoknya mulai sekarang mas ga suka Shafa manggil temannya Shafa yang cowo pake panggilan-panggilan Sayang kaya gini" Tegasnya. Jangan bilang mas Ray sekarang jadi suami yang possessive dan overprotective. Aku jadi penasaran tentang kehidupan masa lalunya.
__ADS_1
"Emang mas ga pernah manggil kek gitu ke sahabatnya mas?" Pertanyaan pertama.
"Enggak, cuma sama kamu." Cup! Aduh cuamiku ini habis galak mendadak manis.
"Masa sih mas? Sama pacar atau gebetan gitu ga pernah? Pertanyaan ke dua.
"Ga ada pacar ga ada gebetan. Adanya istri" Cup! Serius nih umur udah segini gaa pernah punya gebetan? Impossible.
"Emmm Kalau orang di suka ada ga? pasti ada kan? Kangan bilang mas ga pernah jatuh cinta! Mas normal kan? Ayo dong mas, ceritain masa mudanya mas ke aku" Rengekku sambil memasang wajah imut memomon.
"Ga penting" Cup! Ucapnya singkat di sertai kecupan yang terus di layangkan ke wajahku.
"Penting lah mas, masa mas tau tentang aku dan Sam, sementara aku ga boleh tau cerita masa lalu mas. Ga adil" Aku pura-pura ngambek.
Mas Rayy menghela napas panjang. Seertinya aku berhasil. Aku bertekad akan ngambek sampai besok kalau mas Ray ga mau cerita.
"Mas ga pernah jatuh cinta kepada seseorang melampau kadar yang di perbolehkan. Mungkin hanya sebatas kagum dan simpati, belum bisa disebut cinta" Ucapnya. Kedua tangannya mendekap tanganku di perut.
"Shafa adalah bidadari tercantiknya Mas ga ada duanya" Cup! Ucapnya disertai kecupan di pipi.
"Lha terus itu cewe yang mas kagumi gimana?" Tanyaku, masih penasaran dengan wanita itu.
"Dia salah satu mahasiswa dari Indonesia juga yang kuliah di Kairo. Mas biasa ketemu kalau ada kegiataan atau pertemuan khusus mahasiswa Indonesia. Biasanyaa mas jadi narasumber jadi sering berinteraksi dengan adik-adik yang juga dari Indonesia" Oh ternyata kuliah di Kairo juga. Bener dugaanku. Suamiku ni pasti sukanya sama yang alim-alim. dih, aku kok jadi minder sih. Kamu ga boleh minder Shafa. Kamu harus buktiin kamu bisa lebih baik dari dia.
"Terus, kenapa mas Ray kagum sama dia?" Tanyaku.
"Kenapa ya? Mmm... mungkin karena dia cerdas dan kritis. Selain itu dia lebih berani di banding mahasiswi yang lain, sehingga sedikit menarik perhatian" Ujarnya. Aku kok jadi sebel sih mas Ray muji muji wanita lain. Kalau cuma cerdas dan kritis, aku juga cerdas, kritis juga ia buktinya aku pernah jadi tamu dalam dialog kebangsaan sebagai wakil dari generasi milinial kala itu.
"Kalau aku ga menarik ya mas?" Ucapku lirih sambil menunduk.
"Tu kan jadi ngambek. Makanya mas tuh sebenarnya cerita yang kaya begianian karena mas ga mau buat Shafa kesel. Tuh kan terbukti" Ah, dia kok bisa baca fikiranku sih.
__ADS_1
"Sayang, kamu itu istriny mas, bidadarinyaa mas yng paling Cantik, Sexy, imut, baik hati. Shafa tetap jadi nomor satu di hati mas" Ucapnya. Aku berasa melayang tinggi. Ini bukan gombalan kan?
"Mas aku boleh minta satu hal sama mas?"
"Mau minta apa Sayang, Selagi mas mampu pasti mas kan kasi" Ucapnya yang semakin hangat memelukku.
Aku menggeleng "Ini bukan tentang materi, aku mau mas janji satu hal sama aku!"
"Aku ga mau ada orang ketiga dalam hubungan kita. Aku paling anti dengan yang namanya orang ketiga. Mas janji ya, ga akan duain aku?" Ucapku.
"Aku takut, Jika suati hari nanti mas tergoda dengan wanita lain. Aku sadar, aku bukan wanita sempurna tapi kan aku mau belajar menjadi lebih baik, aku ingin berubah menjadi wanita yang pantas bersanding dengan mas Rayyan." Ucapku lirih.
"Sayang, mas ga butuh wanita sempurna, karena bagi mas, sempurna itu saling melengkapi dan mengisi. Selama Shafa nurut apa kata Mas, Jadi istri dan anak yang Sholehah, ga ada alasan buat mas berpaling. Karena Shafa adalah ladang Pahala buat mas" Terangnya mengelus kepalaku. Kata-katanya selalu deh bikin adem.
"Ya udah sekarang bobo yuk, biar subuhnya ga ke siangan" Ajak mas Ray.
"Mas mau langsung tidur?" Tanyaku mendongakan wajah kearahnya.
"Apa sekarang Shafanya mas udah ga sibuk" Ucapnya dengan tatapan genit. Ah, dasar bibir. Kenapa pake nanya segala sih. Maunya tadi aku langsung jawab ia aja.
"Em... Aku..." Tuh kan aku jadi bingung mau jawab apa. Sok ga ngerti lagi, padahal kan tadi dia sendiri yang bilang kalau ga bisa bobo sebelum.... apa aku nya aja yang salah tafsir.Yo wis lah pasrah wae.
Tanpa pikir panjang lagi mas Ray langsung mengarahkan tubuhku agar menghadapnya. Ia membaca sebuah doa kemudian mengecup keningku lembut. Aku tau kemana kita akan mermuara saat bibirnya mulai menyentuh bibirku lembut.
Semoga aku tidak mengecewakan mu Mas.
.
.
.
__ADS_1