Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Malam Resepsi


__ADS_3

Masih dalam suasana haru, aku melihat ibu mas Ray pun sama dengan Mommy. Mas Ray nampak tenang dan khusuk menyalami orang tua kami satu per satu. Tak nampak kesedihan dan air mata di wajahnya. Dia kok bisa setegar itu sih? Emang dia ga pernah buat salah apa sama Ayah dan Ibu? Atau mungkin akunya aja yang kebanyakan dosa sama orang tua. Hiks.


***


Pengajian malam ini baru saja selesai. Waktu sudah menunjukan pukul 10.00. Aku masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Baru aku akan berganti pakaian handphone ku berdering. Sebuah panggilan dari sahabatku yang tengah berada di Timur Tengah.


Aku ngobrol cukup lama dengan Nisa, rupanya dia saat ini tengah mengandung. Ah senangnya kalau saja aku seperti dia. Ibu pasti akan bersorak-sorai. Kira-kira, sudah ada makhluk hidup yang tumbuh di perutku belum ya? Aku mengelus perut langsing ku yang selama 2 minggu terkhir ini di tanami benih cinta kami. Aku membayangkan jika aku hamil, akan seperti apa body indah ku ini. Aku tertawa cekikan sendiri.


"Sayang kamu kenapa?" Tegur mas Ray yang sudah berdiri di belakangku. Aku sampai tidak menyadari kedatangannya.


"Oh, Enggak papa. Cuma habis ngobrol aja sama temen" Ucapku. Mana mungkin aku cerita kalau aku lagi membayangkan perut langsing ku ini membesar.


"Siapa?Cowok?" Tatapan matanya menajam. Ish, Segitu takutnya kalau aku telfonan dengan cowok. Sepertinya aku harus menerapkan Sosial distancing dengan teman teman yang berjenis kelamin pria.


"Bukan mas, perempuan. Mas ih Su'udzon mulu" Ucapku. Sekarang aku sudah pandai menggunakan istilah ke arab arab-an. Yey!


"Mas kan cuma nanya, bukannya nuduh" Ujarnya menarik hidungku. Mas Ray menghempaskan tubuhnya duduk di sebelahku.


"Eh, coba balik sini" Dia memutar tubuhku menghadap ke arahnya.


"Kenapa mas? Ada yang salah dengan mukaku?" Aku panik meraba wajahku. Duh jangan sampai ada flek, atau jerawat yang tiba-tiba muncul. Besok hari penting muka ga boleh ada yang kurang.


"Cantik! CUP!" Ucapnya, mengecup keningku.


"Kan emang cantik dari sononya mas" Ujar Ku, pe de dong aku ngomong gini. Kan rugi udah perawatan wajah dan tubuh selama 2 hari kemaren kalau ga dapat pujian dari suami.


"Shafa sangat cantik kalau berhijab" Heeh? Aku membelalakkan mataku. Aku kira yang dia puji wajahku yang mulus, licin, mengkilat ini, eh taunya malah hijabnya. Shafa.. Shafa harusnya lo nyadar sejak awal kalau suami lo ini demennya ama yang alim-alim. Gimana nih kalau dia nyuruh aku berhijab. Oh No!!! Rambut ku ntar bisa lepek atau rontok. No.no.no. Lagipula menurutku hijab itu ga bisa dipaksa kan ya. Kalau udah siap baru deh make, daripada jadinya buka tutup.


"Emm... Mas, ganti baju yuk" aku mengalihkan pembicaraan soal hijab. Tanganku mulai bergerak membuka kancing baju teratasnya.


"Kamu mau mulai godain mas lagi?" Mas Ray menahan tanganku, dan menatapku dengan tatapan yang aaah bikin ambyaaar. Ish, ini tanganku ngapain juga sih pake acara bukain kancing bajunya.

__ADS_1


"Enggak mas, enggak...!!! makanya buruan ganti baju"


"Bukaiiiin" Ucapnya manja. Rasanya pengen gigit kalau dia seperti ini. Aku Pun mulai membuka jas koko yang melekat di tubuhnya.


"Udah, Sekarang gantian" Aku berbalik membelakanginya. Gaun yang ku pakai saat ini memiliki beberapa kancing di bagian belakang sehingga sangat menyulitkan untuk di buka sendiri.


"Tangannya jangan kemana-mana Mas" Ujarku saat aku merasa tangannya sudah berpindah tempat berada di bagian depan tubuh ku.


"Iya..iya" Ia terkekeh. Demen banget godain aku.


Setelah selesai ganti baju kami menuju ke tempat tidur. Tidak ada ritual lain selain tidur, karena kami harus istirahat cukup untuk menghadapi acara besar esok hari.


***


Sejak Jam 2, Aku dan beberapa anggota keluarga berangkat ke hotel tempat resepsi kami di gelar. Ku lihat sebuah poster besar foto diriku dan mas Ray telah terpajang rapi di pintu masuk hotel. Beberapa karangan bunga pun sudah nampak bertengger indah di halaman hotel. Aku menempati sebuah kamar khusus yang telah di sediakan oleh pihak hotel. Kamar yang sangat luas dengan horden panjang berwarna putih. Isi di dalamnya seperti di design khusus untuk pasangan yang akan menghabiskan malam pengantin di tempat itu. Aroma mawar yang sangat harum menyeruak memenuhi kamar ini. Wangiiiiiii.


Aku di rias oleh seorang MUA profesional. Mas Ray pun ikut menemaniku di kamar tersebut. Dan kalian tahu, mas Ray sangat cerewet. Beberapa kali ia menegur mbak yang lagi merias ku untuk tidak mencukur alisku dan tidak memakai make up tebal seperti pengantin pada umumnya.


"Sudah siap?" Tanya Mas Ray yang juga sudah siap dengan memakai jas hitam. Aku tersenyum melihat senyumnya yang manis melebihi gula jawa. Tampan!


"Sudah, Ayo!!! Sudah banyak tamu yang datang" Ucap Mommy.


Aku berjalan dengan mengapit tangan suamiku. Sementara ibu, Mommy, kak Eva, Amel dan Vira berjalan mendampingi di belakang kami.


Saat memasuki tempat acara jantungku rasanya deg degan. Aku grogi menjadi pusat perhatian tamu yang begitu banyak. Ku tarik nafas panjang dan ku hembuskan perlahan. Seperti inikah rasanya jadi pengantin. Mataku menyapu semua sisi ruangan tersebut. INDAH... itulah kata yang tepat untuk menggambarkan tempat di mana aku berdiri saat ini. Dekorasi yang di pilih mommy dan ibu dominan warna putih dan peach. Entah berapa truk mawar yang mereka datangkan untuk menghias tempat ini yang di dominasi oleh rangkaian bunga mawar. Lampu lampu kristal indah yang menjuntai menambah kesan mewah yang menimbulkan decak kagum setiap yaang melihatnya. What a perfect wedding!


Kami melangkah perlahan menuju singgasana di atas panggung dengan di iringi instrumen lagu A Thousansd years menambah kesan romantis malam itu. Ku lihat ayah dan Daddy sudah berada di panggung menempati kursi wali di sebelah kiri dan kanan singgasana kami. Aku benar-benar merasa menjadi ratu malam ini. Bahagia, itulah yang aku rasakan. Bibirku pun refleks untuk selalu mengembangkan senyum.


Acara baru saja di mulai, tamu-tamu Daddy dan ayah silih berganti menyalami kami. Dan Mas Ray tetap dengan gayanya yang ga mau bersalaman dengan tamu wanita.


"Selamat"

__ADS_1


"Semoga bahagia"


"Cepet punya momongan ya?"


"Semoga langgeng sampai kakek nenek"


Ucapan-Ucapan itu yang terus terdengar silih berganti seiring tamu undangan yang yang terus berdatangan. Aku mengaminkan semua doa dan harapan yang mereka ucapkan.


Ku lihat teman-teman mengajar ku turut hadir dengan memakai Dress Code berwarna biru malam. Bu Ita, Bu Anne, Pak Adit, Pak Rudi dan lainnya turut hadir. Namun, aku tidak melihat Tania bersama mereka. Mungkin dia menghindari patah hati yang lebih dalam.


"Selamat Bu Shafa, Cantik banget loh" Ujar bu Anne memelukku di susul oleh bu Ita dan rekan-rekan lainnya. Kami juga sempat mengambil foto bersama.


Setelah guru-guru turun dari panggung kini giliran rekan-rekan mas Ray yang naik dan memberikan ucapan selamat. Mungkin mereka rekan sesama dosen. Nampak juga beberapa wanita muda yang memanggil dengan sebutan Mr. Ray. Sepertinya bocah-bocah ini adalah mahasiswanya.


Terdengar suara MC mengundang seseorang untuk menyumbangkan sebuah lagu. Pengen Rasanya aku berlari ke panggung musik dan menyanyi tapi aku yakin mas Ray pasti akan melarang ku.


Musik mulai di mainkan. Aku tersentak. Lagu ini? Aku memandang jauh ke arah panggung musik. Who is he?


.


.


.


___________


Photos of their Wedding ceremony๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ Mr.Rayyan and Miss Shafa๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜



__ADS_1


__ADS_2