Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Melepas Kerinduan


__ADS_3

Di dalam pondok putri nampak mereka sedang asyik berbincang sambil membuat bros bunga dari pita dan kain flanel. Sebelumnya Shafa telah mendownload beberapa video tutorial membuat aneka pernak pernik dan aksesoris kemudian mengajarkannya pada santri-sntri putri di waktu senggang mereka. Mereka semua sangat antusias dan semangat.


"Assalamualaikum" Sapa seorang santri yang baru datang.


"Waalaikum salam" Jawab mereka bersamaan.


"Neng Bilqis dan mbak Shafa di panggil abah di ndalem." Ujar santri tersebut.


Tanpa tunggu berlama-lama Bilqis dan Shafa langsung berdiri. Kebiasaan yang selalu di tanamkan oleh abah kepada para santrinya adalah, segera datang apa bila di panggil tanpa harus bertanya kenapa? ada apa? Dan lain-lain.


Shafa dan Bilqis bergegas menuju rumah utama. Mereka berdua langsung saja masuk kedalam menuju ruang tengah.


"Assalamualai------" Ucapan salam Shafa terhenti saat melihat sosok laki-laki yang tengah duduk bersila di sebelah abah tengah menoleh ke arahnya.


Shafa!


Deg...Deg...Deg...


Kakinya terasa berat untuk melangkah maju. Ia justru mundur satu langkah.


Ibu yang berada di sana pun, tak percaya melihatnya. Ia hanya bisa menutup mulutnya sambil mencengkeram kuat lengan ayah.


"Shafa!" Rayyan segera berlari menghampiri Shafa dan berlutut di hadapannya.


Ini pasti mimpi! Ayah mu tidak mungkin ada di sini kan Nak? Gumam Shafa yang masih tak percaya dengan apa yaang di lihat nya. Bahkan ia tanpa sadar ia telah menjatuhkan ponsel dalam genggaman nya.


"Sayang, maafkaan aku! Aku salah, Aku telah berdosa padamu dan anak kita. Aku mohon maafkan aku. Aku menyesal telah menyakiti kalian. Aku menyesal tidak mendengarkan ucapan mu" Ujar Rayyan dengan isak tangis. Ia masih berlutut di hadapan Shafa memegang kedua kakinya. Shafa hanya diam membisu. Tatapannya kosong, hanya air mata nya yang mengalir tak terbendung .


"Please Shafa, Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku nggak sanggup Shafa, aku nggak sanggup. Tolong jangan pisahkaan aku dengan anak kita." Imbuhnya dengan suara yang semakin parau.

__ADS_1


"Kamu boleh hukum aku apapun, kamu boleh pukul aku sepuas hati mu. Tapi aku mohon Shafa, aku mohon jangan tinggalkan aku!" Ujar nya lagi, memberanikan diri untuk menyentuh tangan istrinya tersebut.


Ini adalah kali pertama Rayyan menangis seperti ini. Ia seperti anak kecil yang di tinggal pergi oleh ibunya. Ibu dan Ayah pun tak kuasa menahan tangis melihat pertemuan mereka yang menyesakkan dada itu.


"Rayyan, Bangunlah Nak" Abah menghampiri mereka meminta Rayyan untuk berdiri.


"Shafa, ingat kata-kata abah semalam. Maafkan lah suami mu Nak, dia hanya laki-laki biasa yang juga punya khilaf." Ujar umi sambil mengelus bahu Shafa yang masih membatu dengan tatapan lurus ke depan.


"Rayyan tidak akan bangun sebelum Shafa memafkan Rayyan abah." Ujar Ray, yang masih berlutut di hadapan Shafa.


"Shafa, lihat suami mu Nak! Dia sungguh sungguh meminta maaf padamu. Berilah dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Bujuk abah.


Shafa memberanikan dirinya untuk menatap Rayyan yang tengah berlutut di hadapannya. Tatapan mereka saling bertemu. Wajah sendu yang selama ini dia rindukan kini ada di hadapannya.


"Maafkan aku Shafa" Cicit Rayyan. Terlihat jelas air matanya mengalir dari kelopak mata seorang yang dulu kerap menatap nya dengan tatapan dingin.


Shafa menatap Rayyan dengan bibir bergetar, Ia tidak mampu menyembunyikan perasaan yang membuncah di hati nya. Rayyan mencoba untuk bangkit dan tanpa aba-aba ia langsung memeluk istrinya. Tangisnya kembali tumpah saat ia merengkuh tubuh yang selama sebulan ini membuatnya makan tak enak dan tidur tak nyenyak. Perlahan-lahan Shafa membalas pelukan Rayyan dan sama-sama terisak dalam keharuan bercampur kerinduan.


"Jangan pergi lagi Nak. Kasihan suami mu. Kamu telah salah paham. Rayyan tidak pernaah menghianatimu, dia tidak pernah mendukan cinta mu Nak" Ujar ibu yang ikut terisak.


Abah dan Ummi pun ikut terharu menyaksikan pertemuan tersebut.


"Itu ayah nya dedek bayi di perut kak Shafa ya Bah?" Tanya Bilqis yang sejak tadi melongo menyaksikan adegan seperti di dalam sinema yang tayang di stasiun tv ber icon ikan terbang itu.


"Iya, Bilqis buatin mereka teh dulu gih" Perintah umi ada cucu nya tersebut.


"Alhamdulillah akhirnya kamu bertemu dengan istrimu Rayyan." Ujar abah, sambil menepuk nepuk bahu Rayyan yang masih enggan melepaskan pelukan nya.


"Sudah, pelukan nya nanti lagi. Sekarang kita duduk. Rayyan kamu perlu menjelaskan sesuatu pada istrimu agar ia tidak salah paham" Ujar ayah.

__ADS_1


Rayyan pun meleapskan pelukan nya dan menuntun Shafa untuk duduk di sebelah nya. Tanggan nya tidak terlepas, masih menggenggam erat tangan Shafa.


Shafa hanya menunduk, perasaan nya bercampur antara haru, sedih, bahagia dan masih ada rasa sakit.


"Pak Kyai, apa selama ini Shafa berada di sini?" Tanya ayah membuka percakapan setelah adegan dramatis tadi.


"Benar, Sebulan yang lalu Ummi bertemu dengan Shafa di sebuah masjid sepulang dari kontrol kesehatan. Ia nampak pucat dan sedang menangis sendirian. Katanya dia ingin pergi mencari ketenangan, akhirnya ummi membawa nya kemari" Ujar Abah.


Mendengar ucapan abah, rasa bersalah kembali menggelayuti hatinya. Ia mencium tangan Shafa yang di genggamnya sambil berulang kali meminta maaf.


"Terima kasih abah, telah menerima dan menjagaa Shafa selama ini" Ujar Rayyan penuh ketulusan. Ia bersyukur bahwa ternyata Sjafa berada di tempat yang aman bersama orang orang baik.


"Semua atas izin Allah Nak. Kalian perlu ingat tidak ada sesuatu pun yang terjadi di muka bumi ini melainkan atas izin Allah. Bahkan daun yang jatuh ke bumi pun semua atas izin Allah. Pertemuan kalian yang tidak di sengaja dulu, kemudian terpaksaa menikah dan terpisah lalu bertemu kembali juga atas izin Allah. Baik Desa jodoh maupun Abah dan umi, hanyalah perantara yang Allah kirim untuk mempertemukan kalian kembali. Tidak ada yang kebetulan, semua telah di gariskan oleh sang pemilik hidup. Oleh sebab itu jangan pernah lelah untuk meminta dan memohon di saat kalian dalam kebimbangan. Semoga setelah ini, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kalian kecuali maut yang sudah tentu akan menyapa setiap makhluk yang bernyawa." Ujar abah.


"Terima kasih abah"


"Sayang, kita pulang ke rumah ya? Tidak ada lagi tante Lilis dan Yola di rumah kita. Mas sudah tau semua niat busuk mereka. Sejak awal harus nya Mas dengar kata-kata kamu. Maafin mas Ya?" Rayyan menatap Shafa dalam. Shafa masih terdiam dan menunduk. Masih ada yaang mengganjal di dalam hati nya yang belum Rayyan jelaskan.


"Dan soal Nisa, Mas berani sumpah Demi Allah demi Rasululloh, Mas tidak pernah ada niat untuk menduakan Shafa. Hanya Shafa yang mas cintai, Shafa dan anak kita segalanya buat mas. Mas tidak butuh yang lain lagi" Ujar Ray. Shafa masih belum bersuara. Ia masih belum puas dengan ucapan Rayyan.


"Shafa tolong lihat Mas! Mas sangat merindukan kamu. Oh ya, soal Nisa yang kamu lihat waktu itu. Saat itu dalam keadaan darurat, Nisa bertengkar dengan Yola dan tante Lilis. Yola mendorongnya hingga pendarahan dan menyebabkaan ia kehilangan bayi nya. Aku dan ibu hanya membaantu dia tidak lebih." Terang nya lagi.


Inalillah...Nisa.


Mendengar penuturan Rayyan yang terakhir, Shafa langsung mengangkat kepalanya menatap Rayyan. Berusaha mencari kebohongan di matanya, namun yang ia lihat hanya tatapan sendu penuh dengan penyesalan.


_____________________


Huhuy... Akhirnya ketemu juga. Seneng dong Ya.

__ADS_1


Jangan Lupa Like, Vote and comen.


Next episode akan lebih seru ya... banyak kejutan di eps. selanjutnya.


__ADS_2