Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Firasat


__ADS_3

Setelah mendengarkan cerita ibu, hampir semalaman Shafa terus menginterogasi Rayyan perihal masa kecil mereka. Ia menuntut Rayyan untuk menceritakan semua hal yang berkenaan dengan masa kecilnya dan juga masa remajanya.


"Jadi Mas sudah ngincer aku sejak lama?" Todongnya lagi. Setelah berhasil di jinakkan oleh Rayyan.


"Hmmmm" Jawabnya singkat sambil menutupkan selimut pada tubuh polos istrinya. Ia harus mengiyakan semua pertanyaan Shafa agar dia tidak terus mengejarnya dengan pertanyaan baru. Meski pada kenyataannya, ia sama sekali tidak tertarik pada Shafa yang kala itu masih menjadi selebgram.


"Terus kenapa bilang aku jelek?" Tanyanya lagi masih tak puas.


"Karena cantiknya Shafa hanya untuk mas. Saat itu Shafa jelek karena bukan mas yang menikmati kecantikan Shafa" Jawabnya sambil mendekap istrinya yang tidak berhenti mengoceh.


"Tapi mas suka kan waktu itu?"


"Iya sayang..iya. Sudah tidur! Sudah malam, bukannya besok ada makan siang bersama Bundanya Hafiz?"


"Oh iya benar! Tapi mas beneran suka kan?" Lagi-lagi mengulang pertanyaan yang sama.


"Hmmm"


Dan malam itupun berlalu dengan semestinya. Rayyan berhasil menaklukan Shafa sebelum ia mengancam atau ngambek sampai mogok bicara.


***


"Apa semua sudah beres Alice?" Tanya Jeffri yang tengah terengah-engah. Ia saat ini berada di atap gedung pencakar langit bersama Alice. Ia baru saja mendapatkan apa yang selama dua minggu ini di carinya.


"On prosess Jeff!" Jawabnya. Pandangannya tak teralihakan dari sebuah benda kecil yang sedang di coloknya di sebuah ponsel miliknya.


"Cepat! Posisi kita belum sepenuhnya aman" Ujar Jeffri dengan perasaan was-was.


"Done!" Alice segera mengirim salinan data dari dalam ponselnya. Kemudian menginjak benda kecil itu hingga hancur menjadi sepihan kecil.


"Lapor! Misi telah usai" Ujarnya sambil menekan earphone yang terpasang di telinganya.


"Yeah!!!" Alice berteriak senang dan langsung memeluk Jeffri. Ia berfikir ini akan menjadi akhir dari hidup mereka, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.


"Lets back Jeff... Libur panjang menanti kita" Ujarnya sambil menepuk punggung Jeffri.


Setelah menyelesaikan misinya, Jeffri dan Alice kembali ke markas rahasia mereka. Sebuah apartemen mewah di tengah kota dengan keamanan terjaga yang khusus di sewa untuk tim mereka. Begitu Jeffri dan Alice datang, mereka segera di sambut oleh 3 orang rekan mereka, Eric, Alex dan Bobby. Mereka semua adalah orang-orang pilihan yang memiliki keahlian masing-masing. Di antara mereka berlima, Jeffri dan Allice adalah yang memiliki kemampuan di segala bidang, mulai dari IT, bela diri, penembak jitu sampai kemampuan akting yang memukau dalam melakukan penyamaran. Mereka berdua lincah, cerdik dan lihai dalam mengecoh musuh. Itu sebabnya mereka selalu berada di depan untuk langsung turun ke lapangan. Sedangkan 3 lainnya adah teknisi dan hacker handal.


Setelah membersihkan diri, Jeffri menghubungi istrinya untuk menyampaikan kabar bahagia perihal kepulangannya setelah hampir dua minggu menjalankan tugas negara. Ia tak sabar untuk segera kembali ke tanah air, terlebih saat Aini mengatakan bahwa Mommy dan Daddy Shafa menunggunya. Ada secercah harapan bahwa keinginan terbesar dalam hidupnya selama ini akan segera terwujud.


Jeffri dan tim nya kembali ke tanah air dengan menggunakan pesawat berbeda. Jeffri dan Alice menaiki pesawat penumpang penerbangan siang siang itu. Saat memasuki bandara ia merasa ada sesuatu yang aneh. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ia menoleh ke kiri dan kenan seperti merasaka hawa dingin yang menyeruak ke dalam indra perabanya.


"Jeff, Are you ok?" Alice menepuk bahunya, melihat rekannya tersebut seperti tengah siaga.

__ADS_1


"Ah ya..." Ia melanjutkan lagi langkahnya menuju tempat chek ini. Setelah melakukaan chek in, ia menyempatkan diri untuk menghubungi Aini.


"Hallo, Assalamualikum sayang!" Sapanya pada sang istri yang saat ini masih berada di sekolah.


"Waalaikum salam mas, apa mas sudah mau pulang?" Tanyanya. Terdengar suara Fanny yang menanyakan apakah itu panggilan dari Jeffri.


"Iya. Aku sudah berada di bandara. Apa kamu sedang bersama ibu Fanny?" Tanyanya.


"Iya mas, setelah ini aku akan berkunjung ke rumah Shafa, beliau mengajak makan siang bersama" Jawab Aini sambil melirik sekilas pada Fanny yang tengah tersenyum kepadanya.


"Baiklah, sampaikan salamku pada ibu, pak Harsha juga Shafa. Aku tutup ya? Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


"Apa katanya Aini? Kapan Jeffri pulang?" Tanya mommy dengan raut bahagia.


"Mas Jeff, sedang berada di bandara bu. Mungkin dua jam lagi sudah sampai" Terang Aini.


"Alhamdulillah"


Sudah saatnya kamu mendapatkan apa yang harusnya kamu dapatkan selama ini Jeff!


Pesawat penumpang yang di kendarai Jeffri mendarat dengan mulus di pacuan terbang Soekarno Hatta. Ia segera turun sambil menenteng tas laptop miliknya. Di sebelahnya Alice yang berpakaian layaknya bocah ABG justru tengah sibuk berselfi ria. Selalu ada rasa puas dan bahagia tersendiri setiap kali mereka berhasil menyelesaikan misi mereka. Biasanya, setelah misi berat usai mereka akan beristirahat selama beberapa bulan untuk merefresh kembali tenaga dan fikiran mereka yang terkuras selama masa tugas. Terlihat mudah dan menyenangkan tapi sesungguhnya tugas merekalah yang cukup berat. Karena kematian bisa menyapanya setiap saat. Jeffri bahkan pernah merasakan menjadi sandra ketika sedang menyelidiki perdagangan senjata api ilegal yang dilakukan oleh mafia kelas kakap.


"Hey?!"


"Sorry sir" Ucap seseorang yang tak sengaja menabrak Jeffri dari depan.


"Ga papa Jeff?" Tanya Alice sambil membantunya berdiri.


Deg!


"Ya Tuhan!!!" Jeffri segera berbalik sedikit mendorong Alice ke arah samping.


DORRR...!!!!


PRANG...!!!!


Gelas dalam genggaman Momny Shafa terjatuh. Ia megang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Mommy!" Daddy segera menghampiri Mommy yang terlihat terengah-engah.


"Astagfirullahaladzim" Lirihnya. Tak henti-hentinya ia beristigfar sambil memegang dadanya. Tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.

__ADS_1


"Mommy jantungan?" Tanya Shafa yang juga terlihat panik. Sementara Rayyan membantu menyingkirkan serpihan gelas yang berhamburan di lantai


"Tiba-tiba perasaan mommy nggak enak" Ujarnya setelah duduk di sofa sebelah Shafa.


"Ini, di minum dulu bu" Aini yang masih berada di situ menyodorkan gelas berisi air putih yang segera di teguk oleh Mommy.


"Istigfar mom... Istigfar!!!" Daddy mengelus-elus punggung mommy agar tenang.


"Mommy jangan ngagetin dong. Kalau aku kaget terus mbrojol gimana?" Sahut Shafa sambi menggenggam tangan mommynya yang terasa dingin.


"Baguslah biar mommy nggak lama-lama nungguinnya" Sahut Mommy.


"Jadi Mommy nggak seneng nungguin Shafa? Kalau gitu Shafa nggak mau buatin cucu lagi" Balas Shafa ketus.


"Mommy nggak minta sama kamu kok, mommy mintanya sama mantu mommy. Iya kan Ray?. Kamu udah janji lo mau buatin mommy cucu banyak" Ujar mommy sambil menoleh kepada Rayyan. Rayyan hanya meringis mendengar ucapan mertuanya.


Suasana di rumah itu sudah kembali menghangat meski masih terdapat rasa mengganjal di hati Mommy Shafa.


"Bunda... bunda... Ada telpon" Hafiz yang sedang bermain di bersama Zafran menghampiri Aini karena handphonenya berdering.


"Hallo Assalamualaikum" Sapanya. Seketika raut wajah yang tadinya tenang berubah menjadi tegang dan memerah.


"Innalillah" Lirihnya ia menjatuhkaan ponselnya kepangkuannya kemudian menutup mulutnya agar taangisnya tak pecah. Melihat hal itu Mommy langsung mendekatinya.


"Ada apa Aini?" Tanyanya sambil menggoyangkan bahunya. Dilihatnya panggilan di telpon masih aktif. Segera ia mengambil dan menekan tombol loudspeker.


"Hallo..."


"Iya halo, segera ke rumah sakit bu. Saya Khawatir pak Jeffri tidak tertolong!" Ujar pria dalam telfon.


"Jefffriiiii...... Bangun Jefff banguuun!!!" Terdengar suara Alice berteriak di dalam telfon.


Daddy segera menyambar ponsel tersebut. Semua yang ada di rumah Shafa bengong tak percaya dengan kabar yang baru saja di dengarnya. Mommy terlihat sangat syok hingga tak mengeluarkan suara apapun. Hanya matanya yang terus mengeluarkan buliran buliran bening.


"Apa yang terjadi pak?" Tanya daddy yang tak kalah gusar.


"Pak Jeffri tertembak tepat di bagian dadanya saat turun dari bandara. Sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kondisinya sangat kritis!" Ujar orang dalam panggilan tersebut.


Ya Allah Jeffri!!!


"Kita ke rumah sakit sekarang Mom!" Daddy langsung menarik mommy keluar dari rumah tanpa menghiraukan orang yang ada di situ. Saat ini yang ada di fikiriannya hanya Jeffri. Ia meninggalkan Shafa yang sedang terdiam dalam kebengongannya juga Aini yang masih menangis tergugu.


Kak Jeff, apa ini maksud dari ucapan kak Jeff waktu itu?

__ADS_1


__ADS_2